Transformasi Timur Tengah, 05 Oktober 2019
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i74402-transformasi_timur_tengah_05_oktober_2019
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya Operasi "Nasr Min Allah" Pukulan Berat Yaman atas Al Saud di Najran, Yaman: Operasi Nasr Minnallah Guncang Perekonomian Saudi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 05, 2019 12:26 Asia/Jakarta
  • Operasi Nasr Minallah, Yaman
    Operasi Nasr Minallah, Yaman

Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya Operasi "Nasr Min Allah" Pukulan Berat Yaman atas Al Saud di Najran, Yaman: Operasi Nasr Minnallah Guncang Perekonomian Saudi.

Pesan Penting Perlawanan "Nasr Minallah" Yaman, Rai Al Youm: Pilih Damai dengan Iran, Bin Salman Merasa Ditipu AS dan Kematian Al Faghm, Teka-teki Khashoggi Jilid 2

Operasi Nasr Minallah

Operasi "Nasr Min Allah" Pukulan Berat Yaman atas Al Saud di Najran

Militer dan komite rakyat Yaman telah menimbulkan kerusakan parah mencakup manusia dan non-manusia terhadap Al Saud dengan melakukan operasi Nasr Min Allah di Najran.

Operasi "Nasr Min Allah" merupakan operasi terbesar pasukan Yaman terhadap Arab Saudi yang dapat dibahas dari berbagai dimensi.

Poin pertama, operasi ini dilakukan dalam serangan darat. Operasi ini dilakukan dari 1 Agustus hingga 14 September. Dalam 45 hari, Yaman melakukan tiga operasi udara besar terhadap Arab Saudi. Sementara Al Saud fokus mempertahankan keamanan langit dan melakukan serangan udara terhadap militer dan komite rakyat Yaman, kali ini mereka justru mendapat serangan hebat di darat.

Operasi darat yang dilakukan militer dan komite rakyat Yaman menunjukkan bahwa kekuatan dan kemampuan ofensifnya tidak hanya terbatas pada operasi udara, tetapi bahkan kemampuan perang daratnya beberapa kali lebih besar. Salah satu tanda besarnya kekuatan perang daratnya adalah jumlah kerusakan yang diderita Arab Saudi dalam operasi tersebut.

Poin kedua, dalam operasi ini, jumlah kerusakan yang ditimbulkan pada Al Saud termasuk korban manusia dan non-manusia. Dari sisi korban manusia, menurut Juru Bicara Militer Yaman Brigjen Yahya Saree, ribuan pasukan musuh telah menyerah dan ratusan lain telah ditangkap, termasuk sejumlah komandan, perwira dan pasukan militer Saudi. Dari sisi non-manusia, tiga brigade musuh hancur secara keseluruhan, sejumlah besar senjata, termasuk ratusan kendaraan militer dan lapis baja, juga disita.

Poin ketiga berhubungan dengan lokasi geografis operasi militer. Operasi itu dilakukan di provinsi Najran. Patut diketahui bahwa Najran, Asir dan Jizan adalah tiga provinsi Yaman yang disewa Arab Saudi pada 1930-an, tetapi kemudian dianeksasi dan ditempati. Sekarang, pasukan Yaman telah bergerak maju ratusan kilometer ke dalam Najran dan mengambil kendali.

Faktanya, pasukan Yaman telah mengirim pesan kepada Al Saud dengan Operasi Najran bahwa adalah mungkin untuk merebut kembali tiga provinsi Yaman yang diduduki dari Arab Saudi jika perang melawan Yaman tidak dihentikan. Ini adalah salah satu skenario yang akan terjadi setelah drone-drone Yaman menyerang fasilitas Aramco di Abqaiq dan Khurais dan jika Arab Saudi menentang penghentian perang.

Poin keempat, operasi "Nasr Min Allah" menunjukkan bahwa Yaman memiliki beberapa kartu bermain melawan Al Saud dan bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan lebih besar dari yang sebelumnya terhadap Al Saud. Militer dan komite rakyat Yaman meluncurkan Operasi Dammam 1 Agustus, operasi rudal terbesar melawan Arab Saudi, kemudian dilanjutkan dengan 10 drone menyerang fasilitas minyak Shaybah, Arab Saudi pada 17 Agustus yang jaraknya hanya berkisar 10 kilometer dari Uni Emirat Arab. Operasi ini menjadi operasi drone terbesar sampai saat itu yang pernah dilakukan Yaman. Namun bulan September, 10 drone Yaman menyerang fasilitas Aramco di Abqaiq dan Khurais yang mampu menghentikan 50 persen produksi minyak Saudi dan menyebabkan kerugian ekonomi besar.

Meskipun operasi "Nasr Min Allah" berbeda dalam bentuk dan eksekusi serta berupa serangan darat bila dibandingkan dengan serangan terhadap fasilitas Aramco, tetapi operasi ini lebih besar dari serangan terhadap Aramco. Oleh karena itu, dapat diharapkan bahwa tindakan Yaman berikutnya terhadap Arab Saudi akan lebih besar daripada operasi "Nasr Min Allah".

