Belajar Menjaga Puasa di Bulan Ramadhan 5
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i38612-belajar_menjaga_puasa_di_bulan_ramadhan_5
Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa untuk melakukan sair dan suluk kepada Allah. Tapi untuk melakukannya manusia perlu untuk meraih keutamaan dan membuang keburukan. Imam Sajjad as menyebutkan beragam keburukan dalam doa ke-8 dalam Shahifah Sajjadiah dengan tema Mu'awwidzaat, segala sesuatu yang harus kita minta perlindungan Allah darinya.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
May 31, 2017 15:38 Asia/Jakarta
  • Bulan Jamuan Ilahi
    Bulan Jamuan Ilahi

Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa untuk melakukan sair dan suluk kepada Allah. Tapi untuk melakukannya manusia perlu untuk meraih keutamaan dan membuang keburukan. Imam Sajjad as menyebutkan beragam keburukan dalam doa ke-8 dalam Shahifah Sajjadiah dengan tema Mu'awwidzaat, segala sesuatu yang harus kita minta perlindungan Allah darinya.

Sesuai dengan sebagian riwayat, bulan Ramadhan merupakan bulan pertama di tahun baru. Oleh karenanya, banyak yang percaya bila seseorang di bulan ini mampu menjauhkan penyakit materi dan spiritual, berarti dalam setahun ia berada dalam kesehatan. Dengan demikian, mereka yang di malam hari bangun untuk melakukan salat tahajud, sebelum memasuki bulan Ramadhan berusaha mempersiapkan dirinya agar dapat memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan istimewa ini. Bersamaan dengan upaya meraih keutamaan akhlak, mereka juga mensucikan dirinya dari sifat-sifat buruk.

Bulan Ramadhan, Bulan Menjauhkan Diri dari Penyakit Materi dan Spiritual

Salah satu sifat buruk yang mencegah diterimanya puasa adalah Hirs atau serakah. Hirs berarti kecenderungan yang sangat terhadap sesuatu, dimana sesuatu tersebut bisa terpuji atau tercela. Nabi Muhammad Saw, sesuai dengan surat Taubah ayat 128 mencintai kebaikan, kebahagiaan dan kemajuan umatnya dan beliau berusaha keras untuk mewujudkannya. Hirs yang terpuji pada diri Nabi Muhammad Saw dikarenakan keinginan kuat beliau untuk menyelamatkan umatnya. Sementara Hirs yang tercela adalah yang bermakna serakah dan manusia harus memohong perlindungan Allah darinya.

Dalam doa Imam Sajjad as sifat tercela ini disebut Hayajan al-Hirs

اَللَّهُِمَّ اِنِّی اَعُوذُ بِکَ مِن هَیَجَانِ الحِرصِ

ُSifat Hirs yang tercela atau serakah adalah sesuatu yang menggerakkan jiwa manusia untuk bergerak lebih kuat ke depan yang berujung pada melanggar hak-hak orang lain dan tidak memperhatikan hukum ilahi. Itulah mengapa sifat serakah ini dapat membuat manusia terjatuh. Manusia harus berlindung kepada Allah dari sifat ini dan menggantikan sifat ini dengan qana'ah yang berarti merasa cukup.

Serakah dan Tamak

Kita harus ingat bahwa Nabi Adam as terjatuh pada kesalahan akibat digoda setan. Nabi Adam as mengharapkan keabadian dan setan menggodanya lewat sifat serakah yang ada dalam dirinya untuk abadi. Padahal Nabi Adam as telah dilarang untuk memakan buah terlarang, tapi dikarenakan sifat ini diprovokasi oleh setan, akhirnya beliau memakannya. Anak keturunan Nabi Adam as juga digoda oleh setan lewat cara ini. Setan menggambarkan dunia dan kelezatan temporalnya sebagai sesuatu yang abadi bagi mereka. Padahal kita harus yakin bahwa dunia tidak selamanya dan akan berakhir. Kita harus mencari sesuatu yang kekal dan abadi.