Potensi Kebangkitan Kembali Daesh di Irak
-
AS dan sekutunya membentuk kelompok teroris Daesh untuk mengacaukan beberapa negara di Timur Tengah.
Peringatan tentang potensi kebangkitan kelompok teroris Daesh meningkat di Irak di tengah mobilisasi yang dilakukan oleh sisa-sisa anasir Daesh.
Irak masih menghadapi kekacauan dan kekerasan, sebuah kondisi yang diciptakan oleh kubu oposisi lokal yang memperoleh dukungan dari Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan beberapa negara Arab.
Saat ini salah satu kekhawatiran penting adalah potensi kebangkitan Daesh di Irak. Pada Desember 2017, pemerintah Baghdad mengumumkan kemenangan atas Daesh di Irak dan terbebasnya negara itu dari ancaman disintegrasi.
Secara umum, terbentuk dan menguatnya Daesh merupakan dampak dari instabilitas politik dan adanya persoalan sosial dan ekonomi di beberapa negara kawasan.
Irak terjebak dalam perseteruan politik untuk memperebutkan posisi perdana menteri sejak 2014, di samping masalah korupsi dan konflik etnis di negara tersebut. Beberapa aktor regional dan trans-regional juga menyusun skenario untuk melawan pemerintah Baghdad.
Dalam kondisi seperti itu, kelompok teroris Daesh muncul di Irak dan menduduki sepertiga dari wilayah negara itu dan melakukan kejahatan yang luar biasa selama empat tahun terakhir.
Irak sekarang tidak hanya menghadapi instabilitas, tetapi juga berbagai krisis lainnya. Kesulitan ekonomi masyarakat telah berubah menjadi sebuah krisis keamanan dan politik. Pemerintahan saat ini berubah status menjadi pemerintahan sementara dan tidak punya kekuatan untuk membuat keputusan.
Jika faksi-faksi politik Irak gagal dalam mengajukan perdana menteri baru, maka negara itu kemungkinan akan terjebak dalam kevakuman kekuasaan.
AS, rezim Zionis, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga menyusun skenario untuk meruntuhkan lembaga-lembaga pemerintahan di Irak. Sisa-sisa Daesh menjadi prioritas mereka untuk melaksanakan rencana jahat ini.
Dalam hal ini, Sekjen Dewan Kesukuan Arab Irak, Sheikh Thaer al-Bayati mengatakan 6.000 teroris Daesh kemungkinan telah melarikan diri dari penjara pusat Nasiriyah di Provinsi Dhi Qar karena instabilitas keamanan yang terjadi di Irak.
Sisa-sisa teroris Daesh diyakini terlibat dalam sebagian dari kekacauan dan kekerasan di Irak selama dua bulan terakhir. Ahad lalu, mereka melancarkan serangan teror di Provinsi Diyala yang menewaskan enam pasukan Hashd al-Shaabi dan menciderai 20 lainnya.
Serangan ini membuktikan bahwa Daesh telah memanfaatkan kekacauan di Irak dan melarikan diri dari penjara dengan bantuan anasir-anasir Partai Ba'ath.
Pasukan relawan rakyat Irak pada Senin kemarin, menyatakan bahwa teroris Daesh sudah memulai operasi di Provinsi Nainawa, Salahuddin, al-Anbar, Diyala, Kirkuk, dan pinggiran Baghdad. Mereka juga memperingatkan tentang potensi munculnya kembali kelompok teroris Daesh di Irak. (RM)