Pembebasan Barat Mosul, Fase Kritis Perang Irak Lawan Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i33216-pembebasan_barat_mosul_fase_kritis_perang_irak_lawan_daesh
Atas perintah Haider Al Abadi, Perdana Menteri Irak, operasi pembebasan bagian Barat kota Mosul dimulai pada 19 Februari 2017.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 20, 2017 15:29 Asia/Jakarta

Atas perintah Haider Al Abadi, Perdana Menteri Irak, operasi pembebasan bagian Barat kota Mosul dimulai pada 19 Februari 2017.

Haider Al Abadi yang juga Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Irak, saat mengeluarkan perintah pembebasan wilayah Barat Mosul, menyebut operasi tersebut sebagai tahap akhir pembebasan Irak dari pendudukan teroris dan mengatakan, pemenuhan kebutuhan pengungsi dengan memperhatikan perlakuan yang manusiawi, adalah prioritas.

Operasi pembebasan Mosul dari pendudukan kelompok teroris Daesh dimulai 17 Oktober 2016. Pada tahap awal operasi, pembebasan bagian Timur kota Mosul menjadi prioritas dan bagian yang mendominasi dua pertiga wilayah Mosul ini berhasil dibebaskan total oleh pasukan pemerintah Irak dari tangan Daesh pada 24 Januari 2017.

Terkait pembebasan wilayah Barat kota Mosul, simak pernyataan Haider Al Abadi, PM Irak berikut ini:

"Irak memasuki fase kemajuan dalam pembebasan kota Mosul. Operasi yang kita lakukan akan berjalan seperti ini, di saat operasi pembebasan berlangsung, masyarakat diharapkan tidak meninggalkan rumah-rumah mereka. Bantuan-bantuan masyarakat membuat kami berhasil memadamkan kebakaran di sejumlah wilayah operasi.

Para teroris berusaha merusak situasi sehingga bisa menghambat kemajuan aparat keamanan. Sungguh disayangkan sebagian pihak di Irak memberikan informasi kepada anasir-anasir teroris Daesh. Mereka melakukan itu karena dibayar atau memang sedang tertidur. Hal yang mengejutkan bahwa sejumlah politisi Irak menyampaikan statemennya berdasarkan sikap Daesh.

Saya mengimbau seluruh rakyat Irak untuk waspada dan berhati-hati atas upaya Daesh mengacaukan situasi di dalam negeri dan menciptakan kerusuhan. Kami membutuhkan bantuan dunia internasional dalam memerangi terorisme. Saya juga mengimbau para politisi dan aktivis media untuk membantu mencegah para teroris mencapai tujuannya.

Langkah Turki yang menciptakan ketegangan dibahas di sidang kabinet dan kebijakan Ankara ini sungguh disesalkan. Kami tidak akan membiarkan wilayah Irak diduduki dan kami katakan kepada pejabat Turki, mereka akan menghadapi banyak kesulitan di Irak.

Kepada pemerintah Turki saya katakan, jangan mencoba melemahkan kemuliaan rakyat Irak. Kami sangat gembira menyaksikan masyarakat bisa kembali ke wilayah-wilayah mereka. Dunia sekarang menyadari bahaya terorisme dan peran Irak dalam memerangi terorisme, dan Baghdad terus melanjutkan perang melawan terorisme meski tengah mengalami krisis keuangan.

Sekalipun kami menekankan hidup rukun berdampingan di tengah masyarakat, namun para teroris Daesh tetap harus dihukum karena kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan."

Pembebasan bagian Barat kota Mosul yang dimulai 19 Februari lalu dipercaya oleh banyak kalangan akan lebih sulit ketimbang pembebasan bagian Timur kota itu, pasalnya sejumlah besar anasir teroris melarikan diri ke bagian Barat Mosul ketika bagian Timur kota dibebaskan militer Irak. Oleh karena itu pasukan gabungan Irak dalam fase ini jumlahnya harus lebih banyak dari para teroris.

Sementara itu banyak anasir teroris di Barat Mosul yang dipakai untuk keperluan propaganda media anti-Irak dan perang psikologis melawan pasukan gabungan terutama Al Hashd Al Shaabi, karena media-media itu menganggap anasir-anasir teroris sebagai warga Mosul. Berangkat dari hal ini, Haider Al Abadi, PM Irak dalam perintah dimulainya operasi pembebasan bagian Barat Mosul, menekankan urgensi perhatian pada para pengungsi.

Dalam konferensi keamanan Munich, Al Abadi memuji peran efektif Al Hashd Al Shaabi (pasukan sukarelawan rakyat Irak) dalam operasi pembebasan Mosul dan menekankan upaya menjaga keselamatan warga sipil dalam operasi tersebut. Al Abadi menyebut operasi pembebasan Mosul sebagai model sebuah pertempuran bersih yang di dalamnya keselamatan nyawa manusia lebih utama dari pembebasan lokasi. Statemen PM Irak ini dapat dibaca sebagai langkah preventif untuk menghadapi perang psikologis media-media anti-Irak.

Posisi bagian Barat Mosul dari sisi militer juga menjadi alasan lain yang lebih penting dan menentukan besarnya tingkat kesulitan operasi pembebasan kali ini. Keberadaan pangkalan pelatihan militer Ghazlani dan bandara Mosul di bagian Barat kota menyebabkan tahap operasi kali ini juga menjadi lebih pelik. Pangkalan militer strategis Ghazlani berada dalam pendudukan kelompok teroris Daesh.

Pasukan gabungan Irak, jika berhasil membebaskan pangkalan militer ini, bisa memukul mundur para teroris dan memaksa mereka bertahan. Akan tetapi perebutan kontrol bandara Mosul juga merupakan salah satu target penting operasi kali ini. Dengan dikuasainya bandara Mosul oleh pasukan pemerintah Irak, jet-jet tempur militer negara itu dapat diterbangkan dari bandara tersebut dan mempermudah pengiriman personil militer Irak ke wilayah-wilayah lain termasuk bagian Timur dan Barat Mosul. Lebih dari itu, pembebasan bagian Barat Mosul dapat menjadi penentu berakhirnya umur teroris Daesh di Irak. (HS)