Mengapa Saudi Gencar Tuduh Iran Pasok Rudal Yaman ?
Propaganda negatif Arab Saudi terhadap Iran yang merupakan reaksi atas pukulan telak yang diterima rezim Al Saud dari perlawanan rakyat Yaman, baru-baru ini semakin gencar dilakukan.
Dengan melemparkan tuduhan bahwa Iran telah memasok senjata dan rudal kepada Ansarullah, Riyadh berharap bisa menutupi kekalahannya dari sebuah pasukan rakyat dan mengelabui publik dunia bahwa sesungguhnya mereka tidak sedang berperang melawan sekelompok rakyat, tapi dengan Iran.
Ini tidak lain adalah politik cuci tangan. Politik serupa pernah dilakukan rezim Zionis Israel dalam perang 33 hari melawan Hizbullah Lebanon dan perang 22 hari melawan Hamas di Jalur Gaza. Kala itu, Israel juga berusaha menutupi kekalahan memalukannya dari kelompok-kelompok perlawanan dengan menyalahkan Iran. Zionis mengira bisa keluar dari kubangan kekalahan beruntunnya dengan menuduh Iran telah melakukan intervensi.
Apa yang sedang yang dilakukan rezim Al Saud saat ini mungkin adalah hasil konsultasi dan arahan para penasihat Israel, sebagaimana telah dilakukan sendiri sebelumnya oleh rezim itu.
Tuduhan-tuduhan Riyadh atas Tehran yang selalu diiringi oleh propaganda diplomatik Amerika, adalah upaya untuk mempromosikan bentuk baru Iranfobia di kawasan dan dunia. Lewat propaganda negatif semacam ini, Saudi ingin merusak citra Iran dan menjustifikasi agresi militer ilegal terhadap rakyat Yaman.
Akan tetapi, tepat seperti Israel, Saudi tidak terlalu sukses dalam menjalankan strategi ini. Publik kawasan menjadi saksi bagaimana Iran menyumbangkan sekian banyak syuhada pembela Haram Suci dan meraih kemenangan dalam perang melawan teroris Daesh. Jelas mereka tidak akan pernah percaya pada kebohongan besar semacam ini, bahwa Iran berada di balik serangan rudal Yaman ke Saudi.
Dunia Islam menyadari bahwa bangsa-bangsa Muslim kawasan terinspirasi oleh kemenangan Revolusi Islam Iran dan semangat perlawanan atas imperialisme global yang merupakan slogan revolusi bersejarah ini. Benar bahwa sebagian masyarakat kawasan mengikuti jejak Revolusi Islam Iran, namun bukan berarti Iran secara langsung membantu senjata pada Ansarullah.
Hal yang menarik adalah, Saudi sebagai sebuah negara independen tapi tidak mampu membuat senjata yang diperlukannya sendiri dan selalu menerima senjata dari Amerika dan Inggris, gagal memahami kenyataan bahwa sebuah kelompok masyarakat, tanpa menerima senjata dari negara lain, berhasil memberikan perlawanan berani kepada negara agresor.
Oleh karena itu, Riyadh ingin mengaburkan masalah dengan melemparkan tuduhan tak berdasar kepada negara lain seperti Iran, dan bukannya mengakui ketergantungan kepada bantuan asing, Al Saud justru menuduh kelompok-kelompok perlawanan rakyat menerima bantuan senjata dan rudal dari Iran.
Negara-negara pemasok senjata untuk Saudi, negara agresor dan penjajah itu, adalah sekutu Riyadh dalam menciptakan instabilitas regional. Dengan membantu Al Saud, negara-negara itu berusaha menutupi kenyataan pahit yang dialaminya di Asia Barat dan mencari dalih terkait kemandulan senjatanya dalam menghadapi senjata Ansarullah.
Tapi kenyataannya, seluruh propaganda negatif anti-Iran justru semakin menguak realitas perang Yaman. Dunia Islam sekarang mengetahui dengan baik bahwa rezim Al Saud bekerjasama dengan Barat untuk menjajah negara tetangganya sendiri. Akan tetapi karena lemah di bidang militer Riyadh tidak mampu mengakhiri perang tersebut dengan kemenangan di pihaknya.
Agresi militer Saudi ke Yaman yang sudah berlangsung beberapa tahun, hanya semakin meningkatkan kebencian Dunia Islam terhadap Saudi dan menambah simpati pada kubu perlawanan dan menjadikannya sebagai sebuah model perjuangan yang efektif. (HS)