Thiaroye 1944: 80 Tahun Prancis Menutup-nutupi Pembantaian Terbesar di Afrika
https://parstoday.ir/id/news/world-i185684-thiaroye_1944_80_tahun_prancis_menutup_nutupi_pembantaian_terbesar_di_afrika
Pars Today – Pembantaian Thiaroye merupakan salah satu kejahatan paling berdarah sekaligus paling tersembunyi yang dilakukan Prancis pada masa kolonial di Senegal. Pembantaian massal tentara Afrika di kamp Thiaroye pada tahun 1944 ini tidak hanya menjadi contoh kebrutalan sistem kolonial, tetapi juga simbol dari puluhan tahun penyembunyian dan pengingkaran kebenaran.
(last modified 2026-02-19T03:29:49+00:00 )
Feb 19, 2026 10:28 Asia/Jakarta
  • Pembantaian Thiaroye
    Pembantaian Thiaroye

Pars Today – Pembantaian Thiaroye merupakan salah satu kejahatan paling berdarah sekaligus paling tersembunyi yang dilakukan Prancis pada masa kolonial di Senegal. Pembantaian massal tentara Afrika di kamp Thiaroye pada tahun 1944 ini tidak hanya menjadi contoh kebrutalan sistem kolonial, tetapi juga simbol dari puluhan tahun penyembunyian dan pengingkaran kebenaran.

Kolonialisme Prancis di Afrika, khususnya di Senegal, tidak terbatas pada eksploitasi ekonomi dan penghinaan budaya, tetapi juga disertai kekerasan sistematis dan kejahatan terorganisir. Di tengah semua itu, pembantaian tentara "Tirailleur" (pasukan senapan Senegal) di kamp Thiaroye di pinggiran Dakar tampil sebagai simbol kebrutalan dan penyembunyian panjang ini.

Pada dini hari 1 Desember 1944, salah satu kejahatan paling berdarah Prancis di era kolonial terjadi. Para korbannya adalah tentara Afrika yang dikenal sebagai "Tirailleur" yang telah berperang untuk membebaskan Prancis melawan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Menurut narasi sejarah, sekitar 1.300 tentara dari koloni-koloni Afrika Barat yang telah bertempur di front Eropa, setelah ditawan dan dibebaskan, dipindahkan ke kamp Thiaroye pada November 1944. Para tentara ini menanti pembayaran gaji mereka yang tertunggak. Namun, alih-alih mendapat penghargaan, mereka justru menghadapi perlakuan menghina.

Mereka menuntut perlakuan setara dengan tentara kulit putih Prancis dan penerimaan penuh gaji mereka. Tuntutan yang benar ini dianggap oleh pejabat kolonial Prancis sebagai ancaman besar, karena dapat menantang tatanan hierarki rasial kekaisaran.

Pada malam 30 November dan dini hari 1 Desember, tentara Prancis di bawah komando Jenderal Yves de Boisboissel mengepung kamp Thiaroye. Saat fajar, senapan mesin dibuka ke arah para tentara yang tidak bersenjata dan sedang berunjuk rasa. Saksi mata menuturkan pemandangan mengerikan: tentara yang ditembaki di tempat tidur mereka, sekelompok yang ditembak mati saat melarikan diri, dan yang terluka dihabisi dengan tembakan jarak dekat.

Pejabat kolonial Prancis segera memulai penyembunyian kebenaran setelah pembantaian ini. Jumlah korban dikecilkan secara drastis, dan peristiwa ini disebut sebagai "pemberontakan". Laporan resmi Prancis menyebutkan jumlah korban tewas 35 atau paling banyak 70 orang.

Namun, investigasi ekstensif dalam beberapa dekade terakhir, terutama oleh komite riset Senegal yang dipimpin sejarawan terkenal Mamadou Diouf, telah mengungkap lebih jauh dimensi kejahatan ini.

