Cara Baru Saudi Merebut Pasar Minyak Iran
Sejumlah media melaporkan bahwa produksi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat rekor baru pada bulan April. Pasokan OPEC naik menjadi 32,64 juta barel per hari pada April dari 32.47 juta barel pada Maret lalu.
Sumber-sumber industri yang berbasis di Arab Saudi mengatakan, produksi minyak mentah negara itu akan mendekati rekor tertinggi dalam beberapa pekan ke depan untuk memenuhi kebutuhan listrik selama musim panas.
Produksi minyak Saudi kemungkinan akan naik sekitar 10,5 juta barel per hari selama musim panas. Angka ini menunjukkan bahwa produksi minyak Saudi pada bulan April tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dan berkisar 10,15 juta barel per hari.
Namun, perlu diingat bahwa angka tersebut tetap saja ada kelebihan produksi 1,5 juta barel dari kuota Arab Saudi yang dijatah OPEC. Kelebihan ini sudah mengguncang pasar minyak dunia selama hampir dua tahun.
Sebelumnya, sebanyak 18 negara anggota dan negara non-OPEC bertemu di Doha untuk menstabilkan produksi minyak sampai bulan Oktober 2016, tapi rencana itu gagal.
Alasan utama kegagalan pertemuan Doha adalah sabotase Saudi dan sekutunya yang menuntut Iran bergabung dalam rencana pembekuan produksi minyak. Riyadh sebenarnya berniat menggunakan proposal itu sebagai sarana untuk mencegah Tehran memperoleh kembali kuotanya di OPEC.
Wakil Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengatakan bahwa Riyadh bisa memompa minyaknya dengan cepat menjadi 11,5 juta barel per hari dan jika kondisi menuntut, produksinya bahkan bisa mencapai 12,5 juta barel per hari dalam 6-9 bulan ke depan.
Beberapa analis percaya bahwa komentar Mohammed bin Salman mengisyaratkan babak baru dalam pertempuran untuk pangsa pasar dengan Iran.
Namun, analis di Commerzbank di Frankfurt, Eugen Weinberg yakin bahwa pasar minyak sedang kelebihan pasokan dan tren ini tidak memiliki pijakan yang kuat.
Iran setelah penghapusan sanksi pada Januari lalu menyatakan bahwa produksinya akan dipacu untuk mencapai angka sebelum sanksi. Produksi minyak Iran sekarang tercatat 3,4 juta barel per hari atau sudah hampir mendekati angka sebelum sanksi ketat pada akhir tahun 2011. Produksi Iran pada masa itu mencapai 3,5 juta barel per hari.
Sikap ngotot Saudi membuktikan bahwa para pejabat negara itu sedang mengejar tujuan-tujuan politik yang tidak rasional. Kerajaan Saudi mengira bahwa langkah itu dapat mempertahankan sikap ambisiusnya di pasar minyak. Tapi, bukti-bukti menunjukkan bahwa Saudi bersama negara-negara Arab di Teluk Persia telah menjadi pecundang utama dalam kompetisi yang tidak sehat ini di bidang politik-ekonomi.
Para pejabat Saudi mengkonfirmasi defisit anggaran senilai 98 miliar dolar pada tahun 2015, sebuah angka yang sangat fantastis untuk negara kaya minyak itu. Riyadh baru-baru ini juga mengumumkan program reformasi ekonomi menyusul anjloknya harga minyak dan kelesuan ekonomi.
Koran al-Watan cetakan Saudi pada Jumat (30/4/2016) menulis, perusahaan konstruksi Saudi, Binladin Group telah memangkas 25 persen karyawannya setelah negara itu terjun ke dalam krisis keuangan. Perusahaan mengakhiri kontrak untuk 50.000 pekerja asing.
Jelas bahwa kebijakan produksi minyak Arab Saudi telah menambah tekanan pada perekonomian negara itu. (RM)