Destinasi Wisata Saudi yang Menakjubkan (2)
-
Destinasi Wisata Arab Saudi di al-Ula.
Sejak Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengendalikan pemerintahan, banyak perubahan di kerajaan ini. Salah satunya adalah wisatawan mancanegara diijinkan berkunjung ke situs bersejarah di kota oasis al-Ula

Al-Ula dulunya adalah jalur perdagangan penting. Kawasan ini penuh dengan peninggalan masa lalu, seperti pemakaman kuno di situs Madain Saleh, yang menjadi warisan budaya dunia.

Hingga saat ini, hanya sedikit dari wisatawan yang berhasil mengunjungi al-Ula. Namun para turis yang mengunjungi wilayah bersejarah ini diperkirakan akan bertambah menyusul perubahan kebijakan Arab Saudi.

Al-Ula terletak sekitar 400 km balat laut kota Madinah atau sekitar perjalanan empat jam dari kota suci tersebut. Terdapat banyak peninggalan bersejarah di deerah tersebut. Al-Ula terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2008. Sekitar 2000 tahun lalu, lebih dari 111 kuburan digali di bebatuan.

Kota yang dulu begitu hidup seiring dengan ramainya jalur rempah-rempah kuno ini memainkan peran penting dalam membangun kerajaan yang hidup dari perniagaan itu. Makam-makam di dinding batu yang monumental adalah salah satu peninggalan terakhir dan paling terawat.

Dahulu kala, di Madain Saleh, orang-orang Nabath meraih kekayaan dan kejayaannya berkat kemampuan mereka untuk mencari dan menyimpan air di lingkungan gurun yang begitu ganas.

Mereka memonopoli jalur perdagangan gurun antara Madain Saleh di barat daya dan pelabuhan Gaza di Laut Tengah atau Laut Mediterania di sebelah utara. Mereka menarik pajak dari iring-iringan unta – yang mengangkut wewangian, dupa, dan rempah- yang berhenti di pos terluar mereka untuk meminta air dan istirahat.

Pada tahun 106 M, Kerajaan Nabath dijajah oleh Kekaisaran Romawi, dan jalur Laut Merah mengambil alih jalur perdagangan darat. Kota-kota Nabath tak lagi jadi pusat perdagangan, dan mulailah era kemunduran. Sekarang Madain Saleh adalah tempat yang terasing, sunyi, dan terawat secara menakjubkan. Sebagian besar kota itu masih terkubur di bawah lapisan pasir.

Sebuah pemakaman luas yang terdiri lebih dari 131 makam besar telah ditemukan. Keterampilan seni kaum Nabath terlihat melalui ukiran elang yang melesat, sphinx dan grifon (hewan mitologi setengah anjing-setengah elang) yang berbulu, belum lagi ukiran prasasti rumit.

Prasasti-prasasti makam memberikan informasi tentang nama, hubungan, pekerjaan, aturan dan Tuhan dari orang-orang yang tinggal di sini. Orang Nabath tidak terlalu banyak meninggalkan sejarah tertulis, namun naskah-naskah yang ada di Madain Saleh sangat luar biasa.

Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Aram, bahasa Semit kuno dan lingua franca Timur Tengah saat itu. Bahasa Aram menjadi bahasa penting untuk komunikasi bisnis dan perdagangan, meskipun orang-orang Nabath juga menggunakan bahasa Arab dalam bentuk awal, yang jejaknya ada dalam prasasti tersebut.

Dari semuanya, makam Qasr al-Farid tergolong yang paling mengesankan – terutama untuk ukurannya. Pintu tengah dengan pedimen (eleman dekoratif berbentuk segitiga) berhias merupakan pintu masuk menuju ruang dalam, di mana jasad-jasad diletakkan di sejumlah rak yang menempel di sepanjang dinding.

Dari makam Qasr al-Farid, pemandangan gurun dengan gunung-gunung batu yang dibelah dan diukir itu menciptakan dramanya sendiri yang luar biasa. Bukit batupasir berwarna keemasan menjulang dari lahan pasir yang datar, terpahat sebagai struktur yang bagi menara miring akibat angin dan hujan.

Saat ini pemerintah Arab Saudi hanya mengeluarkan visa bagi sejumlah negara saja untuk bisa mengunjungi al-Ula. Itupun dengan beragam pembatasan. Namun hingga 3-5 tahun ke depan, al-Ula akan menjadi daerah pariwisata. (RA)