Kesepakatan Gantz dan Netanyahu, Akhir atau Awal Krisis?
Di saat Benny Gantz, ketua Partai Biru dan Putih ditunjuk presiden Israel untuk membentuk kabinet baru, hari Kamis (26/03) ia secara resmi dipilih sebagai ketua parlemen (Knesset) dan Benjamin Netanyahu berpeluang besar menjadi perdana menteri rezim ini.
Pertanyaannya di sini adalah, apakah kesepakatan ini mampu mengakhiri krisis politik di bumi Palestina pendudukan atau tidak?
Yuli-Yoel Edelstein, mantan ketua parlemen Israel yang juga sekutu Netanyahu, hari Rabu lalu mengundurkan diri dari posisinya.
Knesset setelah 24 jam kemudian, menggelar sidang dan di langkahnya yang tak terduga memilih Benny Gantz sebagai ketua baru menggantikan Edelstein.
Dengan terpilihnya Gantz sebagai ketua parlemen, maka Benjamin Netanyahu dengan sendirinya akan menjadi satu-satunya sosok yang berpeluang besar ditunjuk sebagai perdana menteri baru dan membentuk kabinet di rezim ini.
Sepertinya kesepakatan antara Netanyahu dan Gantz adalah pemanfaatan khusus Netanyahu atas penyebaran wabah Corona di bumi Paletina pendudukan.
Dapat dikatakan bahwa Corona sebuah peluang bagi Netanyahu sehingga ia tatap mampu bertahan di struktur kekuasaan rezim ini, namun hal ini tidak dapat mengakhiri krisis politik di bumi Palestina pendudukan.
Netanyahu melakukan manuver politik melalui Corona demi mempertahankan kekuasaannya di Israel. Dari satu sisi, ia sekuat tenaga memprovokasi dimensi berbahaya penyebaran wabah Corona. Netanyahu mengklaim bahwa diprediksikan satu juta warga Israel akan terinfeksi Corona.
Sementara dari sisi lain, menteri kehakiman Israel beberapa jam sebelum proses peradilan Netanyahu, dilaporkan menutup seluruh pengadilan di wilayah ini dan kemudian ketua parlemen yang satu partai dan sahabat Netanyahu menangguhkan sidang parlemen sehingga penunjukan ketua baru ditangguhkan untuk waktu yang lain.
Bahkan langkah Mahkamah Agung menunjuk Ketua Partai Buruh Amir Peretz sebagai ketua sementara Knesset tidak berhasil mengalahkan skenario sekutu Netanyahu di Partai Likud bagi parlemen. Karena mereka dengan membesar-besarkan ancaman virus Corona berhasil meyakinkan Benny Gantz untuk menerima kepemimpinan parlemen dan membentuk kabinet persatuan dengan Netanyahu.
Gantz dan teman-teman dekatnya seperti Gabi Ashkenazi selain mendapat posisi penting juga sepakat pembentukan kabinet persatuan. Dengan demikian praktis krisis 15 bulan di Israel berakhir.
Realitanya adalah krisis politik di Israel tidak berakhir melalui rasionalitas politik, tapi dengan kecerdikan Netanyahu dan sekuutnya memanfaatkan isu Corona.
Meski Netanyahu dan Gantz sepakat terkait pembentukan kabinet persatuan nasional, namun kabinet sepertinya akan dibentuk beberapa hari mendatang sebuah kabinet yang dipenuhi individu yang tidak saling kompatibel serta tidak tertutup kemungkinan rezim ini dua tahun mendatang akan menghadapi pemilu dini lagi.
Sejatinya kesepakatan ini bisa jadi bersifat sementara dan tak lebih sebuah lingkaran setan pemilu parlemen serta kabinet baru terbentuk, namun kabinet ini akan dihadapkan pada friksi internal dan ideologi kontradiktif. Yang lebih penting adalah kabinet seperti ini berpotensi hancur dan bubar.
Kabinet Netanyahu sebelumnya bubar ketika kabinet ini adalah kabinet sayap kanan dan terdiri dari individu seideologi dari sisi politik. (MF)