Kebrutalan Al Saud Pasca Idul Adha di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i61204-kebrutalan_al_saud_pasca_idul_adha_di_yaman
Hanya selang sehari setelah Idul Adha, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi membantai 27 anak dan empat perempuan dengan membombardir desa al-Kouai ibukota provinsi, al-Durayhimi, di al-Hudaydah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 24, 2018 13:32 Asia/Jakarta
  • korban serangan Arab Saudi di Yaman
    korban serangan Arab Saudi di Yaman

Hanya selang sehari setelah Idul Adha, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi membantai 27 anak dan empat perempuan dengan membombardir desa al-Kouai ibukota provinsi, al-Durayhimi, di al-Hudaydah.

Bombardir berbagai daerah Yaman serta tewas dan terlukanya anak-anak dan perempuan menjadi "kisah tak berujung" di Yaman, yang sedang dilakukan oleh para pasukan agresor Saudi. Kejahatan ini tidak dilakukan hanya di sejumlah provinsi Yaman saja, melain di berbagai titik di Yaman.

 

Kejahatan terbaru itu dilakukan Kamis, 23 Agustus 2018, di provinsi al-Hudaydah, setelah jet tempur Saudi menargetkan bus yang mengangkut para pelajar Yaman di kota Dahyan di provinsi Saada pada 9 Agustus 2018, serta menewaskan dan melukai lebih dari 120 orang.

 

Tidak diragukan bahwa membunuh dan melukai anak-anak dan perempuan yang tertindas dan tidak bersalah merupakan kejahatan perang. Juru bicara resmi pemerintah Yaman, Abdussalam Ali Jaber, mengatakan bahwa kelanjutan dari kejahatan koalisi terhadap warga sipil merupakan indikasi watak brutal Arab Saudi dan kroninya.

serangan koalisi Arab Saudi di Yaman

 

Sementara itu, organisasi untuk perlindungan perempuan dan anak-anak, yang dikenal dengan Intisaf, mengutuk kejahatan pasukan Saudi kemarin, dalam membantai anak-anak dan perempuan Yaman yang merupakan kelompok masyarakat terlemah, dan menilainya bertentangan dengan ajaran agama Islam, melanggar ketentuan hak asasi manusia internasional serta nilai-nilai kemanusiaan. Intisaf juga melabel serangan tersebut sebagai "kejahatan perang".

 

Poin penting untuk menjelaskan kejahatan berulang Saudi terhadap anak dan perempuan Yaman adalah bahwa kejahatan ini "telah direncanakan" dan dilakukan di  bawah bayang-bayang kebungkaman masyarakat internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB.

 

Ketua Komite Tertinggi Revolusi Yaman, "Muhammad Ali al-Houthi mengatakan bahwa menarget anak-anak dan warga sipil di Yaman, merupakan "kebijakan permanen" Koalisi agresor pimpinan Arab Saudi berdasarkan mekanisme dan program yang telah direncanakan. Dikatakannya bahwa masyarakat internasional dan PBB dengan bersikap bungkam di hadapan kejahatan Arab Saudi di Yaman, telah kehilangan kredibilitas mereka.

 

Sementara dimensi penting dari perundingan para pemimpin kekuatan global dan salah satu aktivitas pokok PBB adalah krisis Suriah, adapun perang di Yaman, di mana korban terbesarnya adalah anak-anak dan perempuan, tidak memiliki tempat dalam perundingan dan dialog mereka.

 

Jika selama 41 bulan perang Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terhadap Yaman, masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, menunjukkan respon tegas di hadapan kejahatan rezim Al Saud tersebut, maka Arab Saudi dan sekutunya tidak akan berani mengulangi kejahatan seperti itu. Kepasifan lembaga-lembaga internasional telah membuat rezim Al Saud dengan leluasa mengulang kejahatan anti-kemanusiaannya di Yaman.

 

Bukan hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang gagal dalam perang di Yaman, PBB dan kekuatan besar dunia juga kalah besar dalam perang di Yaman mengingat PBB dengan kepasifannya telah menunjukkan kepada dunia bahwa lembaga internasional ini telah menjadi alat kekuatan adidaya dunia. Kekuatan adidaya dunia yang tidak mempedulikan kejahatan Al Saud di Yaman, telah membuktikan inkompetensi mereka untuk memiliki hak veto dan juga ketidaklayakan mereka dalam mengambil keputusan menyangkut urusan global.(MZ)