Mengapa Kerusuhan Basrah Semakin Meningkat?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i84555-mengapa_kerusuhan_basrah_semakin_meningkat
Kerusuhan di Basrah semakin meningkat, sehingga segera setelah kembali dari Amerika Serikat, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi langsung menuju Basrah untuk meninjau perkembangan tersebut.
(last modified 2026-02-27T10:04:47+00:00 )
Aug 23, 2020 17:33 Asia/Jakarta
  • Kerusuhan di Irak
    Kerusuhan di Irak

Kerusuhan di Basrah semakin meningkat, sehingga segera setelah kembali dari Amerika Serikat, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi langsung menuju Basrah untuk meninjau perkembangan tersebut.

Selama lima tahun terakhir, Basrah menyaksikan terbentuknya demonstrasi anti-pemerintah hampir setiap musim panas dan berubah menjadi kekerasan sosial. Irak telah menghadapi masalah selama bertahun-tahun, seperti pengangguran dan layanan pemerintah yang lemah, terutama pasokan listrik dan air.

Sebagaimana masalah ini tidak dapat dikaitkan dengan pemerintahan Irak sebelumnya yang dipimpin oleh Adil Abdul-Mahdi, yang hanya berkuasa selama satu tahun, saat ini masalah tersebut tidak dapat dikaitkan dengan pemerintahan Mustafa al-Kadhimi. Masalah seperti ini adalah warisan yang diwarisi dari rezim Baath dan pendudukan Amerika untuk rakyat dan pemerintah Irak.

Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri Irak dari AS langsung menuju Basrah

Sekalipun demikian, ada dua masalah bahaya dan ancaman yang "muncul" di Irak yang menjadi perhatian besar rakyat Irak. Kedua isu tersebut adalah korupsi dan pembunuhan aktivis sipil. Korupsi di Irak telah menjadi naga berkepala tujuh, dan tidak ada prospek yang jelas untuk menguranginya.

Sejak jatuhnya rezim Baath pada tahun 2003, volume pencurian dan korupsi diperkirakan sekitar $ 400 miliar selama 17 tahun, dan ini tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karena warga percaya dengan benar bahwa dengan jumlah uang ini dapat memberantas masalah pengangguran, krisis listrik dan krisis air minum serta kelemahan infrastruktur.

Salah satu alasan protes di Basrah adalah bahwa meskipun Irak kaya dan terutama Basrah, krisis seperti pengangguran dan kekurangan listrik dan air minum menjadi tidak dapat diterima. 65 miliar barel cadangan minyak Irak yang terbukti berada di Basrah dan 3,5 juta barel minyak Basrah diekspor setiap hari, tetapi penduduk provinsi Syiah ini tidak menerima manfaat dari pendapatan minyaknya.

Di tengah protes rakyat di Basrah, pembunuhan aktivis masyarakat sipil yang bertujuan "menyuntikkan kekerasan" ke Irak telah memicu kemarahan. Pemerintah al-Kadhimi sebelumnya mencoba menenangkan pengunjuk rasa dengan memecat kepala polisi Basrah dan beberapa pejabat keamanan, tetapi ini tidak terjadi. Delapan orang dibunuh dalam satu bulan dan tiga orang oleh pria bersenjata dalam seminggu terakhir serta pembunuhan Dr. Roham Yaghoub, seorang ahli gizi, telah meningkatkan kekerasan.

Para analis dan tokoh Irak percaya bahwa apa yang terjadi di Basrah dilakukan oleh lawan dan beberapa arus internal. Qais al-Khazali, Sekretaris Jenderal Asaib Ahl al-Haq di Irak, percaya bahwa perkembangan di Basrah memiliki tujuan politik, dan beberapa partai berpengaruh sedang merencanakan dan melaksanakan perkembangan ini. Mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki, Pemimpin Koalisi Negara Hukum Irak juga melihat perkembangan di Basrah sebagai motivasi politik. Tampaknya ada dua tujuan politik di balik perkembangan di Basrah.

Tujuan pertama adalah menggulingkan Gubernur Basrah Asaad al-Eidani. Al-Eidani sebelumnya adalah calon dari Koalisi al-Binaa di Parlemen Irak (gabungan dari al-Fatah dan Negara Hukum) untuk jabatan Perdana Menteri, yang ditentang oleh Koalisi Sairun yang dipimpin oleh Muqtada al-Sadr. Pada saat yang sama, televisi al-Hadath dan Alarabiya milik Arab Saudi meluncurkan serangan luar biasa terhadap Asaad al-Eidani.

Gubernur Basrah Asaad al-Eidani

Al-Eidani pada Februari 2019 mengritik sanksi AS terhadap Iran dan mengatakan, "Basra tidak dapat menjadi bagian dari sistem sanksi AS terhadap Republik Islam Iran bahkan hanya untuk satu hari, dan kami tidak akan pernah menerima bahwa negara tetangga kami dianiaya melalui Irak."

Al-Eidani menegaskan, "Republik Islam Iran adalah negara pertama yang mendukung Irak selama krisis ISIS dan berdiri di samping negara kami dan menyerahkan para syahid dan menunjukkan pengorbanan,."

Tujuan kedua adalah akses ke penjara besar al-Hout dan mendobrak pintunya serta membebaskan tahanan terkenal yang ada di penjara ini. Para pemimpin partai Baath yang dibubarkan dan teroris yang didukung Saudi ditahan di penjara ini.