Politico: “Trumpisme” Tidak Laku di Eropa
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today – Donald Trump tidak populer bahkan di kalangan partai-partai sayap kanan Eropa, dan publik Eropa secara umum memandangnya secara negatif.
Hasil survei terbaru Politico menyajikan gambaran yang kompleks dan sebagian kontradiktif mengenai posisi Donald Trump dalam opini publik Eropa. Survei ini menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat tersebut, bertolak belakang dengan anggapan umum, tidak menikmati popularitas luas bahkan di antara pendukung partai-partai kanan populis Eropa. Hal ini terjadi meskipun Trump secara terbuka mendukung pertumbuhan arus politik tersebut di Eropa dan menganggapnya sejalan dengan proyek “America First”.
Menurut laporan Pars Today mengutip Fars, survei yang dilakukan bekerja sama dengan lembaga Public First ini melibatkan 10.510 responden di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, dan Jerman. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat popularitas Trump di Eropa secara keseluruhan rendah. Di Prancis dan Jerman, sekitar dua pertiga responden menyatakan pandangan negatif terhadapnya—sebuah angka yang mencerminkan jurang yang dalam antara Trump dan opini publik di dua kekuatan utama Uni Eropa.
Kaum Kanan Eropa: Dukungan yang Hati-hati terhadap Trump
Bahkan di kalangan pendukung partai-partai kanan populis—yang secara wacana dianggap paling dekat dengan Trump—dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat itu terbatas dan bersifat hati-hati. Di Prancis, hanya sekitar 30 persen pemilih Partai Rassemblement National yang dipimpin Marine Le Pen memiliki pandangan positif terhadap Trump, sementara 38 persen menyatakan pandangan negatif. Di Jerman, pendukung partai Alternative für Deutschland hampir terbagi sama rata antara yang mendukung dan menentang Trump.
Data ini menyampaikan pesan yang jelas bagi partai-partai kanan Eropa: kedekatan berlebihan dengan Trump tidak serta-merta meningkatkan popularitas domestik, bahkan justru dapat menjauhkan sebagian pemilih potensial—terutama warga yang meskipun berpandangan nasionalis, bersikap skeptis terhadap kebijakan agresif Amerika Serikat.
Inggris: Pengecualian di Tengah Eropa
Inggris menjadi satu-satunya negara di mana Trump menikmati tingkat penerimaan yang relatif lebih tinggi. Di kalangan pendukung Partai Reform yang dipimpin Nigel Farage, sekitar separuh responden memiliki pandangan positif terhadap Trump. Meski demikian, bahkan di Inggris pun belum dapat dikatakan bahwa Trump memiliki popularitas yang kuat dan menyeluruh, karena sebagian besar masyarakat tetap memandangnya secara negatif.
Tantangan “America First” di Eropa
Salah satu poin kunci dalam survei ini adalah kontradiksi mendasar antara nasionalisme Eropa dan kebijakan “America First” Trump. Pendukung partai-partai kanan Eropa sangat menekankan prioritas kepentingan nasional mereka sendiri dan melihat hal tersebut sebagai keunggulan Trump dibandingkan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris saat ini. Namun, pendekatan yang sama justru berpotensi menempatkan mereka berseberangan dengan kebijakan ekonomi dan perdagangan Amerika Serikat.
Sebagian besar pemilih kanan berpendapat bahwa kebijakan Trump memang menguntungkan Amerika Serikat, tetapi merugikan negara-negara lain. Pandangan ini terlihat jelas dalam isu tarif perdagangan Amerika terhadap industri Eropa, di mana bahkan banyak pendukung partai kanan menilai tarif tersebut merugikan perekonomian nasional mereka.
Implikasi Politik bagi Pemilu Mendatang
Hasil survei ini menjadi sangat penting menjelang sejumlah pemilu krusial di Eropa, termasuk pemilihan lokal di Prancis dan pemilihan presiden Prancis tahun 2027. Partai Rassemblement National, yang saat ini merupakan partai tunggal terbesar di parlemen Prancis, berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan nasional yang mandiri dan menjaga jarak dari kesan ketergantungan pada kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat.
Pernyataan keras para pemimpin partai ini terhadap pendekatan Trump—termasuk kritik terhadap apa yang mereka sebut sebagai “perilaku kolonial” Amerika—menunjukkan bahwa bahkan arus politik yang sejalan secara ideologis dengan Trump pun enggan menanggung biaya politik dari kedekatan terbuka dengannya.
Trumpisme Tidak Selalu Bisa Diekspor ke Eropa
Secara keseluruhan, survei Politico menunjukkan bahwa Donald Trump meskipun menjadi sumber inspirasi bagi sebagian arus kanan Eropa, gagal tampil sebagai figur populer dalam opini publik benua tersebut. Bahkan di antara sekutu ideologisnya, dukungan terhadap Trump bersifat terbatas, bersyarat, dan disertai keraguan. Realitas ini berpotensi menjadi tantangan serius bagi strategi Amerika Serikat dalam memperkuat sayap kanan Eropa, sekaligus menegaskan bahwa “Trumpisme” tidak serta-merta merupakan model politik yang dapat diekspor ke Eropa.