Hizbullah Reaksi Penghentian Penyiaran al-Manar oleh Nilesat
Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) menilai penghentian penyiaran jaringan televisi al-Manar sebagai tindakan represif untuk membungkam suara kebenaran dan resistensi.
Hizbullah dalam pernyataannya, Rabu (6/4/2016) sore, menuntut pemerintah Mesir untuk melanjutkan kembali penyiaran program al-Manar di satelit Nilesat. Demikian dilansir IRNA.
Hizbullah menegaskan, keputusan perusahaan komunikasi Mesir tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kebebasan berpendapat dan berkeskpresi, dan upaya untuk membungkam suara kebenaran dan perlawanan.
Disebutkan pula bahwa jaringan televisi al-Manar adalah jaringan perlawanan dan pembebasan serta sebuah jaringan Arab dan Islam, di mana semua upayanya adalah untuk menyuarakan kebenaran.
Hizbullah mengecam keputusan perusahaan Nilesat dan menilai pemutusan penyiaran al-Manar sebagai langkah yang jauh dari peran bahwa Mesir ingin memperbaiki jalur peristiwa di kawasan.
Menurut Hizbullah, pemutusan penyiaran al-Manar dilakukan mengiringi kampanye sejumlah pemerintah Arab untuk menarget Muqawama di berbagai sektor termasuk di bidang media.
Kelompok perlawanan anti-rezim Zionis Israel itu menegaskan, media-media pendukung Muqawama di Lebanon dan Palestina selalu menyuarakan kebenaran dan membela orang-orang tertindas. Oleh karena itu, langkah untuk membungkam suara kebenaran, resistensi dan pendukung orang-orang tertindas melalui pelarangan penyiaran al-Manar tidak akan membuahkan hasil.
Sebelimnya, perusahaan satelit Nilesat memberitahukan kepada Kementerian Informasi Lebanon bahwa siaran jaringan televisi al-Manar dihentikan dari pukul 08:00 waktu Mesir pada tanggal 5 April 2016.
Nilesat mengklaim pemutusan siaran itu disebabkan program yang siarkan al-Manar menimbulkan hasutan dan perpecahan sektarian.
Keputusan tersebut diambil menjelang kunjungan Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi ke Mesir. (RA)