Turki-Yordania Desak Perundingan Damai Palestina-Israel
-
Abdullah Kedua dan Erdogan
Abdullah Kedua, Raja Yordania dan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, Senin (21/8) mendesak dimulainya perundingan damai baru antara rezim Zionis Israel dengan Palestina.
Kantor berita Perancis (21/8) melaporkan, Presiden Turki dan Raja Yordania dalam pertemuannya di Amman mendesak digelarnya kembali perundingan damai Israel-Palestina.
Langkah itu, katanya, untuk mengakhiri konflik berdasarkan solusi pembentukan dua pemerintahan yang menjamin berdirinya negara independen Palestina di perbatasan Juni 1967 dengan Timur Baitul Maqdis sebagai ibukotanya.
Presiden Turki dan Raja Yordania menegaskan, dimulainya kembali perundingan damai harus berdasarkan skedul waktu yang akurat dan sesuai dengan resolusi-resolusi internasional.
Erdogan dan Abdullah Kedua juga menolak perubahan dokumen hukum dan sejarah Masjid Al Aqsa serta seluruh langkah sepihak Israel yang mengancam identitas Baitul Maqdis.
Perundingan damai Palestina dan Israel terhenti sejak gagalnya proyek usulan Amerika Serikat pada April 2014.
Pemerintah Amerika berusaha agar perundingan damai Israel-Palestina dimulai kembali, namun rakyat Palestina memprotes kebisuan Washington menyikapi berlanjutnya pembangunan distrik-distrik ilegal Zionis di wilayah Palestina.
Selain itu Presiden Turki dan Raja Yordania juga menekankan solusi politik untuk mengakhiri krisis Suriah lewat kesepakatan Jenewa. Hingga kini langkah-langkah politik untuk menyelesaikan krisis Suriah yang pecah sejak 2011 dan telah menewaskan puluhan ribu orang itu, selalu gagal.
Turki dan Yordania juga menyambut perundingan segitiga antara Yordania, Amerika dan Rusia yang bersandar pada sebuah kesepakatan yang berujung dengan gencatan senjata di tiga wilayah Selatan Suriah. (HS)