Hizbullah Patahkan Tekanan Israel, Iran Ubah Peta Kekuatan
-
Pasukan Hizbullah Lebanon
Pars Today - Surat kabar Al Akhbar melaporkan bahwa meskipun rezim Israel berupaya, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, untuk memaksakan kondisi lapangan dan politik baru di Lebanon, Hizbullah justru meningkatkan intensitas serangannya dan berhasil menetralkan tekanan Tel Aviv.
Melansir Pars Today dari IRNA, 2 Juni 2026, Al Akhbar menyoroti perkembangan terbaru di front Lebanon: Pada hari Senin ((1/6), rezim Israel, dengan dukungan dan koordinasi penuh AS, mengancam akan memperluas serangan ke kawasan Dahiya, Beirut Selatan. Tujuannya adalah memaksakan kondisi baru di Lebanon demi melindungi permukiman Zionis di wilayah utara Palestina yang diduduki.
Sebagai respons, Hizbullah melancarkan 35 operasi militer beragam dalam waktu singkat untuk membalas ancaman tersebut. Dalam rangkaian operasi itu, sebagai balasan atas serangan terus-menerus rezim Zionis ke Lebanon Selatan (khususnya wilayah Sur dan Nabatiyeh), Hizbullah menargetkan permukiman Zionis di sepanjang perbatasan utara Palestina yang diduduki hingga ke wilayah yang lebih dalam.
Di tengah eskalasi ini, Republik Islam Iran turun tangan dengan tegas melalui jalur politik dan militer, merumuskan persamaan kekuatan yang baru. Inti dari persamaan baru ini adalah: Tehran tidak akan terlibat langsung dalam pertempuran atau menargetkan wilayah utara Palestina yang diduduki, sebagai syarat agar rezim Zionis menghentikan serangan agresifnya ke Beirut dan kawasan Dahiya.
Secara bersamaan, kekuatan perlawanan Lebanon terus melancarkan operasi balasan terhadap permukiman Zionis di utara Palestina yang diduduki, sebagai respons langsung atas serangan Israel ke Lebanon Selatan.
Sementara itu, surat kabar Zionis Maariv menilai keputusan militer Israel untuk memperluas operasi darat di Lebanon Selatan guna menghadapi serangan drone Hizbullah yang efektif adalah langkah yang sia-sia. Media tersebut menulis bahwa operasi darat ini tidak hanya gagal menciptakan perubahan strategis di lapangan, tetapi justru menempatkan tentara Israel dalam posisi yang semakin rentan terhadap serangan.
Sebelumnya, Barak Sari, penasihat strategis rezim Zionis, bahkan mengakui bahwa rezim tersebut telah terperosok jauh ke dalam "rawa-rawa" Lebanon.
Laporan ini menyoroti bagaimana tekanan eksternal (Iran) dan ketahanan internal (Hizbullah) bekerja simultan untuk membatalkan agenda militer lawan.(Sail)