Suriah, Ajang Konfrontasi AS dengan Rusia
Krisis Suriah telah berubah menjadi ajang konfrontasi kekuatan-kekuatan Barat dengan Rusia, di mana korban utama dari konflik ini adalah rakyat Suriah.
Perkembangan terbaru di Suriah menunjukkan bahwa pemerintah Presiden Bashar al-Assad sudah pulih dari kondisi lemah dan sekarang menikmati kondisi baik dalam transformasi itu.
Kota Aleppo di barat laut Suriah adalah medan utama pertempuran militer dan pasukan rakyat Suriah melawan teroris. Militer Suriah menikmati dukungan dari pejuang Hizbullah Lebanon, pasukan Angkatan Udara Rusia, dan para penasihat militer Republik Islam Iran.
Kekuatan-kekuatan Barat terutama Amerika Serikat dan Inggris telah mengerahkan para teroris ke Suriah dengan dukungan negara-negara Arab dan Turki. Namun, mereka sekarang memandang situasi di Suriah dan kondisi para teroris tidak sejalan dengan kepentingan dan strateginya. Oleh karena itu, Barat melancarkan perang verbal politik secara kasar terhadap pemerintah Rusia.
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dalam sidang darurat untuk membahas situasi di Aleppo di Majelis Rendah pada hari Selasa (11/10/2016), menyerukan agar Rusia diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dengan alasan terlibat kejahatan perang dan meminta para aktivis melakukan aksi protes di depan Kedutaan Besar Rusia di London.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby dalam sebuah konferensi pers kembali menuding Rusia melanggar gencatan senjata pada September lalu di Suriah, dan mengatakan bahwa dengan alasan ini Washington memutuskan kerjasama kolektif dengan Moskow.
Dalam sebuah komentar yang mengejutkan, Kirby mengatakan bahwa ada perbedaan penting antara serangan Arab Saudi di Yaman dan intervensi Rusia di Suriah. Saudi terlibat perang di Yaman untuk membela kota-kota dan warganya.
Padahal Arab Saudi memasuki perang ilegal di Yaman dan melakukan kejahatan perang, sementara Rusia terlibat perang dengan teroris atas undangan resmi pemerintah Suriah. Anehnya AS menganggap tindakan Riyadh sah, sementara aksi Rusia disebut ilegal.
Barat juga mulai mengintensifkan perang propaganda dan diplomatik terhadap Rusia. Alasan utama serangan verbal ini mungkin karena kekuatan-kekuatan Barat terutama AS tidak memiliki Plan B untuk krisis Suriah. Mereka hanya fokus untuk menggulingkan Assad dari kekuasaan dengan mengandalkan para teroris. Namun, Barat belum mencapai tujuannya setelah hampir enam tahun mengerahkan semua sarananya.
Saat ini perimbangan kekuatan di wilayah Suriah sendiri sedang berpihak pada pemerintah Damaskus, sementara oposisi bersenjata dan teroris semakin terjepit. Perimbangan kekuatan di tengah para aktor asing juga mulai menguntungkan poros Rusia, Republik Islam Iran, dan Hizbullah Lebanon. (RM)