Ekspansi Israel dan Kebungkaman Masyarakat Internasional
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i35856-ekspansi_israel_dan_kebungkaman_masyarakat_internasional
Departemen Luar Negeri Palestina mengkritik kebungkaman masyarakat internasional atas ketidakpedulian mereka terhadap pengamanan ketat di Baitul Maqdis dan perbatasan Jalur Gaza oleh rezim Zionis Israel dengan berbagai dalih termasuk dengan alasan datangnya hari raya Yahudi. Menurut Deplu Palestina, Baitul Maqdis telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 11, 2017 10:34 Asia/Jakarta
  • Ekspansi Israel dan Kebungkaman Masyarakat Internasional

Departemen Luar Negeri Palestina mengkritik kebungkaman masyarakat internasional atas ketidakpedulian mereka terhadap pengamanan ketat di Baitul Maqdis dan perbatasan Jalur Gaza oleh rezim Zionis Israel dengan berbagai dalih termasuk dengan alasan datangnya hari raya Yahudi. Menurut Deplu Palestina, Baitul Maqdis telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer.

Deplu Palestina dalam pernyataan pada Senin malam, 10 April 2017 menyebutkan, warga Palestina saat ini menjadi target tindakan permusuhan aparat keamanan rezim Zionis dan menjadi korban langkah-langkah provokatif mereka.

 

Perayaan hari raya Yahudi menjadi dalih Israel untuk meningkatkan gerakan di berbagai wilayah Palestina termasuk di al-Quds, di mana akhir-akhir ini kita menyaksikan peningkatan kebijakan hegemonik dan gangguan rezim Zionis di berbagai wiayah Palestina terutama di a-Quds. Sementara itu, masyarakat internasional hanya bungkam menyaksikan fenomena ini.

 

Di hari raya Yahudi, Israel tidak mengizinkan umat Islam untuk masuk ke Masjid al-Aqsa. Secara keseluruhan, sekitar 200 hari dalam setahun, orang-orang Yahudi dengan berbagai alasan melarang umat Islam masuk ke Masjid al-Aqsa.

 

Dari sisi tempat, Zionis juga mengklaim bahwa tempat-tempat beratap, tempat-tempat suci umat Islam dan ruang-ruang yang tak beratap dianggap sebagai tempat-tempat suci Yahudi.

 

Berlanjutnya penyerbuan dan agresi rezim Zionis terhadap Masjid a-Aqsa tidak hanya melanggar hukum dan peraturan internasional, namun juga melanggar perjanjian rezim penjajah tersebut dengan negara-negara Arab.

 

Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani antara Israel dan Yordania pada tahun 1994 disepakati bahwa ibadah orang-orang Zionis di pekarangan Masjid al-Aqsa dilarang.

 

Secara global, program dan tindakan anti-Masjid al-Aqsa oleh Israel seperti pembagian tempat dan waktu di tempat suci ini dilakukan dalam konteks langkah yang mengerikan rezim Zionis untuk memperluas hegemoninya di kawasan.  

 

Tujuan rezim Zionis adalah membagi Masjid a-Aqsa dari sisi tempat dan waktu sehingga pada akhirnya tempat suci ini terlepas dari tangan umat Islam. Menarik bahwa eskalasi ekspansionisme rezim Zionis dilakukan ketika dalam beberapa tahun terakhir ini rezim tersebut dan pendukungnya berusaha dengan berbagai cara untuk mengalihkan opini publik dari resiko kebijakan ekspansionismenya.

 

Salah satu caranya adalah rezim Zionis memanfaatkan situasi ketika opini publik sedang terfokus pada peningkatan gerakan teroris Takfiri di Irak dan Suriah. Konsidi ini  dimanfaatkan Israel untuk meningkatkan ekpansinya di Palestina. Hal ini semakin jelas bahwa kawasan Timur Tengah sedang dalam bahaya serius yang ditimbulkan oleh Zionis dan Takfiri.

 

Rezim Zionis juga memanfaatkan kondisi di Timur Tengah untuk memajukan kebijakannya guna menguasai penuh Baitul Maqdis. Gerakan Israel terkait dengan al-Quds dalam beberapa tahun terakhir jauh lebih agresif dari pada sebelumnya.

 

Di kabinet rezim Zionis sendiri juga terlihat upaya maksimal untuk menggunakan kapasitasnya guna menguasai penuh al-Quds. Penekanan para pejabat Tel Aviv bahwa Baitul Maqdis merupakan bagian tak terpisahkan dari tanah jajahan Israel merupakan mukadimah untuk tindakan politik dan konspirasi lebih terhadap Masjid al-Aqsa. Dalam kondisi ini, kewaspadaan masyarakat internasional atas konspirasi berbahaya rezim Zionis terhadap al-Quds dituntut lebih dari sebelumnya.

 

Program dan langkah rezim Zionis untuk memperkuat penjajahannya guna mengontrol penuh al-Quds bertentangan dengan Resolusi 478 Dewan Keamanan PBB. Resolusi ini dengan jelas menuntut dunia untuk tidak mengakui segala bentuk langkah Israel untuk melanjutkan penjajahan dan agresinya serta aneksasi al-Quds dan segala bentuk intervensi dalam urusan dalam al-Quds. Masyarakat internasional juga dituntut untuk menentang langkah Israel tersebut.

 

Namun kelambanan masyarakat internasional dalam merespon tindakan ilegal rezim Zionis telah membuat rezim palsu ini semakin berani dan lebih nyaman untuk memajukan perilaku berbahayanya, sehingga menuai protes dari Palestina. (RA)