Pesan Tegas Iran untuk AS dan Eropa Soal JCPOA
-
Zarif
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif, pada Kamis (3/5/2018) dalam pesan video menyatakan bahwa jalan maju untuk kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) adalah kepatuhan penuh Amerika Serikat pada komitmennya
Zarif menekankan bahwa Iran tetap teguh melawan kesewenang-wenangan Amerika dan mengatakan, "Berisik atau mengancam tidak akan menghasilkan kesepakatan baru bagi Amerika."
Ditambahkannya Iran tidak akan menyerahkan keamanannya kepada pihak luar negeri, juga tidak merundingkan atau menambah poin dalam kesepakatan yang telah dilaksanakan dengan itikad baik. Menteri Luar Negeri Iran kembali memperingatkan jika AS terus melanggar atau mengabaikan komitmennya dalam JCPOA, Iran berhak menanggapinya.
Sikap tegas Menteri Luar Negeri Iran mempertegas kembali bahwa Republik Islam Iran tidak akan merelakan kepentingan vitalnya dan bahwa tekanan dan intimidasi tidak akan memaksa Iran merundingkan isu-isu strategis seperti kekuatan rudalnya. Pesan Zarif soal JCPOA yang dengan gamblang menjelaskan pengingkaran janji Amerika Serikat dan upaya Eropa untuk membujuk Donald Trump agar tidak keluar dari JCPOA, kembali membuktikan itikad baik Iran kepada dunia.
Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat ketika menandatangani JCPOA sepakat bahwa kesepakatan tersebut tidak melibatkan isu-isu marginal, dan kericuhan yang digulirkan Trump saat ini serta upaya Uni Eropa dalam persuasi Trump agar tetap berada di JCPOA, adalah bukti pengingkaran janji.
Sikap tegas Iran ini tidak menyisakan keraguan bahwa Republik Islam siap merundingkan kekuatan rudal dan pengaruhnya di Timur Tengah dengan Amerika dan Eropa.
Dalam hal ini, Amir Mohebian, seorang analis politik mengatakan, "Pengumuman sikap tegas dan eksplisit menghapus kemungkinan keserakahan apapun untuk menekan Republik Islam Iran."
Kondisi saat ini di JCPOA, membuat Republik Islam Iran menjadi sebuah negara yang berkomitmen pada perjanjian internasional. Sementara di sisi lain, jika Amerika Serikat keluar dari JCPOA, akan terbukti kembali kepada dunia bahwa Washington bukan mitra yang dapat diandalkan untuk perjanjian internasional.
Penyelarasan langkah negara-negara Eropa dengan Trump juga dalam rangka meningkatkan tekanan terhadap Iran terkait kemampuan rudal dan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Ini menjadi indikasi bahwa negara-negara Eropa yang kuat masih bergantung pada Amerika Serikat dan tidak dapat bertindak secara independen.
Para pemimpin negara-negara Inggris dan Perancis berusaha menjaga Trump tetap berada dalam JCPOA, di mana pada praktisnya dengan tampilnya Trump, AS bukan menjadi bagian dari JCPOA dan senantiasa berusaha melanggarnya. Apa yang diharapkan dari Eropa adalah selain mendesak Amerika Serikat untuk memenuhi komitmennya sesuai JCPOA, juga menekannya agar menghentikan ancaman kepada negara-negara lain dalam menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Dalam kondisi tersebut, pesan Zarif adalah peringatan yang jelas untuk Eropa Amerika Serikat bahwa Iran tidak akan berkompromi dalam kondisi apa pun dan tidak akan menerima poin tambahan baru dalam JCPOA.
Sikap Menlu Iran menunjukkan bahwa Tehran siap untuk memberikan balasan setimpal di hadapan segala bentuk skenario anti-JCPOA baik oleh Amerika Serikat maupun Eropa. Sekarang bola berada di zona di Amerika Serikat dan Eropa untuk membuktikan itikad baiknya terhadap JCPOA yang ditandatangani pada tahun 2015. Karena jika tidak, maka JCPOA saat ini hanya disetujui oleh Iran dan tidak oleh pihak-pihak terkait lainnya.