Upaya Koalisi Pimpinan Saudi Tutupi Kejahatan di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i60774-upaya_koalisi_pimpinan_saudi_tutupi_kejahatan_di_yaman
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Bahram Ghasemi menolak 11 poin isi pernyataan pertemuan Organisasi Kerjasa Sama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi. Menurutnya, isi pernyataan itu dirilis untuk menutupi berbagai kejahatan negara-negara yang terlibat dalam agresi militer ke Yaman.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 10, 2018 12:06 Asia/Jakarta
  • Serangan terbaru jet tempur koalisi Saudi terhadap bus yang mengangkut para siswa.
    Serangan terbaru jet tempur koalisi Saudi terhadap bus yang mengangkut para siswa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Bahram Ghasemi menolak 11 poin isi pernyataan pertemuan Organisasi Kerjasa Sama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi. Menurutnya, isi pernyataan itu dirilis untuk menutupi berbagai kejahatan negara-negara yang terlibat dalam agresi militer ke Yaman.

Ghasemi pada Kamis sore, 9 Agustus 2018 mengatakan, negara-negara yang mengagresi Yaman mengeluarkan pernyataan tidak bernilai dan menyalahgunakan lembaga-lembaga dan mekanisme regioanl dan internasional untuk menutupi berbagai kejahatannya.

 

Dia menambahkan, negara-negara agresor bertanggung jawab atas krisis kemanusian di Yaman dalam beberapa tahun terakhir dan pembunuhan yang dilakukan tiap hari terhadap warga tak berdosa negara ini dengan mengunakan senjata tercanggih serta kehancuran infrastruktur Yaman.

 

Pertemuan sepihak OKI digelar pada hari Rabu untuk membahas serangan terbaru pasukan Gerakan Rakyat Yaman, Ansarullah terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Dalam pertemuan ini, Iran kembali menjadi sasaran tuduhan dan dikait-kaitkan dengan serangan tersebut.

 

Sejak Arab Saudi dan sekutunya memulai invasi militer ke Yaman pada Maret 2015, pertemuan OKI tentang krisis Yaman selalu digelar atas permintaan Riyadh, di mana Tehran selalu menjadi sasaran tuduhan tak berdasar. Proyeksi dan pelontaran tuduhan-tuduhan palsu terhadap Iran menjadi dua alat politik bagi koalisi pimpinan Arab Saudi bersamaan dengan pengobaran perang di Yaman.

 

Rezim Al Saud dengan perhitungan kelirunya memulai perang di Yaman. Sebelum agresi dimulai, Arab Saudi mengklaim bahwa kurang dari sebulan, Riyadh akan berhasil "mencerabut" krisis di Yaman, namun kenyataannya, rezim Al Saud tidak bisa meraih ambisinya di Yaman meski serangan militer ke negara ini telah memasuki tahun keempat. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi Arab Saudi untuk menutupi kejahatan dan kegagalannya itu kecuali dengan menyimpangkan opini publik melalui tuduhan-tuduhan tidak berdasar terhadap Iran.

 

Hari ini, perimbangan perang di Yaman telah berubah. Militer dan komite rakyat Yaman telah menujukkan kekuatannya di medan tempur dengan memamerkan beragam peralatan perang baru, seperti penggunaan pesawat tanpa awak dan rudal. Serangan rudal ke berbagai posisi Arab Saudi hingga ke dalam wilayah negara ini, penggunaan drone-drone pembom dan operasi penyerangan di laut menujukkan bahwa penyandaran kepada kekuatan dan kemampuan dalam negeri bisa membuat pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi kebingungan.

 

Menteri Penasihat Pemerintahan Penyelematan Nasional Yaman Ahmad al-Qanu' pada hari Selasa mengatakan, kemajuan industri persenjataan dan buatan dalam negari Yaman telah membuat koalisi agresor Arab Saudi kebingungan. Ini adalah fakta yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, rezim Al Saud tidak memiliki cara lain untuk melewati tahap ini kecuali dengan mengalihkan opini publik dan menjustifikasi berbagai kejahatannya dengan menuduh pihak lain.

 

Agresi militer dan perang yang dikobarkan Arab Saudi tidak menghasilkan apapun kecuali pembunuhan ribuan wanita dan anak-anak Yaman dan penghancuran infrastruktur negara ini seperti pusat-pusat kesehatan, rumah sakit dan fasilitas publik lainnya. Serangan militer rezim Al Saud ke Yaman juga telah menciptakan tragedi kemanusiaan mengerikan dan terburuk dalam sejarah.

 

Krisis Yaman adalah tragedi kemanusiaan terburuk di dunia. Tragedi ini berlangsung di bawah bayangan kebijakan ganda Barat terkait dengan Hak Asasi Manusia. Negara-negara pengklaim pembela HAM justru berada di samping rezim Al Saud dan terlibat dalam pembantaian warga sipil Yaman. Contoh terbaru dari kejahatan itu adalah serangan jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap sebuah bus sekolah di dekat pasar yang ramai di kota Dhahyan, Provinsi Saada. Insiden ini merenggut nyawa 50 siswa dan warga sipil, dan melukai 77 lainnya.

Serangan terbaru jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap bus yang mengankut para siswa.

 

Hari ini, telah jelas bagi semua masyarakat internasional bahwa koalisi pimpinan Arab Saudi dan pendukung mereka dari sejumlah negara Barat memiliki peran lansung dalam menciptakan kejahatan di Yaman. Sebelumya, LSM internasional, Care (kerja sama untuk membantu di mana saja) dalam sebuah pernyataan pada 3 Agustus 2018 memperingatkan bahwa kondisi kemanusiaan di Yaman sangat buruk dan kekerasan harus segera diakhiri.

 

Di sis lain, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Yaman juga menyebut krisis di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Disebutkan bahwa krisis Yaman telah membuat 22,2 juta warga negara ini, yaitu 75 persen penduduk Yaman, memerlukan bantuan kemanusiaan. Krisis ini juga mengancam nyawa jutaan warga Yaman. (RA)