Washington Post: Trump Hanya Punya Opsi Minim, Terpaksa Berdamai dengan Iran
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Laporan baru menunjukkan bahwa Donald Trump, untuk keluar dari kebuntuan perang Iran, terpaksa bergerak menuju kesepakatan yang didasarkan pada kompromi, sebuah langkah yang lebih mencerminkan terbatasnya pilihan Washington di hadapan Iran dan mahalnya biaya perang berkelanjutan.
Dilansir IRNA, 25 Mei 2026, seperti banyak perjanjian damai, kerangka yang dijelaskan pejabat AS pada hari Minggu (24/5) ini penuh dengan kompromi, jauh dari "penyerahan mutlak" yang diimpikan Trump.
Menurut penjelasan pejabat AS, dari pihak Amerika, kesepakatan gencatan senjata berfokus pada:
Iran membuka Selat Hormuz tanpa memungut biaya, dan berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Sebagai imbalan, konflik dihentikan, sebagian aset Iran yang diblokir dibebaskan, dan sanksi AS secara bertahap dicabut.
Rincian program nuklir Iran akan dinegosiasikan dalam 60 hari ke depan, sebuah proses yang masih digambarkan sangat kabur dan tidak jelas. Iran dikabarkan telah setuju untuk melepaskan stok uranium pengayaan tingginya, tetapi belum menerima permintaan Trump untuk memindahkan bahan tersebut ke negara-negara Barat. Perbedaan ini kemungkinan akan diselesaikan melalui pengenceran uranium atau pemindahannya ke negara ketiga, jika Trump menyetujui pengaturan seperti itu. Pengawasan pelaksanaan kesepakatan akan menjadi tanggung jawab IAEA.
Namun, masalah utamanya terletak pada detailnya.
Selama negosiasi 60 hari, AS telah mengusulkan rencana berdasarkan "insentif bertahap", dijelaskan dengan kalimat: "Semakin banyak kerja sama, semakin banyak konsesi." Trump dan para penasihatnya tampaknya telah menyimpulkan bahwa melanjutkan serangan militer untuk memaksakan persyaratan yang lebih keras memiliki risiko besar bagi ekonomi global dan masa depan politik Trump itu sendiri.
Meski demikian, keputusannya untuk mengakhiri blokade telah mengkhawatirkan Israel dan para pendukungnya di Kongres, termasuk Senator Lindsey Graham. Trump berusaha meredakan kekhawatiran ini dengan pesan di media sosial, menekankan bahwa ia "tidak akan terburu-buru" mencapai kesepakatan.
Tim Trump percaya bahwa dengan membuka kembali Selat Hormuz, harga energi global akan turun drastis. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa kapal-kapal yang saat ini terhenti di Teluk Persia membawa sekitar 150 juta barel minyak dan dengan minyak itu memasuki pasar, harga akan turun. Ia juga menjelaskan bahwa sebelum perang, sekitar 20 juta barel per hari melintasi Hormuz, dan saat ini untuk semua volume kecuali sekitar 7 juta barel, rute alternatif telah ditemukan. Namun, beberapa analis tidak optimis dengan kecepatan pemulihan pasar energi global.
Jika Trump berhasil mencapai kesepakatan damai, ia pada dasarnya akan keluar dari perang gesekan dan kebuntuan strategis. Seseorang yang terlibat dalam perencanaan perang itu sendiri bertanya: "Kami mampu membombardir titik mana pun. Namun pertanyaannya, tindakan apa yang benar-benar bisa mengubah pengambilan keputusan Iran?"
Kesepakatan yang sedang dirundingkan ini pada dasarnya adalah pengakuan diam-diam Washington bahwa "tekanan maksimum" telah gagal. Trump tidak mendapatkan "penyerahan mutlak" yang ia inginkan, melainkan apa yang bisa ia dapatkan. Konsesi besar, Iran tidak akan mengirimkan stok uraniumnya ke luar negeri, tetap menjadi batu sandungan. Dalam perang gesekan yang mahal, baik untuk dompet AS maupun politik Trump, gencatan senjata tampaknya menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Pertanyaannya sekarang: apakah ia bisa menjual "kompromi" ini sebagai "kemenangan" di dalam negeri?(Sail)