Dampak Destruktif Larangan Pendidikan Perempuan Afghanistan
Para psikiater dan ahli kesehatan mental Afghanistan menilai pembatasan pekerjaan dan pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan telah menyebabkan depresi yang meluas di kalangan mereka.
Kantor berita Shafaqna melaporkan bahwa pakar kesehatan mental menilai penerapan pembatasan terhadap pekerjaan dan pendidikan perempuan telah menyebabkan banyak perempuan dan anak perempuan Afghanistan menderita berbagai penyakit mental.
The Washington Post dalam laporan terbarunya menyinggung keadaan rumah sakit jiwa di Afghanistan, yang sebagian dihuni anak perempuan dan perempuan yang menghadapi depresi dan tekanan mental.
Hal ini hanyalah sebagian dari permasalahan dan dilema yang dihadapi rakyat Afghanistan akibat kebijakan penghentian pendidikan bagi anak perempuan di tingkat sekolah menengah atas dan universitas. Anak perempuan yang dapat menjadi penentu masa depan Afghanistan, kini hanya bisa tinggal di rumah, dan Taliban tidak menepati janjinya untuk menciptakan Afghanistan sebagai negara yang kondusif bagi pendidikan anak perempuan.
Akram Arefi, pakar politik internasional, mengatakan, “Di bawah tekanan internal, regional dan internasional, otoritas Taliban dari waktu ke waktu berbicara tentang upaya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan anak perempuan. Namun dalam praktiknya, mereka tidak mengambil tindakan apa pun dalam hal ini, dan situasi ini menyebabkan keputusasaan di kalangan anak perempuan Afganistan, yang konsekuensinya menimbulkan berbagai macam penyakit mental yang mengancam kesehatan perempuan Afganistan.
Masalah psikologis merupakan bagian dari hambatan bagi anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini mempunyai konsekuensi ekonomi dan sosial serius. Memaksa keluarga untuk keluar dari Afghanistan demi pendidikan putri mereka, menyebabkan larinya dana dan sumber daya manusia dari dalam negeri, serta menciptakan kesenjangan dalam sistem medis dan layanan sosial serta administrasi yang dibutuhkan Afghanistan di masa depan. Inilah isu sangat penting yang dihadapi oleh masyarakat Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban.
Anak perempuan saat ini adalah generasi masa depan Afghanistan, yang menginginkan pendidikan dan kemajuan di bawah pengaruh perkembangan global. Menghalangi pendidikan anak perempuan sebenarnya merupakan pukulan bagi masyarakat ilmiah, medis dan administratif Afghanistan, yang tidak dapat diisi dengan mudah. Soroush Amiri, pakar masalah Afghanistan, mengatakan, “Masyarakat Afghanistan telah menghadapi banyak masalah selama lebih dari empat dekade, termasuk perang saudara dan pendudukan, serta banyak korban jiwa yang sangat mengancam generasi masa depan Afghanistan,".

Dalam situasi seperti ini, tampaknya masyarakat Afganistan tidak mempunyai kapasitas untuk menanggung tekanan tambahan, terutama terhadap perempuan. Apalagi sebagian besar perempuan Afganistan adalah pencari nafkah dan pengangguran yang mereka alami dianggap sebagai kerugian besar bagi mereka.
Bagaimanapun, seiring berjalannya waktu, dampak buruk dan konsekuensi dari penghentian pendidikan bagi anak perempuan dan pengangguran perempuan di masyarakat Afghanistan semakin terlihat.
Dari sudut pandang medis, terjadinya gangguan jiwa pada remaja perempuan Afghanistan bukanlah persoalan sederhana yang bisa diabaikan oleh Taliban sebagai penguasa negara ini. Namun merupakan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada generasi muda masyarakat Afghanistan.
Anak perempuan Afghanistan, sebagaimana putri para pemimpin Taliban yang belajar di luar Afghanistan, seperti di Pakistan dan Qatar, ingin melanjutkan pendidikan mereka dan mengharapkan keadilan.
Baru-baru ini, Taliban mengatakan bahwa mereka sedang berupaya untuk menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pendidikan anak perempuan dan merevisi buku pelajaran. Mereka juga berjanji akan membuka kembali sekolah dan universitas untuk anak perempuan. Tapi, tidak ada prospek yang jelas, yang menimbulkan masalah mental dan ganguang psikologis bagi gadis-gadis Afghanistan.
Keluarga-keluarga di Afghanistan berharap Taliban akan membuka sekolah dan universitas sesegera mungkin. Sebab hal ini akan mengurangi dampak psikologis yang buruk dari kurangnya pendidikan bagi anak perempuan, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit mental, termasuk depresi.(PH)