Mampukah Rezim Zionis Meminggirkan Isu Palestina dengan perang Gaza?
-
Warga Palestina
Parstoday- Sebuah media Inggris dalam sebuah analisanya memprediksikan kondisi Gaza setelah berakhirnya perang, dan melaporkan bahwa sejarah menunjukkan muqawama tidak pernah musnah.
Media Inggris Middle East Eye dalam analisanya menulis: Perang Gaza pada akhirnya akan berakhir, seperti semua perang, tetapi konsekuensinya akan tak tertandingi baik dalam sifat maupun skalanya. Terlepas dari apakah gencatan senjata sudah dekat atau berapa lama perang akan berlanjut, garis besar keseluruhan jalan untuk mengakhiri perang mulai terbentuk, dan gambaran masa depan Gaza menjadi semakin jelas dari hari ke hari.
Menurut laporan Parstoday, sebagian besar wilayah Gaza hancur dan menjadi wilayah yang tidak dapat dihuni. Puluhan ribu warga Palestina gugur dan beberapa kali lipat dari jumlah tersebut juga luka-luka. Warga Gaza tinggal di reruntuhan rumah mereka, berjuang melawan kedinginan dan kelaparan. Memperpanjang perang ini niscaya akan memperburuk penderitaan mereka, tetapi tidak akan membawa banyak perubahan pada hasil perang.
Menurut media Inggris ini, bahkan jika rezim Zionis menghancurkan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dan Gaza, rezim ini tetap tidak dapat menghapus isu Palestina dari perimbangan, yang merupakan kekuatan pendorong yang kuat dalam lanskap politik Asia Barat.
Dalam laporan ini disebutkan: "Perang ini telah menunjukkan bahwa cita-cita Palestina tidak dapat diabaikan melalui langkah-langkah keamanan atau bahkan normalisasi hubungan Arab-Israel. Mantan Ketua Otoritas Palestina Yasser Arafat mengatakan bahwa tidak akan ada keamanan atau perdamaian jika Palestina tidak mendapatkan hak-hak nasional mereka. Kondisi yang sama berlaku saat ini."
Berdasarkan laporan Middle East Eye, rezim Zionis selain menyerang pasukan dan posisi Hamas sejak awal perang, juga berusaha mengusir warga Palestina dari Jalur Gaza, tapi gagal meraih tujuannya tersebut.
"Israel telah berupaya menghancurkan semua bentuk kehidupan di Gaza dengan menyerang rumah sakit, sekolah, universitas, rumah, jaringan air, tenaga medis, dan jurnalis, namun hingga hari ini, rakyat Palestina masih tetap berada di daerah ini," tambah Middle East Eye.
Media Inggris menganggap hal ini sebagai "kekalahan strategis, moral, dan ideologis" bagi Zionis dan menekankan bahwa sayap kanan dalam rezim pendudukan telah gagal mengubah Gaza menjadi tanah tanpa bangsa dengan proyek-proyek Zionisnya. Menerapkan kebijakan seperti itu di Tepi Barat juga pasti akan gagal.
Artikel tersebut menyatakan: "Kegagalan rencana Israel untuk mengusir warga Palestina dari Gaza, meskipun harus membayar harga yang mahal, menunjukkan bahwa Israel tidak dapat lagi melawan realitas isu Palestina dari perspektif politik."
Menurut laporan tersebut, warga Palestina yang terluka akibat perang Gaza akan menawarkan perlawanan bentuk baru, karena sejarah telah menunjukkan bahwa meskipun semua jalan tampak tertutup, warga Palestina masih menemukan jalan ke depan.
Saat ini, ketika hampir semua pintu tampak tertutup, warga Palestina akan menemukan jalan baru dan inovatif yang akan berfokus pada kegigihan dan kelangsungan hidup di tanah Palestina. Ini adalah pendekatan komprehensif yang mencakup berbagai alat perlawanan dan akan menyelaraskan tekad Palestina.
Menurut Middle East Eye, ketika debu perang mereda, kita akan menyaksikan perubahan dalam opini publik di Eropa dan Amerika. Tidak ada upaya untuk menggambarkan rezim Zionis sebagai rezim yang tidak bersalah dan demokratis akan berhasil, karena dimensi genosida ini begitu luas sehingga bahkan para pendukung rezim tersebut akan membawa stigma dukungan ini bersama mereka.
Meskipun rezim Zionis tidak menganggap penting opini publik dan hanya peduli dengan mempertahankan dukungan Amerika, Washington terpaksa memperhatikan opini publik di seluruh dunia, setidaknya di permukaan, agar tidak kehilangan pengaruhnya. Oleh karena itu, Amerika Serikat akan menanggapi reaksi global dengan serius, setidaknya untuk menjaga kepentingan strategisnya. (MF)