Penumpasan Peserta Pawai Hari Quds di Saudi
Hari Quds Sedunia tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juni 2017 atau 28 Ramadhan 1438 H. Hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadahan ditetapkan oleh Imam Khomeini ra, Pendiri Republik Islam Iran sebagai Hari Quds Sedunia. Penetapan ini sebagai bentuk dukungan kepada perjuangan bangsa Palestina melawan rezim Zionis Israel.
Pada hari itu, umat Islam di berbagai negara dunia termasuk di wilayah timur Arab Saudi berbondong-bondong turun ke jalan untuk turut serta dalam pawai Hari Quds. Namun aparat keamanan Arab Saudi dengan menggunakan kendaraan panser menyerbu para peserta pawai Hari Quds yang digelar di distrik al-Masura, al-Awamiyah pada Jumat (23/6/2017).
Penyerbuan tersebut sebagai respon terhadap pawai simbolik para pemuda di distrik al-Masura untuk menandai peringatan Hari Quds Internasional yang diselenggaralam di Jumat terakhir bulan suci Ramadhan.
Meskipun blokade terhadap kota al-Awamiyah telah memasuki hari ke-45, namun para pemuda di wilayah ini tetap menggelar pawai Hari Quds dan mengibarkan bendera Palestina. Mereka ingin mengungkapkan dukungannya kepada rakyat Palestina.
Peserta pawai Hari Quds Sedunia menilai isu Palestina sebagai masalah utama dan poros dunia Islam. Mereka menegaskan, Hari Quds adalah hari konfrontasi orang-orang tertindas untuk melawan arogansi Zionis yang menduduki Palestina dan rezim Al Saud yang mengagresi al-Awamiyah.
Sejak tahun 2011 dan pasca meluasnya demonstrasi rakyat untuk memprotes kejahatan dan penindasan yang dilakukan rezim Al Saud, kawasan timur Arab Saudi yang mayoritasnya penduduknya bermazhab Syiah menjadi sasaran serangan dan brutalitas aparat keamanan negara itu. Selama kekerasan ini, puluhan orang tewas dan banyak lainnya terluka.
Tidak diragukan lagi, rakyat Arab Saudi tidak hanya memprotes kebijakan internal rezim Al Saud yang didasarkan pada sektarianisme dan penyebaran keyakinan menyimpang Wahabi, namun juga memprotes kebijakan luar negeri rezim tersebut yang bergantung penuh kepada Barat dan dekat dengan rezim Zionis Israel, bahkan kebijakan ini telah menyulut protes luas opini publik dunia Islam.
Arab Saudi mengklaim diri sebagai pelayan Islam dan umat agama Samawi ini, namun pada saat yang sama pemerintah negara ini mengabaikan hak-hak rakyat Palestina dan tidak peduli terhadap nasib al-Quds sebagai Kiblat Pertama umat Islam yang memiliki posisi khusus bagi umat Nabi Muhammad Saw ini.
Alih-alih mengambil langkah untuk merealisasikan hak-hak legal bangsa Palestina dan mengakhiri pendudukan Israel terhadap Baitul Maqdis, namun Arab Saudi justru mengiringi konspirasi Barat dan rezim Zionis untuk memperkuat posisi pejajahan rezim ini di Palestina terutama di al-Quds dan penghapusan sebagian besar hak rakyat Palestina melalui prakarsa perdamaian Arab.
Dalam rangka menyertai konspirasi tersebut, para pejabat rezim Al Saud tidak mentolerir suara protes apapun terhadap Israel di Arab Saudi dan protes seperti ini akan ditindak tegas oleh aparat keamanan. Penumpasan terhadap peserta pawai Hari Quds di Arab Saudi baru-baru ini adalah bukti atas hal itu. Kekerasan ini juga menunjukkan bahwa rezim Al Saud terlibat dalam penumpahan darah umat Islam bersama dengan rezim Zonis.
Hamid Reza Asifi, mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, ada kerjasama erat antara rezim Al Saud dan rezim Zionis untuk menumpas gerakan-gerakan Islam di kawasan. Ia menegaskan, rezim Al Saud telah sejak lama memiliki hubungan dengan dengan rezim Ziois. Menurut Asifi, kunjungan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke kawasan telah mengungkap tirai di balik Arab Saudi, AS dan Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, muncul berbagai laporan mengenai hubungan dan kerjasama antara rezim Al Saud dan rezim Zionis sebagai dua rezim jahat, di mana kerjasama ini mengungkap pengkhiantan Arab Saudi terhadap dunia Islam khususnya Palestina.
Menyusul pencopotan Mohammad bin Nayef sebagai Putra Mahkota Arab Saudi dan penunjukkan Mohammad bin Salman sebagai penggantinya, media-media Zionis mengungkap pertemuan rahasia Putra Mahkota baru Arab Saudi ini dengan para pejabat Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Ayoob Kara, seoarang menteri kabinet rezim Zionis menyambut penunjukan Mohammad bin Salman sebagai Putra Mahkota baru dan ia berharap hal ini akan mendorong normalisasi hubungan Tel Aviv dengan Riyadh dan semua sekutunya.
Sebelumnya, Ayoob Kara mengakui bahwa Israel dan Arab Saudi melalui perantara AS sedang berunding di semua sektor untuk normalisasi hubungan. Ia mengatakan, penerbangan pesawat-pesawat Israel di zona udara Arab Saudi dan pembukaan kantor kepentingan Israel di negara Arab ini serta kerjasama di berbagai bidang merupakan isu-isu yang dibahas dalam negosiasi Tel Aviv-Riyadh.
Keselarasan kebijakan Arab Saudi dan Israel dalam beberapa tahun terakhir bertujuan untuk menarget poros perlawanan terhadap rezim Zionis dan melemahkannya serta memadamkan dukungan-dukungan luas kepada perjuangan bangsa Palestina. Penumpasan keras aparat keamanan Arab Saudi terhadap peserta pawai Hari Quds untuk mendukung rakyat Palestina di timur negara ini adalah bagian dari upaya tersebut. (RA)