Temuan komite ini, yang disampaikan dalam bentuk laporan resmi setebal 301 halaman kepada Presiden Senegal pada Oktober 2025, menunjukkan bahwa pembantaian Thiaroye bukanlah aksi spontan, melainkan operasi yang "direncanakan sebelumnya, dirancang dengan cermat, dan dilaksanakan dengan tindakan terkoordinasi" yang bertujuan menindas aspirasi kesetaraan yang muncul pasca-Perang Dunia II di kalangan tentara Afrika.

Investigasi lapangan dan penggalian arkeologi menunjukkan bahwa angka dari Prancis sama sekali tidak akurat. Perkiraan paling kredibel menempatkan jumlah korban antara 300 hingga 400 orang, bahkan lebih. Berdasarkan penelitian ini, lebih dari 400 pasukan senapan Senegal lenyap, seolah-olah mereka tidak pernah ada.

Komite riset menyimpulkan bahwa pejabat Prancis melakukan segala cara untuk menyembunyikan pembantaian ini. Mereka memalsukan dokumen, termasuk mengubah catatan kedatangan dan keberangkatan tentara di Prancis dan Dakar, serta statistik tentara yang berada di kamp. Para peneliti menghadapi tembok "asap dan cermin" serta hambatan dalam mengakses arsip militer Prancis.

Penggalian arkeologi yang dimulai pada Mei 2025 menghasilkan temuan mengejutkan. Para arkeolog menemukan tujuh kerangka di pemakaman. Pada satu kerangka, ditemukan peluru di lokasi jantung. Pada kerangka lain, tengkorak, tulang rusuk, dan tulang belakang hilang.

Di salah satu kuburan, ditemukan sisa-sisa "rantai besi" melingkar di tulang kering, menunjukkan beberapa korban dirantai sebelum meninggal atau segera setelahnya. Juga diketahui bahwa kuburan lebih baru daripada sisa-sisa jenazah, yang mengindikasikan upaya pengaturan adegan untuk berpura-pura melakukan penguburan terhormat. Bukti menunjukkan pembunuhan mungkin juga meluas hingga ke stasiun kereta api. Pemerintah Senegal telah memerintahkan kelanjutan penggalian di semua lokasi yang diduga sebagai kuburan massal.

Thiaroye hanyalah satu contoh dari pembantaian sistematis Prancis di koloni-koloni. Harian L'Expression dalam sebuah laporan membandingkan pembantaian Thiaroye dengan pembantaian 17 Oktober 1961 di Paris. Dalam peristiwa itu, ratusan pengunjuk rasa Aljazair dibunuh oleh polisi Prancis di bawah komando Maurice Papon dan jenazah mereka dibuang ke Sungai Seine. Akar kejahatan ini sama: tatanan kolonial tidak dapat menerima efek pembebasan Perang Dunia II pada masyarakat Afrika dan meresponsnya dengan kekerasan.

Pembantaian besar-besaran 8 Mei 1945 di Aljazair juga terjadi dalam logika yang sama. Thiaroye bukanlah contoh terisolasi, melainkan bagian dari pola menyeluruh untuk menindas aspirasi kesetaraan di koloni-koloni.

Senegal, yang merdeka dari Prancis pada 20 Juni 1960, kini dengan mengandalkan kedaulatannya menuntut keadilan bagi para korban. Senegal dalam laporan resminya meminta Prancis untuk secara resmi "meminta maaf". Laporan ini menekankan perlunya kelanjutan investigasi, akses penuh ke arsip Prancis, identifikasi dan pemulangan jenazah korban, serta pembayaran kompensasi.

Dengan terungkapnya dimensi kejahatan ini, akhirnya pada November 2024, Emmanuel Macron, Presiden Prancis, untuk pertama kalinya setelah delapan dekade pengingkaran, mengakui pembantaian Thiaroye sebagai "pembunuhan massal" oleh pasukan kolonial Prancis, tetapi ia menolak permintaan maaf resmi.

Pembantaian Thiaroye menjadi simbol lain dari kebrutalan sistem kolonial dan memori Afrika yang disembunyikan. Namun, kebenaran tidak pernah benar-benar hilang dalam debu sejarah.(sl)