Kontroversi Komentar Dubes AS di Tel Aviv, Negara Arab Pilih Bungkam
-
Duta Besar AS untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Mike Huckabee
ParsToday – Pernyataan Duta Besar Amerika Serikat yang mendukung pendudukan rezim Zionis atas seluruh negara Arab menuai reaksi, sementara sikap negara-negara Arab dinilai sangat pasif.
Melaporkan dari kantor berita Tasnim, Senin, 23 Februari 2026, pernyataan provokatif Duta Besar AS untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Mike Huckabee, tentang hak rezim Zionis atas negara-negara Arab dan aneksasi wilayah Arab telah menjadi isu kontroversial di kalangan Arab. Pernyataan ini mengingatkan pada retorika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beberapa bulan lalu tentang proyek yang disebut "Israel Raya".
Huckabee dalam sebuah wawancara media mengklaim berdasarkan teks Perjanjian Lama, tanah dari Sungai Nil hingga Efrat dijanjikan kepada "keturunan Ibrahim". Wilayah ini secara geografis mencakup sebagian Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon, Irak, dan Arab Saudi.
Ketika ditanya tentang legitimasi penguasaan wilayah ini oleh Israel, Huckabee menjawab, "Jika mereka mengambil semuanya, itu akan baik-baik saja."
Pernyataan ini cepat menyebar di media sosial. Sejumlah pengguna menggambarkannya sebagai indikasi pendekatan ideologis dalam kebijakan luar negeri AS.
Kaitan dengan Wacana "Israel Raya"
Analis regional meyakini pengungkapan pandangan semacam ini mengingatkan pada wacana yang disebut "Israel Raya". Wacana ini sebelumnya dikemukakan sejumlah tokoh politik Israel. Dalam kerangka ini, disebut artikel Oded Yinon tahun 1982 yang menekankan pemecahan negara Arab menjadi unit-unit kecil untuk menjamin supremasi strategis Israel. Rencana ini dikenal dalam literatur politik regional sebagai "Rencana Yinon".
Reaksi Arab; Kecaman Tanpa Tindakan
Negara-negara Arab dan Islam mengeluarkan reaksi berupa pernyataan kecaman. Dewan Kerja Sama Teluk dan Organisasi Kerja Sama Islam menolak pernyataan Dubes AS di Tel Aviv dan menilainya bertentangan dengan hukum internasional. Namun, reaksi sebagian besar terbatas pada permintaan "penjelasan resmi" dari pemerintah AS. Tidak dilaporkan adanya tindakan diplomatik nyata seperti pemanggilan duta besar.
Sejumlah analis Arab menggambarkan pendekatan ini sebagai tindakan hati-hati yang mencerminkan penghindaran eskalasi langsung dengan Washington. Sementara itu, para pengkritik menilai tingkat respons tidak sebanding dengan dimensi pernyataan yang dilontarkan.
Pernyataan terbaru Dubes AS di Wilayah Pendudukan Palestina tampaknya kembali menyoroti diskusi tentang masa depan tatanan geopolitik kawasan dan peran kekuatan asing di dalamnya.(sl)