Starmer: Bukan Perang Kami dan Tidak Akan Terjebak di Dalamnya
https://parstoday.ir/id/news/world-i188018-starmer_bukan_perang_kami_dan_tidak_akan_terjebak_di_dalamnya
Pars Today - Perdana Menteri Inggris mengulangi posisi London mengenai agresi Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, dan menyatakan bahwa pertempuran ini bukanlah perang Inggris dan negara mereka tidak akan terjebak di dalamnya.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Mar 30, 2026 17:52 Asia/Jakarta
  • Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris
    Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris

Pars Today - Perdana Menteri Inggris mengulangi posisi London mengenai agresi Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, dan menyatakan bahwa pertempuran ini bukanlah perang Inggris dan negara mereka tidak akan terjebak di dalamnya.

Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, Keir Starmer pada hari Senin (30/03/2026) selama peluncuran kampanye pemilihan lokal Partai Buruh di kota Wolverhampton, menanggapi kekhawatiran publik tentang eskalasi perang terhadap Iran, dan mengatakan, “Wajar jika orang-orang menjadi khawatir dengan meningkatnya krisis ketika mendengar berita. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengulangi posisi saya dan pemerintah ini, karena perang ini bukanlah perang kami dan kami tidak akan terjebak di dalamnya.”

Perdana Menteri Inggris juga mengumumkan bahwa ia akan mengadakan kembali pertemuan darurat pemerintah besok (Selasa) untuk meninjau implikasi ekonomi dari perang tersebut.

Ia mengatakan bahwa pemerintah hari ini juga akan mengumpulkan perwakilan dari sektor pelayaran, asuransi, dan energi. Karena menurutnya, kekhawatiran utama berkaitan dengan dampak krisis terhadap lalu lintas maritim dan pasar energi.

Starmer lebih lanjut menegaskan bahwa meredakan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz adalah “cara paling efektif” untuk menurunkan harga energi.

Sejak awal perang yang dipaksakan terhadap Iran, Starmer telah menyatakan keraguannya tentang dasar hukumnya dan mengumumkan bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer terhadap Iran.

Pada saat yang sama, ia telah menyetujui penggunaan pangkalan militer Inggris di kawasan oleh Amerika Serikat, dalam apa yang disebut operasi pertahanan kolektif, tetapi keputusan ini telah menghadapi gelombang oposisi domestik dan opini publik.

Menurut laporan, Yvette Cooper, Menteri Luar Negeri Inggris telah berbicara dengan mitra London di kawasan dan juga Menteri Luar Negeri rezim Zionis dalam beberapa hari terakhir, dan menyerukan “tindakan diplomatik segera” untuk mencegah eskalasi konflik. John Healey, Menteri Pertahanan Inggris, juga akan berangkat ke Timur Tengah hari ini untuk membahas perkembangan regional.

Pemerintah Inggris berupaya untuk meyakinkan opini publik negaranya bahwa mereka berhubungan dengan pejabat regional dan mengendalikan situasi. Namun, meningkatnya harga energi dan bahan bakar di negaranya telah meningkatkan kekhawatiran publik.

Kantor Perdana Menteri Inggris mengklaim bahwa tempat-tempat bahan bakar di seluruh negeri “disimpan dengan baik” dan membantah setiap klaim tentang kekurangan.

Ia mengklaim bahwa produksi dan impor bahan bakar berlanjut, dan hanya sejumlah kecil bensin yang dibutuhkan Inggris yang dipasok dari Timur Tengah. Starmer sendiri, menanggapi spekulasi tentang kuota bensin, menyarankan kepada masyarakat untuk tidak melakukan apa pun di luar rutinitas normal.

Perdana Menteri Inggris juga berupaya untuk mengecilkan dampak biaya hidup dari perang dalam pidatonya hari ini dan mengklaim bahwa pemerintah berfokus pada pengendalian biaya hidup. Namun, fakta bahwa pemerintah mengadakan pertemuan darurat dan berkonsultasi dengan pelaku energi dan asuransi menunjukkan kekhawatiran serius London tentang konsekuensi ekonomi dari kelanjutan perang terhadap Iran.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga memprediksi bahwa Inggris, di antara ekonomi-ekonomi besar, akan paling terpukul oleh guncangan ekonomi yang disebabkan oleh perang terhadap Iran. Hal ini terutama disebabkan oleh ketergantungan negara tersebut pada impor energi, yang memberikan tekanan lebih lanjut pada inflasi dan biaya hidup rumah tangga.(sl)