Ribuan Pemberontak Bersenjata Suriah Letakkan Senjata
Pusat pengawasan rekonsiliasi nasional di Suriah mengabarkan bergabungnya lebih dari 3000 anasir bersenjata ke dalam program rekonsiliasi nasional di negara itu.
IRNA (7/12) melaporkan, Alexei Malashenko, Juru Bicara Pusat Rusia untuk Pengawasan Rekonsiliasi di Suriah, Rabu (7/12) menekankan berlanjutnya negosiasi terkait bergabungnya pemberontak bersenjata dalam program rekonsiliasi di negara itu.
Malshenko mengatakan, dalam 24 jam lalu, lebih dari 3000 pemberontak bersenjata di sekitar Damaskus, ibukota Suriah meletakkan senjata mereka dan secara sukarela bergabung dengan program rekonsiliasi nasional.
Ia menambahkan, ribuan pemberontak bersenjata itu bersama keluarga mereka rencananya akan dipindahkan ke Provinsi Idlib melalui jalur aman di kota Khan Al Syeikh, sekitar Damaskus.
Menurut Alexei Malashenko, lebih dari 500 pucuk senjata dan puluhan mortir milik para pemberontak bersenjata itu, diserahkan kepada pusat pengawasan rekonsiliasi Suriah.
Alaa Monir Ibrahim, Gubernur Rif, Damaskus terkait hal ini menuturkan, negosiasi terkait bergabungnya wilayah Wadi Bardi, Harasta dan Douma di Rif, Damaskus, dalam program rekonsiliasi nasional, masih terus berlangsung.
Gubernur Rif menambahkan, hingga kini 80 persen wilayah-wilayah di provinsi ini sudah bergabung dengan program rekonsiliasi nasional.
Militer Suriah dalam beberapa hari terakhir meraih sejumlah kemenangan besar termasuk berhasil membebaskan kota Al Tall dan distrik Al Mida'ani di sekitas Damaskus serta beberapa wilayah di pinggiran Timur Aleppo.
Krisis Suriah pecah tahun 2011 akibat serangan luas kelompok-kelompok teroris dukungan Arab Saudi, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya guna menumbangkan pemerintahan sah Bashar Al Assad. (HS)