Serangan Kimia Teroris dan Upaya Menekan Pemerintah Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i64616-serangan_kimia_teroris_dan_upaya_menekan_pemerintah_suriah
Serangan kimia terbaru yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok teroris ke sejumlah wilayah penduduk di kota Idlib, Suriah utara telah melukai lebih dari 100 orang. Serangan kimia salama sekitar delapan tahun terakhir ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam krisis Suriah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 25, 2018 13:42 Asia/Jakarta
  • Suriah.
    Suriah.

Serangan kimia terbaru yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok teroris ke sejumlah wilayah penduduk di kota Idlib, Suriah utara telah melukai lebih dari 100 orang. Serangan kimia salama sekitar delapan tahun terakhir ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam krisis Suriah.

Kelompok-kelompok teroris dan pemberontak Suriah memanfaatkan senjata kimia dan propaganda media untuk menekan pemerintah Damaskus. Mereka menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil. Penggunaan senjata kimia terbaru juga merupakan upaya untuk mengkambinghitamkan pemerintah Suriah.

 

Ketika posisi pemberontak dan teroris terjepit dan melihat situasi menguntungkan pemerintah Suriah dan pendukungnya, mereka kemudian menggunakan senjata kimia. Tindakan ini bertujuan untuk mengubah kondisi tersebut agar mengungtunkan posisi mereka.

 

Puncak dari peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2013. Di masa itu, pemerintah Suriah dituduh menggunakan senjata kimia, dan Amerika Serikat yang terdepan dalam menindaklanjuti masalah ini. Pentagon kemudian mengumumkan akan menginvasi Suriah, bahkan media Barat menghitung mundur untuk dimulainya perang besar di negara Arab itu.

 

Invansi militer ke Suriah diumumkan AS ketika tidak ada bukti yang ditemukan bahwa pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur pada Agustus 2013. Akhirnya, untuk mengakhiri tuduhan tersebut, pemerintah Suriah setuju untuk memindahkan senjata kimia ke luar negeri dan memusnahkannya.

 

Pada April 2017, Presiden AS Donald Trump menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia di Khan Shaykhun. Tuduhan tersebut juga dilontarkan tanpa bukti apapun. Meskipun tanpa bukti, namun AS tetap menjadikan tudingan tersebut sebagai dalih untuk menyerang pangkalan udara Suriah, al-Shayrat dengan 59 rudal Tomahawk. AS bersama Perancis dan Inggris pada bulan April 2018 juga melancarkan serangan rudal ke beberapa wilayah Damaskus.

 

Tudingan serangan kimia oleh pemerintah Suriah hingga sekarang tidak terbukti. Bahkan sebaliknya, berbagai bukti ditemukan bahwa kelompok teroris dan pemberontak Suriah yang dibantu oleh AS, Inggris dan Perancis telah menggunakan senjata kimia untuk menyerang berbagai daerah di Suriah.

Milisi bersenjata di Suriah.

Kantor berita Rusia menyebutkan bahwa anggota White Helmets (WH) telah memindahkan lima bom kimia dari salah satu gudang senjata kelompok teroris ke gundang senjata mereka di kota Idlib. Lima bom kimia tersebut diserahkan kepada para pakar Perancis untuk dipasang di hulu ledak roket para teroris.

 

Tuduhan bahwa Suriah menggunakan senjata kimia didukung oleh mesin-mesin propaganda Barat. Kecanggihan kerja mesin-mesin propaganda AS dan Barat membuat banyak pihak mempercayai tudingan tersebut. White Helmets adalah terdepan dalam hal ini. Lembaga SAR (Search and Rescue) ini memproduksi video-video penyelamatan warga sipil yang diklaim sebagai korban serangan kimia tentara Suriah. Video-video seperti ini sangat efektif dalam membangun opini tentan "kejahatan pemerintah Suriah pada rakyatnya sendiri".

 

Perlu diketahui bahwa WH didirikan oleh mantan militer Inggris, James Le Mesurier, yang rekam jejaknya terhubung dengan Blackwater. Selain didanai US$23 juta oleh AS dan 32 juta Pound oleh Inggris, WH didukung oleh sebuah perusahaan PR mahal yang berbasis di New York, Purpose Inc. Purpose bertugas memimpin kampanye publik yang masif demi memperkenalkan WH kepada dunia. Media-media mainstream secara serempak mengangkat WH sebagai pahlawan di tengah pertempuran Suriah.

 

Yang pasti, setiap kali situasi di medan perang menguntungkan pemerintah Suriah, akan muncul tuduhan-tuduhan untuk melemahkan posisi pemerintah Damaskus. Penggunaan senjata kimia terbaru oleh teroris juga dilakukan ketika pemerintah Suriah sedang mempersiapkan diri untuk menggelar operasi pembebasan Provinsi Idlib dari pendudukan kelompok-kelompok teroris. Jika operasi ini berhasil, maka kehadiran kelompok-kelompok teroris di Suriah akan berakhir. Melihat hal ini, para pendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah seperti AS, Perancis dan Inggris tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha untuk mencegah operasi pembebasan Idlib.    

 

Serangan kimia kelompok-kelompok teroris ke Aleppo juga dilancarkan ketika perundingan damai periode ke-11 akan digelar pada 28-29 November 2018 di Astana, ibu kota Kazakhstan. Dengan demikian, serangan kimia tersebut merupakan upaya untuk mencegah kesuksesan perundingan tersebut.

 

Poin terakhir adalah Barat yang dipimpin oleh AS, sebagai pendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah tidak akan membiarkan krisis di negara ini berakhir, sebab, kepentingan mereka tergantung pada kelanjutan perang dan krisis di Suriah dan kawasan. (RA)