Transformasi Asia Barat 18 April 2020
-
Pasukan Arab Saudi di Yaman
Transformasi Asia Barat selama beberapa hari terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai posisi Arab Saudi yang terjebak di kubangan perang Yaman.
Selain itu, keputusan Arab Saudi menjual obligasi senilai 7 Miliar dolar untuk menutupi defisit anggaran, AS memasok senjata kepada kelompok teroris Daesh di Kirkuk, Liga Arab mengkhawatirkan penyebaran virus corona di kamp pengungsi Suriah, Gantz dan Netanyahu kembali gagal membentuk kabinet, aksi teror rezim Zionis terhadap komandan Hizbullah di Suriah gagal dan Sheikh Isa Qassim menyerukan pembebasan tahanan politik Bahrain.
Saudi Terjebak di Kubangan Perang Yaman
Rezim Al-Saud yang melancarkan agresi militer terhadap Yaman saat ini sedang terjebak di kubangan yang digalinya sendiri. Pasalnya, pihak lawan yang ingin ditumpas oleh koalisi agresor pimpinan rezim Al Saud memperlihatkan resistensi yang tinggi dan semakin kuat dari sebelumnya. Di sisi lain terjadi konflik sesama anggota koalisi agresor di Yaman selatan. Selain itu, perang Yaman juga menimbulkan masalah besar bagi perekonomian Arab Saudi.
Tampaknya, rezim Al Saud mulai menyadari bahwa kekuatan ofensif dan defensif dari kubu militer dan Ansarullah Yaman telah meningkat ke titik yang mampu menimbulkan pukulan fatal bagi Riyadh. Serangan militer berulang-ulang terhadap sejumlah target di Arab Saudi, seperti yang terjadi pada musim panas 2019 terhadap Baqiq dan Kharis, telah menyebabkan penghentian produksi minyak Saudi hingga 50 persen.
Oleh karena itu, di satu sisi, Al-Saud terlihat berusaha untuk keluar dari kubangan perang Yaman, dan menyetujui gencatan senjata yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB. Tapi di sisi lain, memandang langkah tersebut sebagai kegagalan Riyadh. Akibatnya, rezim Al Saud mengklaim menerima gencatan senjata, sambil tetap melanjutkan serangan terhadap Yaman.
Masalah lainnya mengenai konflik antara Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman selatan yang dimulai sejak musim panas 2019, ketika Uni Emirat Arab mengumumkan penarikan pasukannya. Meskipun rezim Al Saud berupaya meredam konflik dengan mitranya ini melalui perjanjian pada November 2019, tetapi faktanya tidak ada tanda-tanda konflik menurun. Bahkan perselisihan keduanya meningkat seiring naiknya kekuatan Dewan Transisi Selatan yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab di wilayah selatan Yaman.
Perang yang dikobarkan Arab Saudi di Yaman juga menjadi salah satu pemicu utama defisit anggaran, sekaligus lonjakan belanja militernya sebesar 130 persen dari 2015 hingga 2019.
Tambal Defisit Anggaran, Saudi Jual Obligasi 7 Miliar Dolar
Kementerian Keuangan Arab Saudi menerbitkan obligasi senilai 7 miliar dolar untuk menutupi defisit anggaran yang membengkak akibat penurunan pendapatan minyak dan penyebaran covid-19.
Kementerian Keuangan Arab Saudi dalam sebuah pernyataan hari Kamis (16/4/2020) mengumumkan penerbitan surat utang negara (SUN) berbeda; senilai 2,5 miliar dolar untuk jangka waktu lima tahun, 1,5 miliar dolar untuk jangka waktu 10 tahun, dan 3 miliar dolar untuk jangka waktu 40 tahun yang akan berakhir 2060.
Maret lalu, Menteri Keuangan Arab Saudi, Mohammed bin Abdullah al-Jadaan mengatakan pemerintah Saudi mengajukan utang lebih besar sebagai akibat dari konsekuensi penyebaran virus corona dan penurunan harga minyak di pasar global.
Al-Jadaan memprediksi pinjaman Saudi tahun ini tidak akan melebihi 26,7 miliar dolar, tapi jumlahnya saat ini terus membengkak.
Saat ini, pemerintah Saudi telah menyetujui pemangkasan anggaran senilai 13,3 miliar dolar, yang mencakup pengeluaran 5 persen untuk anggaran 2020.
Pemerintah Saudi menyetujui anggaran belanja negara tahun 2020 dengan total 272 miliar dolar, padahal pendapatannya sebesar 222 miliar dolar. Dengan demikian terdapat defisit anggaran mencapai 50 miliar dolar.
Harga minyak di pasar global anjlok lebih dari setengah karena penurunan permintaan akibat penyebaran virus corona di dunia.

AS Terbukti Pasok Senjata untuk Teroris Daesh di Irak
Komandan pasukan relawan rakyat Irak, Al-Hashd al-Shaabi mengumumkan penemuan sejumlah senjata buatan AS di markas kelompok teroris Daesh di provinsi Kirkuk, wilayah utara Irak.
Ali al-Husseini hari Kamis (16/4/2020) mengatakan militer AS terus mendukung teroris di Irak dengan memasok amunisi dan senjata kepada mereka.
"Penemuan berbagai jenis senjata buatan Amerika Serikat di pangkalan teroris ini menunjukkan hubungan antara keduanya dan dukungan AS terhadap Daesh bertujuan untuk mengacaukan stabilitas kawasan," ujar Husseini.