Poin kelima dan terakhir, akumulai dari aksi-aksi militer yang dilakukan tentara dan komite rakyat Yaman melawan Arab Saudi menunjukkan bahwa Yaman mencari kemenangan dari Arab Saudi dalam perang yang telah memasuki tahun kelima, seperti yang dijanjikan oleh pemimpin Ansarullah, Abdul Malik al-Houthi pada awal tahun kelima perang bahwa tahun kelima adalah tahun kemenangan dalam perang.

Yaman: Operasi Nasr Minnallah Guncang Perekonomian Saudi

Deputi Menteri Informasi Yaman mengatakan, apa yang terjadi di Najran akan mempengaruhi perekonomian Arab Saudi.

Fars News (30/9/2019) melaporkan, Hussein Basalim, Ahad (29/9) malam menyinggung operasi militer 'Nasr Minnallah' di Najran, Saudi dan menuturkan, perekonomian Saudi akan terdampak operasi militer besar ini.

Sebagaimana dikutip situs berita Al Ahed, Hussein Basalim menjelaskan, Saudi ketakutan setelah menyadari apa yang terjadi di Najran, pasalnya Riyadh tahu masalah ini akan melemahkan pasukannya.

Di sisi lain, Menteri Informasi Yaman, Daifallah Al Shami menuturkan, unit propaganda perang Yaman, Al Ilamu Al Harbi mengabadikan operasi ini dengan sekitar 100 kamera, dan hasilnya akan segera ditayangkan.

Juru bicara militer Yaman, Brigjen Yahya Saree, Ahad (29/9) menjelaskan detail operasi militer Yaman di selatan Saudi itu dan mengatakan, militer Yaman melaksanakan operasi itu pada 15 Agustus 2019 di beberapa lokasi di Najran, Saudi.

Nasr Minallah

Pesan Penting Perlawanan "Nasr Minallah" Yaman

Operasi terbaru gerakan perlawanan Yaman "Nasr Minallah" terhadap Arab Saudi dalam periode tiga bulan terakhir menyampaikan berbagai pesan penting.

Pertama, perlawanan ini menunjukkan komite rakyat dan tentara Yaman siap menghadapi konflik darat langsung menghadapi koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dalam tingkat yang lebih besar. Sebaliknya, larinya beberapa ribu tentara bayaran Saudi dan penawanan setidaknya 2.400 dari mereka mengindikasikan bahwa koalisi Saudi tidak siap untuk bertempur langsung.

Pengamat politik Asia Barat, jafar Ghanatbashi mengatakan, "Komite rakyat  dan tentara Yaman memiliki tekad yang kuat untuk mempertahankan tanah airnya sebagai kekuatan nasional. Tapi sebaliknya pihak lawan tidak memiliki kekuatan nasional, tapi bertempur karena dibayar. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kekuatan bertempur yang memadai, dan tuntutan materi murni tidak bisa menjadi pendorong untuk bertempur."

Kedua, koalisi Saudi lebih memilih menggunakan serangan udara, karena tidak mau mengambil resiko ditawan, apalagi tewas di tangan pihak Yaman.  Mohammed Abdul Salam, Juru Bicara Ansarullah Yaman mengungkapkan bahwa para komandan militer Saudi menggunakan perisai manusia mereka ketika kematian mereka mendekat. Abdul Qader al-Mortada, ketua Komite Pengungsi Nasional Yaman menjelaskan bahwa militer Saudi meninggalkan mayat pasukannya dan tidak mengizinkan kendaraan bantuan kemanusiaan Palang Merah mengangkut orang yang terluka dan  ke rumah sakit.

Pesan ketiga dari operasi Nasr Minallah menunjukkan bahwa komite rakyat dan tentara Yaman tidak hanya memberikan peringatan lisan tetapi juga melaksanakan peringatan tersebut. Sebelumnya, para pejabat Yaman telah memperingatkan koalisi Saudi bahwa mereka akan mendapatkan balasan tegas dari Yaman jika serangan tetap berlanjut.

Pesan keempat, kelanjutan perang akan menyebabkan kerusakan besar bagi Arab Saudi. Sebab tentara bayaran Saudi tidak memiliki semangat nasionalisme yang kuat dan juga keyakinan untuk memenangkan perang. Tapi sebaliknya, komite rakyat dan tentara Yaman memiliki tekad serius untuk mempertahankan integritas wilayah serta keyakinan dalam memenangkan perang. Jelas kiranya, kelanjutan perang ini akan akan merugikan kepentingan Saudi dan sekutunya.

Namun rezim Al-Saud tidak dapat mengakhiri perang dalam situasi saat ini karena hal itu berarti kekalahan dirinya menghadapi Yaman. Jadi ia berusaha untuk bernegosiasi dengan Pemerintah Penyelamat Nasional Yaman sebagai mediator untuk mencegah serangan berlanjut.

