Mengapa Sekjen NATO Bersikeras agar Pertahanan Eropa Bergantung pada AS?
-
Sekjen NATO
Pars Today – Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menekankan ketergantungan pertahanan Eropa pada Amerika Serikat.
Menurut laporan Pars Today, Mark Rutte, Sekretaris Jenderal Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO), menyatakan bahwa negara-negara anggota NATO masih dapat mengandalkan Amerika Serikat, dan sistem pertahanan Eropa tidak boleh terpisah dari pertahanan Amerika. Pada hari Jumat (26/12/2025), dalam wawancara dengan kantor berita Jerman (DPA), ia mengatakan: “Eropa harus lebih banyak membiayai keamanannya, tetapi bersama dengan Amerika Serikat.” Rutte menambahkan: “Saya yakin Amerika Serikat sepenuhnya mendukung NATO. Tidak ada keraguan tentang hal ini.”
Sekretaris Jenderal NATO menolak gagasan Trump bahwa Eropa harus sepenuhnya menanggung tanggung jawab pertahanannya sendiri. Mark Rutte mengklaim bahwa meskipun Washington pada Oktober 2025 memulangkan satu brigade tempur dari Rumania ke Amerika Serikat tanpa pengganti, Amerika tetap akan berkomitmen terhadap benua ini. Namun, langkah tersebut dianggap sebagai tanda pertama pengurangan nyata kehadiran militer Amerika di Eropa.
Pernyataannya juga muncul ketika sekutu-sekutu Eropa menunggu keputusan Amerika yang diperkirakan akan memindahkan sumber daya dari Eropa ke kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, Amerika Serikat pada Maret 2025 menangguhkan dukungan militernya terhadap Ukraina, sehingga memaksa negara-negara Eropa untuk menutup celah tersebut.
Sementara itu, dokumen Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat yang diterbitkan pada Desember 2025 secara tegas meminta negara-negara Eropa untuk menanggung biaya pertahanan mereka sendiri. Hal ini, bersama dengan spekulasi mengenai berkurangnya komitmen Amerika Serikat terhadap NATO, telah menjadikan percepatan pembentukan sistem pertahanan independen Eropa sebagai sebuah keharusan bagi benua hijau.
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, berulang kali meminta sekutu-sekutu Eropa Washington untuk “membagi beban pertahanan” dan “menanggung tanggung jawab utama” atas keamanan benua tersebut. Dalam pertemuan para pemimpin negara anggota NATO pada Juni 2025 di Den Haag, mereka berkomitmen untuk meningkatkan belanja militer hingga 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan biaya lain yang terkait dengan pertahanan hingga 1,5 persen. Hingga saat ini, hanya Polandia dan Lituania yang melampaui angka 4 persen. Menurut perkiraan NATO, lebih dari separuh negara anggota masih berada di kisaran 2 persen.
NATO sejak didirikan pada tahun 1949 dibangun atas dasar kerja sama antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Dengan kekuatan militer, teknologi canggih, dan anggaran pertahanan yang sangat besar, Amerika Serikat selalu memainkan peran sebagai tulang punggung pakta militer Barat ini.
Tampaknya sikap terbaru Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, yang menegaskan bahwa Eropa tidak boleh sepenuhnya mandiri dari Amerika Serikat dalam bidang pertahanan, didasarkan pada beberapa alasan:
- Kekuatan militer Amerika Serikat jauh melampaui gabungan negara-negara Eropa. Sekitar 75 persen Produk Domestik Bruto negara-negara NATO berada di luar Uni Eropa dan sebagian besar dimiliki oleh Amerika. Keunggulan ekonomi dan militer ini membuat Eropa membutuhkan dukungan Amerika untuk menghadapi ancaman seperti Rusia atau terorisme global.
- Struktur strategis NATO dibangun di atas kehadiran Amerika. Washington bukan hanya penyedia terbesar peralatan dan teknologi militer, tetapi juga memiliki jaringan intelijen dan logistik yang luas, yang tidak dapat digantikan oleh Eropa secara mandiri. Sekretaris Jenderal NATO berpendapat bahwa keamanan Eropa harus dijamin bersama Amerika, bukan terpisah darinya.
- Tekanan Amerika untuk meningkatkan biaya pertahanan Eropa merupakan faktor lain. Washington mengharapkan negara-negara Eropa menanggung porsi lebih besar dalam pembiayaan militer, namun tetap mempertahankan peran kepemimpinan bagi dirinya. Hal ini membuat Eropa pada praktiknya tetap bergantung pada Amerika, bahkan jika anggaran militernya meningkat.
Dampak dari ketergantungan ini bersifat multidimensi. Para pendukung ketergantungan keamanan Eropa pada Amerika Serikat, seperti Mark Rutte, berpendapat bahwa keamanan Eropa dengan cara ini terjamin, karena Amerika setidaknya secara resmi masih berkomitmen pada pertahanan kolektif dalam kerangka NATO. Mereka meyakini bahwa hal ini memungkinkan negara-negara Eropa mengalokasikan sumber daya mereka ke bidang lain seperti pembangunan ekonomi atau kesejahteraan sosial. Selain itu, kehadiran Amerika di Eropa mencegah meluasnya pengaruh Rusia dan kekuatan-kekuatan pesaing lainnya.
Secara keseluruhan, penegasan Sekretaris Jenderal NATO mengenai ketergantungan pertahanan Eropa pada Amerika didasarkan pada realitas kekuatan militer dan ekonomi. Menurut pandangannya, Eropa tanpa Amerika tidak dapat sepenuhnya bertahan menghadapi ancaman global. Namun, ketergantungan ini memiliki konsekuensi yang dapat membatasi kemandirian strategis Eropa dan membuatnya rentan terhadap perubahan kebijakan luar negeri Amerika. Oleh karena itu, masa depan keamanan Eropa tetap bergantung pada tingkat komitmen Amerika terhadap NATO dan kemampuan Eropa untuk meningkatkan kontribusinya dalam pertahanan kolektif.
Di sisi lain, ketergantungan ini menciptakan keterbatasan bagi kemandirian strategis Eropa. Banyak politisi Eropa berpendapat bahwa ketergantungan berlebihan pada Amerika dapat membuat Eropa rentan terhadap perubahan politik di Washington. Contohnya adalah kebijakan “America First” yang diadopsi Trump dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat pada praktiknya lebih mengutamakan prioritasnya sendiri dibandingkan kepentingan sekutunya. Kekhawatiran inilah yang mendorong sebagian pemimpin Eropa menyerukan pembentukan tentara independen Eropa, meskipun Sekretaris Jenderal NATO menganggap ide tersebut tidak diperlukan. (MF)