Konsekuensi Tarif Trump terhadap Greenland
-
Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa
Pars Today - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa memperingatkan konsekuensi ekonomi dan geopolitik dari tarif yang diumumkan Amerika Serikat terhadap sekutu Eropa terkait isu Greenland, dan menekankan bahwa kebijakan ini akan membuat Eropa dan Amerika Serikat lebih miskin dan melemahkan kemakmuran bersama kedua sisi Atlantik.
Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa memperingatkan konsekuensi ekonomi dan geopolitik dari tarif yang diumumkan Amerika Serikat terhadap sekutu Eropa terkait isu Greenland, dan menekankan bahwa risiko pemberlakuan tarif akan membuat Eropa dan Amerika Serikat lebih miskin dan melemahkan kemakmuran bersama, dan bahwa perbedaan tidak boleh dibiarkan mengaburkan fokus pada tugas utama, yaitu membantu mengakhiri perang Rusia terhadap Ukraina.
Kallas juga mengklaim bahwa Tiongkok dan Rusia mengeksploitasi ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terkait Greenland.
Para diplomat Eropa telah memanggil duta besar Uni Eropa ke Brussels untuk pertemuan darurat guna membahas perkembangan Greenland dan ancaman baru Trump.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan bahwa tarif 10% akan dikenakan pada negara-negara yang menentang aneksasi Greenland oleh AS mulai 1 Februari, dan angka ini akan meningkat menjadi 25% mulai 1 Juni.
Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Belanda, Prancis, Jerman, dan Inggris termasuk di antara negara-negara yang terkena dampak tarif ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah itu "tidak dapat diterima", dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memperingatkan risiko keretakan dalam aliansi transatlantik dan mengatakan Uni Eropa akan mempertahankan kedaulatannya.
Pada saat yang sama, Trump bersikeras pada posisinya, dan menuduh negara-negara Eropa memulai "permainan berbahaya" atas kendali Greenland. Sementara itu, ribuan orang berkumpul di Kopenhagen dan Nuuk, ibu kota Greenland, untuk memprotes kebijakan ini, sambil memegang spanduk anti-Amerika dan menuntut diakhirinya upaya Washington untuk mengambil alih pulau itu.
Greenland, sebagai wilayah semi-otonom di dalam Kerajaan Denmark dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, telah menjadi salah satu pusat persaingan baru antara kekuatan-kekuatan besar karena lokasi geopolitiknya yang istimewa di Arktik dan kepemilikan sumber daya alam dan mineral yang langka.(sl)