Lampu Hijau Arab Saudi untuk Serahkan Al Quds
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i48219-lampu_hijau_arab_saudi_untuk_serahkan_al_quds
Surat kabar Israel, Haaretz mengabarkan bahwa Menteri Intelijen rezim Zionis, Yisrael Katz telah mengundang Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk berkunjung ke Tel Aviv.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Des 15, 2017 11:11 Asia/Jakarta

Surat kabar Israel, Haaretz mengabarkan bahwa Menteri Intelijen rezim Zionis, Yisrael Katz telah mengundang Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk berkunjung ke Tel Aviv.

Arab Saudi dan Israel terutama dalam setahun terakhir, telah melakukan proses "normalisasi" hubungan. Salah satu pendapat populer mengenai arah kebijakan luar negeri di negara-negara berkembang adalah bahwa kebijakan luar negeri mereka bergantung pada pemikiran dan sikap pemimpinnya.

Seorang pengamat Timur Tengah, Bahjat Kourani percaya bahwa isu pertama dalam perumusan kebijakan luar negeri di negara-negara berkembang adalah mempertimbangkan psikologi para pemimpinnya, termasuk pemikiran dan sikap mereka.

Faktor utama untuk percepatan normalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv juga kembali kepada pemikiran para pejabat Arab Saudi, Israel, dan Amerika Serikat.

Trio Mohammed bin Salman, Benjamin Netanyahu dan Donald Trump tampaknya lebih mengedepankan pemikiran dan pandangan pribadi mereka dalam merumuskan kebijakan luar negerinya. Tentu saja, peran Jared Kushner, menantu Presiden Trump, juga patut diperhitungkan dalam membangun pendekatan personal dengan Bin Salman dan Netanyahu.

Israel mengejar tujuan-tujuan strategis melalui normalisasi hubungan dengan Saudi. Tel Aviv menjadikan Riyadh sebagai tujuan terpenting untuk menormalisasi hubungan, dan sebenarnya mencoba untuk memisahkan Arab Saudi dari negara-negara Muslim.

Rezim Zionis sangat menyadari bahwa Saudi memiliki posisi istimewa di Dunia Islam dan dari sisi lain, pemerintahan Riyadh saat ini juga ingin tampil dominan dalam perimbangan regional.

Israel menyadari obsesi politik para penguasa Arab Saudi saat ini dan absennya Raja Salman, putra mahkota dan bahkan menteri luar negeri Saudi dalam KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, adalah bukti paling nyata bahwa Saudi telah terjebak dalam perangkap Zionis.

Yisrael Katz dalam wawancara dengan televisi Israel, juga berbicara tentang koordinasi Trump dengan para pemimpin Arab sebelum menandatangani perintah pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al Quds. Menurutnya, koordinasi ini bertujuan untuk meredam kemarahan orang-orang Palestina.

Menurut koran The New York Times, Arab Saudi bertindak sebagai perantara untuk menyampaikan proposal Israel kepada pemerintah Otorita Ramallah dan mencoba meyakinkan Mahmoud Abbas agar menerima tuntutan Washington dan Tel Aviv.

"Ketika Abbas melakukan penjajakan dengan Bin Salman di Riyadh pada pertengahan November lalu, para pejabat Saudi mengusulkan agar rakyat Palestina memilih sebuah wilayah di pinggiran Al Quds yang disebut Abu Dis sebagai Ibukota Palestina dan menghentikan klaim mereka tentang Al Quds," kata surat kabar tersebut.

Jadi, Arab Saudi dalam konflik Arab-Israel telah memainkan peran sebagai spekulan politik dengan tujuan untuk mengejar kepentingan kerajaan dan bahkan pribadi. Dengan kata lain, pilar kekuasaan Bin Salman di Arab Saudi harus ditopang oleh dukungan AS dan kedekatan dengan rezim Zionis. (RM)