Belajar Menjaga Puasa di Bulan Ramadhan 6
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i38640-belajar_menjaga_puasa_di_bulan_ramadhan_6
Saurah al-Ghadhab atau kemarahan yang tidak terkendali termasuk sifat buruk yang mengharuskan manusia berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari sifat ini. Manusia harus berusaha mencegah munculnya sifat ini dalam dirinya di setiap saat, khususnya di bulan Ramadhan.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jun 01, 2017 06:58 Asia/Jakarta
  • Bulan Jamuan Ilahi
    Bulan Jamuan Ilahi

Saurah al-Ghadhab atau kemarahan yang tidak terkendali termasuk sifat buruk yang mengharuskan manusia berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari sifat ini. Manusia harus berusaha mencegah munculnya sifat ini dalam dirinya di setiap saat, khususnya di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mensucikan diri dan mempersiapkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk menumbuhkan semua potensi spiritual manusia. Namun sebelum itu semua, manusia harus mensucikan hatinya dari segala kotoran. Sama seperti tukang kebun yang ingin menanam bunga. Sebelum melakukannya, ia harus membuang batu dan mencabut rumput pengganggu di atas tanah yang akan ditanami bunga. Setelah melakukan itu barulah tukang kebun menanam benih bunga.

Bulan Ramadhan kesempatan terbarik untuk menumbuhkan semua potensi spiritual manusia

Salah satu sifat buruk dan kotoran yang harus dibuang, khususnya di bulan Ramadhan adalah sifat marah tidak pada tempatnya dan tidak dapat dikendalikan. Perilaku marah yang tidak terkontrol seperti lidah api yang muncul dari dalam, tapi membakar bagian luar manusia. Amarah berlaku seperti kekuatan militer. Bila militer dibawah kontrol pemerintah yang adil dan bijaksana, maka kekuatan ini dapat menjamin keamanan negara, bahkan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, bila kekuatan militer ini keluar dari kontrol akal, bukan saja tidak menjamin keamanan, tapi yang dilakukannya adalah kudeta dan pembantaian manusia tidak berdosa.

Sifat marah dalam banyak riwayat sering diumpamakan dengan api. Karena api berasal dari jenis asal penciptaan setan. Oleh karenanya, barangsiapa yang marah, maka lidah api itu pada awalnya membakar dirinya. Marah akan membinasakan badan dan jiwanya. Ketika muncul rasa marah, maka dengan sendirinya akal menjadi terpinggirkan. Itulah mengapa ketika seseorang marah, ia akan berbicara atau berlaku yang tidak pernah dilakukannya saat dalam keadaan tenang.

Dalam banyak riwayat, kondisi yang menimpa orang marah disebut Thaisy yang berarti ringan dan akal yang kurang. Perilaku dan ucapan seseorang yang marah menjadi buruk dan wajahnya tampak kelam.

Mengontrol Marah

Selain itu, sifat marah memunculkan keburukan lain seseorang. Karena ketika seseorang marah, maka seluruh keburukan yang selama ini tidak muncul dalam perilakunya bakal tampak jelas. Seseorang yang dirinya dililit rasa amarah, dengan mudah ia melanggar hak orang lain. Dalam kemarahan tidak pada tempatnya, seseorang saat berbicara biasanya berisikan tuduhan dan gibah, bahkan menzalimi hak orang lain. Dengan demikian, satu sikap marah yang tidak pada tempatnya bakal merusak jembatan kasih sayang di antara anggota keluarga, teman dan rekan sekerja, dimana sulit untuk memperbaikinya kembali.

Seseorang yang ingin memasuki perjamuan ilahi di bulan Ramadhan hendaknya memperhatikan sifat marah dan dampak merusaknya. Karena begitu ia marah tidak pada tempatnya bakal membuatnya terjauhkan dari berkah bulan Ramadhan.