Menyimak Rencana Kunjungan Presiden Israel ke Turki
-
Kontak telepon Erdogan dan Herzog
Sejumlah peristiwa yang terjadi selama beberapa tahun lalu menjadi peluang bagi dimulainya kembali hubungan Turki dan rezim Zionis Israel.
Isu normalisasi hubungan Israel dan negara-negara reaksioner Arab Teluk Persia dapat disebut sebagai peristiwa terbaru sejak beberapa tahun lalu hingga kini terkait isu Palestina. Oleh karena itu, bangsa-bangsa kawasan memandang dengan ragu dan khawatir pergerakan negara kawasan untuk menjalin hubungan rezim Zionis Israel.
Wajar bahwa di antara seluruh negara kawasan, Turki termasuk negara terpenting yang berupaya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Sementara pemerintah Erdogan pada awalnya mencoba menjalin hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Sementara itu, pemerintah Turki menuduh UEA dan Arab Saudi merencanakan kudeta di negara itu. Pejabat pemerintah Ankara selama dua bulan lalu, di pertemuan mereka dengan sejawat Arabnya di Abu Dhabi dan Riyadh gagal meraih sebuah kesepakatan.
Sepertinya pemerintah Arab menggulirkan syarat bagi presiden Turki dan pejabat Ankara lainnya, seperti normalisasi hubungan dengan Israel. Syarat ini membuat pejabat Ankara di pertemuannya dengan pejabat UEA dan Arab Saudi kembali dengan tangan kosong. Perilaku pemerintah reaksioner Arab Teluk Persia ini dinilai pemerintah dan rakyat Turki sebagai bentuk pelecehan.
Bagaimana pun juga dan terlepas dari pergerakan dan perilaku terpaksa pejabat pemerintah Ankara terkait kerja sama dengan pemerintah kawasan, khususnya pemerintah Arab Teluk Persia dan Israel yang menurut pengamat timbul dari krisis ekonomi dan meningkatnya kesulitan keuangan serta kehidupan rakyat Turki, tetap saja sebuah langkah keliru dan jatuh dari lubang ke sumur (jatuh ketimpa tangga). Di kondisi saat ini, tidak ada keraguan bahwa kebijakan Turki bekerja sama dengan Israel, termasuk kesalahan pemerintah Erdogan untuk kondisi seperti saat ini.
Sepertinya pejabat Ankara memandang isu Palestina seperti isu lainnya seperti isu Kaukasus. Sejatinya selama peristiwa ini selaras dengan kepentingan Turki, di pertemuan ini Ankara akan mendukung pihak Muslim, dan sebaliknya, selama tidak ada kepentingan petinggi Ankara, maka mereka akan mengabaikan masalah tersebut.
Pemerintah Turki selama ini mendukung isu Palestina karena kepentingannya di berbagai bidang politik dan sosial. Tak diragukan lagi bahwa isu Palestina penting dari sisi bahwa ia menjadi isu dunia Islam, dan setiap negara yang mengklaim sebagai pemimpin dunia Islam di dunia, berusaha untuk menyelesaikan kendala berkepanjangan ini.
Dalam hal ini, pejabat pemerintah Erdogan yang senantiasa ingin berpetualang dan menyalahgunakan kondisi krisis di kawasan, kini mereka sendiri yang justru dililit krisis, berusaha memanfaatkan posisi Israel demi kepentingan Turki. Bagaimana pun juga sebagai upaya kedua pihak untuk melanjutkan hubungan, Presiden Recep Tayyib Erdogan mengonfirmasi kunjungan presiden Israel ke Ankara.
Erdogan usai kontak telepon dengan Presiden Israel, Isaac Herzog menyatakan, "Ia akan berkunjung ke Turki."
Sekaitan dengan ini, televisi Israel Rabu (19/1/2022) dini hari mengutip pejabat Tel Aviv, membenarkan Herzog mendapat undangan dari Erdogan untuk berkunjung ke Turki. Menurut laporan media Israel, pejabat Zionis saat merespon usulan Erdogan untuk membangun jaringan pipa gas Israel ke Eropa melalui Turki secara transparan menyatakan, " Setiap kemajuan dalam hal ini tidak akan mengorbankan hubungan strategis dengan Yunani dan Siprus, dua sekutu rezim Israel."
Statemen pejabat Israel menunjukkan bahwa pihak Zionis tidak bersedia menjalin hubungan dengan Turki, tapi dengan harga kehilangan sekutunya. Sejatinya, Israel dengan dalih memulai hubungan dengan Turki, tidak ingin kehilangan sekutunya di bagian lain Laut Mediterania, yakni Yunani dan Siprus. Menariknya meski pemerintah Turki dilecehkan, tapi pejabat Ankara masih tetap bersiap untuk menyambut presiden Israel. (MF)