"Pasukan al-Hashd al-Shaabi juga menemukan sejumlah besar mortir buatan AS di pangkalan-pangkalan Daesh di daerah selatan dan barat provinsi Kirkuk yang membuktikan bahwa para teroris menggunakan peralatan militer dari AS untuk menyerang rakyat Irak," tegasnya.
Pasukan al-Hashd al-Shaabi bersama militer Irak melancarkan operasi penumpasan teroris untuk memberangus para teroris Daesh yang masih tersisa di provinsi Salahuddin dan Anbar.
Meskipun mengalami kekalahan di bagian utara dan barat Irak, tetapi beberapa elemen dari kelompok teroris Daesh masih beroperasi di negara Arab ini.
Liga Arab: Waspadai Penyebaran Corona di Kamp Pengungsi Suriah
Liga Arab memperingatkan bahwa tragedi kemanusiaan dapat terjadi jika wabah virus Corona menyebar di kamp-kamp pengungsi di Suriah.
Seperti dikutip Sputniknews, Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit dalam sebuah pernyataan, Rabu (15/4/2020), memperingatkan tentang konsekuensi berbahaya dari penyebaran virus Corona di kalangan pengungsi dan pencari suaka Suriah.
Dia meminta semua pihak internasional untuk mempertahankan gencatan senjata di Suriah Utara.
"Situasi di Suriah sangat berbahaya dan masyarakat internasional perlu memperhatikan masalah ini," imbuh Aboul-Gheit.
Pernyataan Liga Arab menggarisbawahi bahwa 6,5 juta warga Suriah terlantar secara internal, dan lebih dari 5,6 juta orang telah meninggalkan Suriah sejak 2011.
Mayoritas pengungsi tinggal di kamp-kamp yang tidak memiliki sarana dasar kesehatan dan jika virus Corona menginfeksi mereka, maka sebuah bencana besar akan terjadi.
Gantz dan Netanyahu kembali Gagal Membentuk Kabinet
Ketua Partai Biru dan Putih Israel, Benny Gantz kembali gagal mencapai kesepakatan dengan Benjamin Netanyahu, untuk membentuk kabinet dan ia telah kehilangan kesempatan terakhir untuk tugas ini.
Presiden rezim Zionis, Reuven Rivlin pada Senin lalu, memperpanjang tenggat waktu 48 jam sehingga kedua pihak mencapai kompromi untuk membentuk kabinet.
Gantz telah kehilangan kesempatan itu pada Rabu dini hari, karena gagal mencapai kompromi dengan rivalnya, Netanyahu.
Parlemen Israel kini memiliki waktu 21 hari untuk mencalonkan seorang perdana menteri di antara mereka dengan dukungan 61 suara. Jika gagal, rezim Zionis akan kembali menggelar pemilu untuk empat kali berturut-turut.
Pemilu ketiga Knesset diselenggarakan pada Maret 2020, dan dua putaran pemilu sebelumnya juga gagal melahirkan kese
Aksi Teror Rezim Zionis terhadap Komandan Hizbullah di Suriah Gagal
Mobil seorang komandan Hizbullah Lebanon diserang rezim Zionis di dekat perbatasan negara itu dengan Suriah.
Kantor Berita Suriah (SANA) melaporkan, sebuah drone rezim Zionis menargetkan kendaraan Hizbullah Lebanon di dekat gerbang Jdeidat Yabous, provinsi Rif Dimashq, Suriah, yang berada di dekat perbatasan Lebanon.
Rezim Zionis berusaha membunuh komandan Hizbullah Lebanon, Emad Emad al-Karimi dalam serangan tersebut, tetapi gagal.
Sebelumnya, komandan Hizbullah Lebanon Mohammad Ali Younes hari Sabtu (5/4/2020) gugur diteror di selatan Lebanon.
Sejak pertengahan 2018, Israel semakin agresif meningkatkan aksi teror terhadap para pejabat dan komandan gerakan perlawanan Palestina dan Lebanon demi membalas kekalahannya.
Surat kabar Haaretz, Agustus 2018 menulis, Israel bermaksud mengulang skenario teror petinggi kelompok perlawanan daripada melancarkan operasi militer.
Pada 12 November 2019, Baha Abu Al Ata, salah satu komandan Jihad Islam Palestina gugur diteror Israel, dan skenario yang sama kali ini digunakan terhadap Hizbullah, sebagaimana aksi teror terhadap Mohammed Ali Younes.
Sheikh Isa Qassim Serukan Pembebasan Tapol Bahrain !
Pemimpin Gerakan Islam Bahrain menyerukan pembebasan tahanan politik negara ini di tengah penyebaran virus corona.
Sheikh Isa Qassim dalam pernyataan yang disampaikan hari Rabu (15/4/2020) memperingatkan dampak penyebaran virus corona di kalangan para tahanan politik.
"Tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat dan hati nurani manusia mengharuskan pembebasan tahanan politik," ujar Sheikh Qassim.
Pemerintah Bahrain telah mengumumkan pembebasan 901 tahanan dari penjara karena alasan kemanusiaan. Tetapi kemudian diketahui bahwa mereka yang dibebaskan adalah pekerja asing dan penjahat, sementara tidak ada satupun tahanan politik yang dibebaskan.
Sebelumnya, sebuah koalisi internasional yang terdiri dari 19 kelompok hukum meminta pihak berwenang Bahrain untuk membebaskan para pembela HAM dan tahanan politik yang telah dipenjara semata-mata karena menuntut hak mereka untuk kebebasan berekspresi dan demonstrasi damai.
Kementerian Kesehatan Bahrain mengumumkan sebanyak 1.522 orang di negara itu terinfeksi virus corona, dan 7 orang meninggal dunia.(PH)