Tantangan Irak Pasca Kekalahan Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i41406-tantangan_irak_pasca_kekalahan_daesh
Operasi pembebasan kota Mosul, Irak resmi berakhir setelah kelompok teroris Daesh dikalahkan dan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi juga telah mengumumkan kemenangan atas Daesh.
(last modified 2026-02-01T17:53:24+00:00 )
Jul 21, 2017 17:09 Asia/Jakarta

Operasi pembebasan kota Mosul, Irak resmi berakhir setelah kelompok teroris Daesh dikalahkan dan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi juga telah mengumumkan kemenangan atas Daesh.

Mosul – kota ketiga terbesar Irak setelah Baghdad dan Basrah – dikuasai oleh Daesh dan pendukungnya pada 10 Juni 2014.

Keberhasilan merebut Masjid al-Nuri yang berusia 850 tahun, merupakan sebuah kemenangan besar bagi pasukan Irak. Abu Bakr al-Baghdadi pada Juni 2014 mengumumkan kekhalifahan versinya di Masjid al-Nuri. Oleh karena itu, tempat tersebut sangat penting bagi para anasir Daesh.

Para pengamat percaya bahwa pemerintah dan bangsa Irak akan menghadapi tantangan baru pasca pembebasan Mosul. Irak setelah Daesh akan menghadapi bahaya yang lebih besar dan sisa-sisa konflik pasca pembebasan kota tersebut, dapat berubah menjadi bara api jika tidak dikelola dengan bijaksana.

Isu-isu penting yang dihadapi Irak saat ini berhubungan dengan masa depan negara tersebut. Isu penting ini mencakup masalah kembalinya pengungsi, proses rekonstruksi kota-kota yang hancur, interaksi atau konfrontasi partai-partai Sunni dengan pemerintah pusat, masa depan struktur politik Irak, tuntutan-tuntutan publik, dan juga masa depan al-Hashd al-Shaabi.

Pemulangan pengungsi sebelum rekonstruksi dilakukan jelas tidak mungkin. Masalah rekonstruksi sangat penting dan membuat negara tertentu menuntut konsesi dari Irak untuk terlibat dalam proses tersebut.

Arab Saudi menuntut Irak untuk menjauhi Iran dan menjatuhkan sanksi atas Qatar sebagai syarat partisipasi mereka dalam program rekonstruksi. Amerika Serikat dan Turki juga memiliki tuntutan serupa dari pemerintah Irak. Di antara syarat lain rekonstruksi Irak adalah memperjelas status al-Hashd al-Shaabi.

Rekonstruksi Mosul diperkirakan akan menelan biaya sekitar 40 miliar dolar.

Selain itu, Irak juga harus berjuang untuk mengembalikan stabilitas dan menciptakan keamanan yang berkelanjutan. Irak dituntut untuk terus memantau potensi ancaman dan kekhawatiran keamanan dalam upaya menciptakan stabilitas.

Pembangunan, kesejahteraan, dan ketenangan hidup masyarakat dapat dipenuhi setelah menciptakan keamanan yang berkelanjutan. Irak harus mengidentifikasi anasir-anasir yang telah menyusup ke tengah masyarakat sehingga mereka tidak kembali unjuk gigi dengan nama baru. Jangan sampai kemenangan bersejarah di Mosul hanya berlangsung sementara akibat ulah anasir-anasir tadi.

Di samping masalah keamanan, penyelesaian isu-isu politik di Irak akan membantu menciptakan keamanan yang berkelanjutan. Pertikaian politik akan menjadi salah satu jalan untuk mengacaukan kembali Mosul.

Dalam hal ini, seorang analis politik Irak, Mohsen al-Bahadeli mengatakan, "Hari ini simfoni kemenangan diperdengarkan di Nainawa dan Daesh telah kalah. Sekarang kita harus memikirkan fase setelah Daesh, menciptakan stabilitas politik dan mengobati semua luka." (RM)