Pawai Akbar Rakyat Kuba Menolak Tekanan Washington
-
Pawai obor rakyat Kuba dukung pemerintah
Pars Today - Seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana, ribuan warga Kuba berdemonstrasi untuk memprotes ancaman AS terhadap negaranya.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana, warga Kuba menyatakan protes mereka terhadap ancaman AS dengan berpartisipasi dalam "pawai obor tradisional" yang memiliki makna sejarah yang luar biasa.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, yang memimpin pawai it, mendampingi para peserta sejauh sekitar satu kilometer dalam acara tersebut. Mobilisasi publik ini secara tradisional diadakan pada tanggal 27 Januari, hari ulang tahun pahlawan nasional Kuba José Martí (1853-1895).
Pawai yang diadakan untuk memprotes kebijakan dan tindakan permusuhan pemerintah AS terhadap Kuba. Presiden AS Donald Trump, setelah intervensi dan serangan militernya terhadap Venezuela, kini berupaya melakukan perubahan rezim di Kuba. Pemerintahan Trump bermaksud untuk mencegah transfer minyak Venezuela ke Kuba guna meningkatkan tekanan pada pemerintah negara ini lebih dari sebelumnya.
Trump mengancam Havana pada hari Selasa, dan mengklaim bahwa Kuba "sangat dekat dengan kehancuran" dan mungkin segera menghadapi masalah serius. Merujuk pada penghentian sumber daya keuangan dan minyak dari Venezuela ke Kuba, Presiden AS mengklaim bahwa Kuba sangat dekat dengan kehancuran dan bahwa negara itu bergantung pada uang dan minyak Venezuela dan "tidak lagi menerimanya".
Hal ini terjadi setelah surat kabar Amerika The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump secara aktif berupaya melakukan perubahan rezim di Kuba dan berharap untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pemerintahan komunis di pulau itu pada akhir tahun 2026. Untuk memfasilitasi transisi politik ini, pemerintahan Trump mengidentifikasi dan meminta kerja sama beberapa orang yang dekat dengan struktur penguasa di pemerintahan Kuba sehingga para pemimpin komunis saat ini dapat disingkirkan dari kekuasaan.
Meskipun "rencana spesifik dan terstruktur" untuk menyingkirkan pemerintahan komunis Kuba, yang telah memerintah negara itu selama hampir 70 tahun, belum dirumuskan, Washington mengklaim bahwa cengkeraman pemerintah atas negara itu tidak pernah serapuh ini. Menurut para pejabat Amerika, penangkapan Maduro oleh pasukan AS dan perolehan konsesi dari pemerintah Venezuela dianggap sebagai model bagi perlakuan pemerintahan Trump terhadap Kuba.
Namun, pawai ribuan warga Kuba di Havana menunjukkan bahwa, bertentangan dengan klaim Washington dan terlepas dari perang psikologis dan propaganda pemerintahan Trump, serta tekanan Washington terhadap Havana, terutama dalam dimensi ekonomi, perdagangan, dan energi, pemerintah dan presiden Kuba masih menikmati popularitas dan legitimasi yang cukup besar di antara rakyat negara kepulauan Karibia ini.
Faktanya, pawai besar rakyat Kuba pada Selasa, 27 Januari 2026, harus dianggap sebagai pemandangan langka persatuan nasional dan demonstrasi kehendak kolektif dalam menghadapi tekanan asing. Ribuan warga Kuba turun ke jalan di Havana dan kota-kota lain di negara itu untuk menyatakan penentangan mereka terhadap ancaman dan kebijakan permusuhan Amerika Serikat. Kehadiran besar ini bukan hanya demonstrasi protes, tetapi lebih merupakan pesan yang jelas dan berlapis yang signifikan baik bagi Washington maupun opini publik dunia.
Pesan pertama dari pawai ini adalah penekanan rakyat Kuba pada kemandirian politik dan penolakan terhadap campur tangan asing. Dengan slogan dan plakat mereka, rakyat Kuba menunjukkan bahwa tekanan ekonomi, ancaman politik, dan upaya destabilisasi bukan hanya tidak membuat mereka pasif, tetapi juga memperkuat kohesi internal.
Respons kolektif ini mengingatkan kita pada pengalaman sejarah Kuba dalam beberapa dekade terakhir. Pengalaman di mana rakyat berulang kali menentang sanksi dan ancaman serta tidak membiarkan kebijakan luar negeri menentukan arah negara mereka.
Pesan kedua adalah dukungan publik yang jelas terhadap pemerintah dan presiden Kuba. Kehadiran besar orang-orang dari semua lapisan masyarakat, dari pekerja dan mahasiswa hingga pegawai sektor publik dan swasta, menunjukkan bahwa terlepas dari masalah ekonomi dan tekanan eksternal, kepercayaan publik terhadap kepemimpinan politik negara tetap utuh.
Dukungan publik ini merupakan aset penting bagi pemerintah Kuba, karena pada saat Washington mencoba menciptakan perpecahan internal dengan meningkatkan tekanan, pawai semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat Kuba tetap bersatu dalam menghadapi ancaman.
Pesan ketiga dari pawai ini adalah untuk mengirimkan sinyal kepada komunitas internasional. Dengan gerakan kolektif ini, Kuba mencoba menunjukkan bahwa kebijakan AS bukan hanya tidak efektif tetapi juga meningkatkan solidaritas internal.
Banyak analis percaya bahwa reaksi publik semacam ini dapat mengubah cara negara lain memandang sanksi dan kebijakan berbasis tekanan AS dan membuka jalan bagi dukungan yang lebih besar untuk posisi Kuba di forum internasional.
Secara keseluruhan, pawai 27 Januari 2026 menunjukkan bahwa rakyat Kuba tetap berkomitmen pada prinsip-prinsip kemerdekaan, perlawanan, dan dukungan terhadap pemerintah mereka. Partisipasi jutaan orang ini bukan hanya respons terhadap ancaman Washington, tetapi juga penegasan kembali fakta bahwa Kuba adalah negara yang didasarkan pada partisipasi rakyat dan identitas nasional.(sl)