Apakah Ketegangan Tiongkok-AS Soal Minyak Kuba telah Memasuki Fase Baru?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184848-apakah_ketegangan_tiongkok_as_soal_minyak_kuba_telah_memasuki_fase_baru
Pars Today - Tiongkok telah mengumumkan dukungannya untuk Kuba dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
(last modified 2026-02-01T04:10:52+00:00 )
Feb 01, 2026 11:09 Asia/Jakarta
  • Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok
    Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok

Pars Today - Tiongkok telah mengumumkan dukungannya untuk Kuba dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Tiongkok telah menolak langkah Presiden AS baru-baru ini untuk mengenakan tarif pada negara mana pun yang memperdagangkan minyak dengan Kuba dan telah mengumumkan dukungannya untuk negara Amerika Selatan itu.

Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan pada hari Jumat (30/01/2026) bahwa Tiongkok dengan tegas menentang tindakan yang merampas hak-hak rakyat Kuba. Ia mengatakan, "Beijing mendukung Kuba dalam membela kedaulatan dan keamanan nasionalnya serta menghadapi campur tangan asing." Guo menambahkan, "Tiongkok dengan tegas menentang tindakan yang merampas hak-hak rakyat Kuba."

Komentar pemerintah Tiongkok tersebut muncul sebagai tanggapan terhadap perintah eksekutif terbaru Trump yang menyatakan keadaan darurat nasional dan menetapkan proses untuk mengenakan tarif pada barang-barang dari negara-negara yang menjual atau menyediakan minyak ke Kuba. Gedung Putih mengklaim bahwa langkah itu bertujuan untuk melindungi keamanan nasional dan kepentingan kebijakan luar negeri AS dengan menekan Kuba terhadap apa yang disebut pemerintah AS sebagai "tindakan dan kebijakan jahat".

Perintah itu memberi wewenang kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick untuk mengambil "semua tindakan yang diperlukan" untuk memberlakukan tarif dan tindakan terkait lainnya.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla mengatakan negaranya mengutuk keras tindakan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini terhadap negaranya dan blokade minyak oleh Washington. Ia menekankan bahwa Washington mencoba untuk memaksakan kondisi kehidupan yang sulit kepada rakyat Kuba melalui blokade energi.

Ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat tampaknya telah memasuki fase baru dan kompleks dengan dikeluarkannya perintah eksekutif oleh Presiden AS pada Januari 2026 yang memberlakukan tarif pada negara-negara yang menjual minyak ke Kuba. Perintah yang menggambarkan pemerintah Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" terhadap keamanan nasional AS, secara efektif memperluas tekanan Washington di luar Kuba sendiri untuk mencakup negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, Meksiko, dan mitra dagang Havana lainnya.

Banyak analis melihat tindakan ini sebagai bentuk "sanksi sekunder". Pendekatan yang sebelumnya digunakan AS terhadap Iran dan Venezuela, dan yang kini diterapkan pemerintahan Trump terhadap Kuba.

Tiongkok, salah satu mitra dagang terpenting Kuba dan kritikus lama kebijakan sanksi AS, menyebut tindakan itu sebagai campur tangan dalam hubungan ekonomi yang sah antara kedua negara dan pelanggaran prinsip perdagangan bebas. Beijing telah memperkuat hubungan ekonomi dan energinya dengan Kuba dalam beberapa tahun terakhir dan menganggap negara itu sebagai salah satu mitra terpentingnya di Amerika Latin.

Oleh karena itu, pemberlakuan tarif hukuman AS terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba secara langsung menargetkan kepentingan China dan dapat menyebabkan peningkatan persaingan geopolitik antara kedua kekuatan tersebut.

Keputusan AS ini datang pada saat hubungan antara Washington dan Beijing sudah rapuh karena masalah perdagangan, teknologi, Taiwan, dan Laut China Selatan.

Sekarang, dimasukkannya Kuba dalam daftar ini telah menciptakan front ketegangan baru. Tiongkok kemungkinan akan menggunakan alat diplomatik dan ekonominya untuk melawan tekanan AS, termasuk memperkuat kerja sama dengan Kuba, meningkatkan investasi di sektor energi negara tersebut, dan bahkan mengajukan protes di lembaga internasional. Beijing mungkin juga menggunakan pengaruh timbal balik dalam hubungan perdagangannya dengan AS, meskipun reaksi ini kemungkinan besar tidak akan berubah menjadi krisis perdagangan yang sesungguhnya.

Langkah AS diperkirakan akan memperketat hubungan antara Washington dan Beijing dalam jangka pendek dan meningkatkan ketidakpercayaan. Tiongkok melihat langkah ini sebagai bagian dari kebijakan pembendungannya, sementara AS melihatnya sebagai alat untuk menekan pemerintah yang bekerja sama dengan saingan geopolitiknya.

Dalam jangka panjang, jika Washington bersikeras pada penerapan tarif ini secara ketat, kemungkinan terbentuknya blok ekonomi dan energi baru antara Tiongkok, Rusia, dan negara-negara Amerika Latin akan meningkat. Singkatnya, masalah minyak Kuba bukan hanya masalah bilateral antara AS dan Havana, tetapi telah menjadi arena baru untuk persaingan strategis antara Tiongkok dan AS, persaingan yang tampaknya akan berlanjut di tahun-tahun mendatang.(sl)