Mengapa Negara-Negara Regional Menginginkan Stabilitas Iran?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184274-mengapa_negara_negara_regional_menginginkan_stabilitas_iran
Pars Today - Kerusuhan baru-baru ini di Iran dan ancaman serangan militer Trump untuk mendukung apa yang disebut sebagai para pengunjuk rasa telah menimbulkan kekhawatiran di negara-negara kawasan.
(last modified 2026-01-18T08:11:01+00:00 )
Jan 18, 2026 15:09 Asia/Jakarta
  • Iran
    Iran

Pars Today - Kerusuhan baru-baru ini di Iran dan ancaman serangan militer Trump untuk mendukung apa yang disebut sebagai para pengunjuk rasa telah menimbulkan kekhawatiran di negara-negara kawasan.

Situs Daily Sabah, dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mustafa Janer pada 15 Januari dengan judul "Siapa yang Menginginkan 'Runtuhnya Pemerintah' di Iran?", meneliti isu kerusuhan baru-baru ini di Iran dan ancaman serangan militer Trump untuk mendukung apa yang disebut sebagai para pengunjuk rasa, yang telah menimbulkan kekhawatiran di negara-negara kawasan.

Perkembangan geopolitik di kawasan

Dari perspektif penulis, kerusuhan di Iran terjadi pada saat kawasan mengalami perubahan geopolitik yang mendalam. Perkembangan besar terakhir sebelum periode ini adalah gelombang kebangkitan Islam yang mengubah struktur politik Asia Barat dan Afrika Utara dan membuka jalan bagi perluasan pengaruh Iran di negara-negara seperti Suriah, Lebanon, Irak, dan Yaman.

Situasi ini menyebabkan beberapa negara Arab menganggap Iran sebagai sumber ketidakstabilan, dan selama masa kepresidenan Donald Trump, tekanan terhadap Tehran mencapai puncaknya. Namun setelah pandemi Virus Corona dan penurunan dukungan AS untuk sekutu regionalnya, negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, dan Mesir juga menghadapi tantangan baru.

Perang di Ukraina juga menambah ketidakstabilan global dan meningkatkan kebutuhan akan stabilitas regional. Dalam lingkungan seperti itu, Iran dan Arab Saudi memutuskan untuk menormalisasi hubungan pada tahun 2023, dan Turki juga memperbaiki hubungannya dengan negara-negara Arab.

Konsekuensi 7 Oktober dan peran Israel

Setelah serangan 7 Oktober 2023, Israel dikenal sebagai sumber ketidakstabilan regional yang paling penting. Serangan Israel terhadap Lebanon, Suriah, dan Iran telah mengancam keamanan seluruh kawasan. Penerbangan pesawat militer Israel di langit berbagai negara dan bahkan menargetkan negara-negara seperti Qatar menunjukkan penyebaran ketegangan.

Rezim Zionis Israel juga berperan dalam peristiwa lain, mulai dari krisis Sudan dan perkembangan di Tanduk Afrika hingga mendukung separatisme di Somaliland. Rezim ini menentang struktur politik yang stabil di kawasan dan mendapat keuntungan dari melemahnya pemerintahan.

Sebaliknya, negara-negara seperti Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir berupaya memperkuat pemerintahan regional dan meningkatkan kapasitas kelembagaan mereka. Negara-negara ini telah berinvestasi di Suriah dan juga mengambil posisi serupa terhadap perkembangan di Sudan dan Somaliland. Iran juga telah bersekutu dengan Turki dan Arab Saudi dalam hal ini.

Perkembangan di Yaman dan persaingan regional

Operasi udara Saudi baru-baru ini memberikan pukulan serius terhadap rencana Israel di Yaman. Serangan oleh Dewan Transisi Selatan Yaman, yang berupaya mengganggu negosiasi antara Arab Saudi dan Ansarullah di Yaman, dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Riyadh.

Respons cepat Arab Saudi menunjukkan bahwa mereka bermaksud untuk melawan rencana Israel di Tanduk Afrika dan Laut Merah. Perjanjian pertahanan baru-baru ini antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan juga dapat dianalisis dalam kerangka ini.

Signifikansi geopolitik dari kerusuhan di Iran

Media Barat menggambarkan Reza Pahlavi sebagai kemungkinan pemimpin para perusuh, tetapi sejauh mana dukungan sebenarnya di dalam Iran masih diragukan. Hubungan dekatnya dengan rezim Zionis, dukungannya terhadap serangan rezim terhadap Iran, dan kehadiran para pendukungnya dengan bendera Israel menunjukkan bahwa kerusuhan itu terkait dengan perhitungan regional Tel Aviv.

Beberapa media bahkan menganggap disintegrasi Iran sebagai pilihan yang lebih diinginkan oleh rezim Zionis daripada kembalinya Pahlavi.

Bagaimana negara-negara regional bereaksi dalam situasi ini?

Menteri Luar Negeri Turki telah menunjuk peran Israel di balik kerusuhan di Iran, dan sumber-sumber Iran telah melaporkan kerja sama intelijen dengan Turki melawan kelompok-kelompok seperti PJAK. Menteri Luar Negeri Oman telah mengunjungi Tehran, dan Arab Saudi terus melakukan kontak diplomatik dengan Iran.

Mengapa negara-negara regional tidak menginginkan Iran runtuh?

Kebungkaman negara-negara Arab, terutama negara-negara Teluk, berakar pada kekhawatiran tentang penyebaran kerusuhan di dalam perbatasan mereka dan juga dari ketakutan menjadi sasaran Iran (jika terjadi serangan AS dan Iran membalas terhadap pangkalan AS).

Namun yang lebih penting, keruntuhan Iran (seperti yang dibayangkan oleh Washington dan Tel Aviv) dapat menciptakan krisis yang tidak dapat ditangani oleh negara mana pun. Karena alasan ini, hampir semua aktor regional, kecuali rezim Zionis, ingin menjaga stabilitas di Iran.(sl)