Turki dan Klaim Anti-Daesh
-
militer Turki
Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan, menyebutkan rencana pemerintah dan militer negara ini untuk meningkatkan serangan terhadap kelompok teroris Takfiri Daesh di perbatasan Suriah dan Turki.
Erdogan mengklaim perencanaan itu dalam rangka mereaksi serangan rudal Daesh ke kota perbatasan Kilis, Turki. Bahwa kota perbatasan Kilis, Turki, sejak Januari 2016 hingga kini telah berulang kali menjadi sasaran serangan roket dan mortir. Namun apakah benar roket-roket tersebut ditembakkan oleh Daesh? Apakah Erdogan benar-benar akan memberantas kelompok teroris Daesh, atau seperti di masa lalu menggunakan alasan pemberantasan Daesh sebagai kedok untuk menyerang pasukan KUrdi di wilayah utara Suriah dan perbatasan dengan Turki? Atau mugkin mengingat peningkatan kebencian publik terhadap Daesh di tingkat internasional, Turki sekarang mengambil posisi anti-Daesh dan anti-terorisme?
Merunut pada catatan masa lalu sejumlah kelompok politik dan media massa asing yang memiliki dan mempublikasikan dokumen serta bukti-bukti kerjasama Ankara dengan Daesh, dapat membantu menganalisa klaim Presiden Turki terkait peningkatan serangan militer Turki terhadap Daesh.
Laporan Pusat Studi Strategis Sekitar Mesir dapat dijadikan sandara bahwa untuk menganalisa mekanisme dan faktor dukungan Turki terhadap Daesh. Berdasarkan laporan itu, Presiden Turki sebelumnya melontarkan pernyataan yang ditujukan kepada Daesh bahwa Muslim tidak akan menzalimi saudara Muslimnya ketika 49 warga Turki disandera, dan ketika Konsulat Turki di Mosul diduduki oleh para teroris Daesh di Irak.
Ketika itu, Erdogan menyebut Daesh sebagai saudara Muslim dan menepis dukungan Ankara terhadap terorisme. Bahkan menutup mata di hadapan sejumlah aksi mereka. Standar ganda yang disebutkan dalam laporan lembaga tersebut mengindikasikan dalamnya krisis dalam politik luar negeri Turki untuk menyikapi krisis di Irak dan Suriah. Sedemikian rupa sehingga para pejabat Turki dalam berbagai sikapnya menolak menyebut Daesh sebagai kelompok teroris. Bahkan berulang kali menolak langkah-langkah militer untuk memberantas Daesh. Ankara pun menunjukkan sikap lunak terhadap aksi-aksi Daesh.
Turki berpendapat bahwa sikap lunaknya itu disebabkan penyanderaan berulang kali oleh Daesh dan sensitifitas masalah ini di media. Berbagai laporan dan fakta menunjukkan bahwa Turki memainkan peran penting dalam membantu Daesh dan bahwa Turki yang memiliki wilayah perbatasan kolektif sepanjang 1.200 kilometer dengan Irak dan Suriah, menjadi tempat lalu-lalang anasir teroris Daesh dari berbagai negara.
Laporan lainnya menyebutkan bahwa Turki telah mengirim suplai senjata kepada kelompok teroris di Suriah dan Irak serta merawat anasir teroris yang terluka di berbagai rumah sakit di perbatasan Suriah dan Irak. Tidak hanya itu, hotel-hotel di wilayah perbatasan Turki juga menjadi tempat persinggahan para anasir Daesh. (MZ)