Tujuan di Balik Tekanan Trump terhadap Iran dan Arab Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i59451-tujuan_di_balik_tekanan_trump_terhadap_iran_dan_arab_saudi
Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir secara serius mengupayakan sanksi terhadap pembelian minyak dari Iran. Kementerian Luar Negeri AS mengirim delegasinya ke seluruh dunia pekan lalu untuk berupaya menekan konsumen minyak Iran bersama-sama dengan AS menghentikan pembelian minyak dari Iran.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jul 01, 2018 13:52 Asia/Jakarta
  • OPEC
    OPEC

Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir secara serius mengupayakan sanksi terhadap pembelian minyak dari Iran. Kementerian Luar Negeri AS mengirim delegasinya ke seluruh dunia pekan lalu untuk berupaya menekan konsumen minyak Iran bersama-sama dengan AS menghentikan pembelian minyak dari Iran.

Presiden AS Donald Trump, Sabtu (30/6/2018) dalam tweetnya menulis, "Raja Saudi menyetujui pemintaannya untuk meningkatkan "kemungkinan dua juta barel" produksi minyaknya guna menutupi penurunan produksi minyak dari Iran dan Venezuela."

 

Menteri Energi AS pekan lalu dalam pernyataan intervensif, bersikeras menekankan peningkatan produksi minyak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah pertemuan terbaru organisasi ini, diikuti pengumuman Arab Saudi untuk peningkatan produksinya hingga satu juta barel bulan depan.

 

Namun, sejumlah ahli percaya bahwa Amerika Serikat tidak dapat mencapai tujuan "menghapus ekspor minyak Iran" setidaknya dalam jangka pendek, karena sekutu AS sekalipun tidak puas dengan keputusan yang dibuat oleh Trump keluar dari kesepakatan internasional Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Sumber-sumber yang dikatakan dekat dengan Departemen Energi AS mengatakan, Washington akan mempertimbangkan sanksi untuk setiap pembelian minyak Iran "kasus-per-kasus" dan dapat mengizinkan sejumlah negara untuk menangguhkan pembelian minyak dari Iran secara bertahap.

 

Tampaknya Amerika Serikat sedang mengacu dua tujuan dalam hal ini. Tujuan pertama adalah untuk menghalangi ekspor minyak Iran dan Washington sedang mempersiapkan langkah-langkahnya.

 

Juan Cole, profesor sejarah di University of Michigan mengatakan, "Meski masalah ekonomi yang dihadapi Iran, terdapat titik-titik cemerlang dalam proses kemajuan Iran yang jarang diakui media Barat."

 

Adapun tujuan kedua adalah tekanan terhadap Arab Saudi, terlepas dari kemampuan negara itu untuk meningkatkan produksi melampaui kapasitasnya. Arab Saudi telah memasuki permainan politik ini sejak beberapa tahun lalu, dan dengan meningkatnya produksinya serta mencoba menguasai pasar minyak. Namun Saudi tidak dapat bertahan lama. Maksimum kapasitas produksi minyak Arab Saudi adalah 12 juta barel per hari, tetapi negara ini belum pernah mencoba volume produksi tersebut.

 

Tekanan dari produksi inkonvensional dan anjloknya harga minyak di pasar global karena pasokan melimpah melebihi permintaan, mendaratkan pukulan telak pada perekonomian Saudi. Riyadh akhirnya terpaksa harus menghentikan peningkatan produksi minyaknya setelah menghadapi defisit bujet lebih dari 100 miliar dolar sampaiharga minyak mentah global relatif stabil.

 

Merunut pada fakta-fakta tersebut, tekanan Washington untuk mengakhiri ekspor minyak Iran hingga bulan November, akan meningkatkan asumsi soal peningkatan tekanan terhadap pasar energi global.

Trump mengikuti tarian pedang bersama Raja Arab Saudi

 

Menteri Energi AS, Rick Perry, sebelumnya mengatakan, "Meski harga minyak AS akan meningkat setelah sanksi anti-Iran, namun Washington tidak akan melirik cadangan minyaknya, karena kami yakin bahwa Arab Saudi dan Rusia dapat meningkatkan produksi minyak mereka menutupi kekurangan tersebut."

 

Sekarang, jika terjadi seperti yang diklaim Trump dan Arab Saudi menyetujui permintaan AS, maka Riyadh sedang mengambil risiko besar dan mengulangi pengalaman pahit masa lalu. Memang, Trump dengan caranya sendiri, ingin menggunakan Arab Saudi sebagai tameng di hadapan krisis minyak. Langkah ini memiliki resiko besar dan berbahaya mengingat ketergantungan besar Arab Saudi pada stabilitas pasar minyak dunia.(MZ)