MBS dan Trump

Rai Al Youm: Pilih Damai dengan Iran, Bin Salman Merasa Ditipu AS

Surat kabar transregional, Rai Al Youm menulis, bentuk dan nada bicara Putra Mahkota Arab Saudi menunjukkan, seiring dengan kekalahannya di perang Yaman, sampai tingkat tertentu ia menyadari sudah masuk jebakan pemerasan Amerika Serikat lewat proyek Iranfobia.

Fars News (1/10/2019) melaporkan, nada bicara Mohammed bin Salman dalam wawancara dengan CBS News berbeda dengan sebelumnya, dan ini menunjukkan penyesalan Saudi atas sikap permusuhannya terhadap Iran.

Rai Al Youm menambahkan, apakah Bin Salman ingin gencatan senjata karena kegagalan dan keputusasaan Amerika, juga kemajuan militer Houthi di Buqayq dan Najran, dan kerugian besar di dua operasi tersebut.

Menurut koran transregional itu, detail wawancara Bin Salman dengan CBS News, dan caranya menjawab pertanyaan, mengungkap banyak realitas terkait perkembangan situasi di Saudi dan kawasan.

Rai Al Youm menerangkan, perubahan sikap Saudi dan keinginannya berdamai, pertama menunjukkan kondisi bangkrut dan perasaan sudah ditipu oleh Barat terutama Amerika, yang meninggalkan Saudi sendirian berhadap-hadapan langsung dengan Iran dan Yaman.

Buktinya, imbuh Rai Al Youm, sampai sekarang tidak ada balasan atas serangan ke fasilitas minyak Saudi yang sempat menghentikan separuh produksi minyak negara itu, oleh Amerika.

Abdul Aziz al-Faghm

Kematian Al Faghm, Teka-teki Khashoggi Jilid 2

Abdul Aziz al-Faghm, pengawal pribadi Raja Salman dikabarkan tewas Sabtu lalu, tetapi ada banyak ketidakpastian penyebab pembunuhannya yang menimbulkan teka-teki hingga kini.

Pola pembunuhan mantan pengawal pribadi Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud ini agak mirip dengan Jamal Khashoggi. Pasalnya, pihak kepolisian rezim Al Saud dalam sebuah pernyataan menyebut Al-Faghm tewas dalam perkelahian di rumah temannya di Jeddah. Kemudian, Raja Salman menyampaikan belasungkawa atas kematian Al-Faghm kepada keluarganya. Pola ini juga diterapkan rezim Al Saud  dalam kasus pembunuhan Khashoggi.

Tapi klaim Polisi Saudi mengenai terbunuhnya al-Faghm di rumah temannya di Jedah dibantah oleh Mujtahid dicuitan twitternya. Ia meyakini Abdul Aziz al-Faghm terbunuh di dalam istana kerajaan Saudi.

Kemungkinan kedua kasus Al-Faghm, ia dibunuh karena kedengkian di tubuh anggota Garda Nasional Arab Saudi. Abdul Aziz Al-Faghm selama 30 tahun menjadi pengawal pribadi Raja Saudi. Oleh karena kinerjanya yang baik tahun lalu, ia dipromosikan oleh Raja Salman dan memasuki Lingkaran Pertama istana Saudi. Tampaknya ada pihak yang tidak menyukainya, dan inilah alasan pembunuhan terjadi.

Kemungkinan ketiga adalah pengulangan skenario Khashoggi terhadap Al-Faghm. Pembunuhan Al-Faghm terjadi menjelang malam ulang tahun pertama kejahatan keji terhadap Khashoggi dan hanya beberapa hari setelah Mohammed bin Salman menyatakan bertannggung jawab atas atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Analis politik dan media meyakini Mohammed bin Salman memerintahkan pembunuhan pengawal raja Saudi. Wartawan Saudi Ali al-Ahmed, di akun Twitter-nya menyebut kematian al-Faghm mencurigakan. Ia mengatakan pengawal pribadi raja Salman telah dipecat beberapa hari sebelumnya. Faktanya, Mohammed bin Salman tidak mempercayai Abdulb Aziz al-Faghm, dan krisis ketidakpercayaan telah mendominasi struktur kekuasaan Saudi.

Dalam nada yang sama, Mohammed Al-Masari, oposan Saudi yang tinggal di London lima bulan lalu telah memperingatkan kemungkinan pembunuhan Abdul Aziz al-Faghm di tangan putera mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Al-Masri menulis dalam pesan Twitternya, "Abdulaziz al-Faghm ... Bin Salman akan menyiram Anda dan anggota kelompokmu  besok dan menggantinya dengan beberapa orang Kolombia Black Water,".

Tewasnya pelaku pembunuhan sebagaimana diklaim polisi juga mencurigakan. Polisi Saudi mengklaim Al-Faghm tewas dalam perselisihan dengan temannya, tapi yang aneh pelaku pembunuhan juga tewas  ditangan polisi yang sulit dipercaya. Perancang pembunuhan ini tampaknya telah berusaha mengambil pelajaran dari kasus Jamal Khashoggi dengan mengakhiri pelaku pembunuh Abdul Aziz supaya kasus ini ditutup dan dilupakan publik dunia.