Kebingungan Politik AS Soal Krisis Suriah
-
Trump
Beberapa hari berlalu pasca serangan rudal Amerika Serikat ke pangkalan udara Suriah, berbagai suara dan reaksi yang berbeda terdengar dari Washington.
Purnawirawan jenderal H.R. McMaster, penasehat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, sehari pasca pernyataan menlu negara ini dalam wawancaranya dengan Foxnews soal prioritas Washington di Suriah mengatakan, Amerika Serikat sedang berusaha mengubah rezim Suriah.
Padahal sebelumnya, Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam wawancaranya dengan televisi CBS menegaskan bahwa prioritas utama Washington adalah penumpasan Daesh dan setelah itu nasib politik Suriah harus ditentukan.
Namun pernyataan para pejabat tinggi Amerika Serikat ini juga bertentangan dengan pandangan Duta Besar Amerika untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Nikki Haley ketika diwawancarai CNN mengatakan, selama Bashar Assad, Presiden Suriah tetap berkuasa, krisis politik di negara ini tidak akan memiliki peluang solusi politik.
Pernyataan kontradiktif menlu, penasehat keamanan nasional dan Dubes AS di Perserikatan Bangsa-Bangsa soal Suriah ini, yang masing-masing dilontarkan hanya berselang beberapa jam, menunjukkan betapa parahnya kerancuan proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat terkait krisis internasional.
Pernyataan Tillerson beberapa hari lalu mengindikasikan bahwa struktur diplomatik Amerika Serikat, atau paling tidak kerangka analisis kementerian ini soal pengambilan keputusan agresif dan tanpa mempertimbangkan dampaknya dalam sebuah krisis yang sangat pelik di Suriah, sangat mengkhawatirkan.
Kekhawatiran tersebut terdengar dari panggung diplomasi Amerika Serikat. Wawancara dengan CBS, Tillerson mengatakan bahwa Washinton harus mengambil pelajaran dari krisis di Libya. Ditekankannya bahwa penggulingan secara kasar Muammar Gaddafi oleh negara-negara Barat telah menyeret negara tersebut ke gelombang instabilitas berkelanjutan.
Menlu AS secara implisit memperingatkan kepada kelompok pro perubahan rezim di Suriah untuk tidak mengulang tragedi keamanan Libya di Suriah.
Tampaknya kubu pro perang di Amerika Serikat yang dipimpin oleh tiga purnawirawan jenderal anggota kabinet yaitu menteri pertahanan James Mattis, menteri keamanan nasional John Clay dan H.R. McMaster penasehat keamanan nasional, saat ini memang sedang berkuasa.
Kelompok ini sedemikian berpengaruh di Gedung Putih sehingga mampu memaksa orang yang beberapa bulan lalu menilai Bashar al-Assad sebagai tokoh yang sukses dalam pemberantasan Daesh, akhirnya mengeluarkan perintah serangan ke Suriah itu pun tanpa bukti yang jelas bahwa pemerintahan Damaskus terlibat dalam pemboman kimia di Khan Syeikhun.
Kebingungan antara para pejabat tinggi AS itu tidak hanya terjadi di Gedung Putih dan kabinet pemerintahan Trump saja, karena kondisi yang sama juga sedang terjadi di Kongres. Sebagian anggota parlemen mendukung serangan rudal ke Suriah dan bahkan menuntut perubahan rezim Suriah, dan sebagian lain mengecam serangan ke Suriah tanpa ijin Kongres.(MZ)