Ketika Erdogan Kecewa pada Sekutu
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan kekecewaan karena ia merasa kunjungan Menteri Luar Negeri AS John Kerry ke Ankara sudah terlambat. Ia mengaku kecewa karena perjalanan itu dilakukan 45 hari setelah kudeta di Turki.
Ini adalah reaksi Erdogan atas rencana lawatan Kerry ke Ankara pada 24 Agustus mendatang. Namun, kritik Erdogan tidak hanya terbatas pada keterlambatan kunjungan menlu AS.
Erdogan dalam satu pernyataan pada hari Senin mengatakan, Barat membiarkan rakyat Turki sendirian dalam perkembangan terbaru dan jika Uni Eropa tidak melaksanakan janjinya terkait pembebasan visa kunjungan warga Turki ke Eropa, maka Ankara akan membatalkan kesepakatan tentang pengungsi dengan Eropa.
Ia berbicara tentang kurangnya rasa empati dari sekutu dan mitra Turki di Eropa dan AS mengenai sikap bersatu rakyat Turki dalam menindak para pelaku kudeta. Erdogan mengatakan ia berharap para pemimpin dunia mereaksi kudeta di Turki seperti mereka menyikapi serangan terhadap kantor Charlie Hebdo pada Januari 2015.
"Saya berharap mereka datang ke sini untuk Turki," ujar Erdogan.
Uni Eropa dilaporkan akan mempertimbangkan 72 syarat untuk pembebasan visa bagi Turki setelah negara itu ingin menerapkan kembali hukuman mati. Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan ancaman Turki terhadap Eropa tidak akan efektif dan menambahkan, jika Turki ingin warganya menikmati bebas visa, maka mereka harus melaksanakan 72 syarat yang sudah disepakati.
Pada Mei lalu, Erdogan mengabarkan Uni Eropa bahwa parlemen Turki akan memblokir kesepakatan migran, jika tidak ada kemajuan dalam masalah perjalanan bebas visa. Uni Eropa percaya bahwa pemerintah Ankara belum memenuhi beberapa tuntutan termasuk perlindungan hak asasi manusia dan syarat-syarat yang diperlukan untuk menikmati perjalanan bebas visa bagi warga Turki.
Kali ini, Turki benar-benar kecewa dengan Barat setelah mereka mengkritik tindakan pemerintah Ankara dalam menindak para pelaku kudeta. Untuk mengobati rasa kecewanya, Turki mempercepat proses pemulihan hubungan dengan Rusia dan Erdogan juga tidak menunda-nunda kunjungannya ke Moskow.
Erdogan sekarang menekankan peran kunci Rusia dalam mendorong kesepakatan damai di Suriah dan peluang penyelesaian krisis di negara itu melalui aksi bersama Ankara dan Moskow.
Ia tampaknya ingin berterimakasih kepada Presiden Vladimir Putin, yang mendukung Turki pasca peristiwa kudeta. Ia juga mengusulkan kerjasama kolektif Ankara dan Moskow untuk memecahkan krisis-krisis regional.
Ankara mulai mengubah haluan dari bekerjasama dengan Barat ke arah kerjasama dengan Moskow. (RM)