Analis Spanyol: AS Paling Rugi dalam Perang Ekonomi Melawan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i188682-analis_spanyol_as_paling_rugi_dalam_perang_ekonomi_melawan_iran
Pars Today - Seorang analis Spanyol, Eduardo Meneses, merujuk pada perkembangan perang AS dan Israel melawan Iran, menegaskan bahwa Amerika Serikat menderita kerugian politik, ekonomi, dan geopolitik terbesar dalam perang ini. Biaya militer yang besar tanpa pencapaian nyata, kenaikan harga minyak, dan menjauhnya sekutu Eropa telah menjadikan Washington sebagai pihak yang paling merugi.
(last modified 2026-04-19T05:59:53+00:00 )
Apr 19, 2026 12:54 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump dan NATO
    Presiden AS Donald Trump dan NATO

Pars Today - Seorang analis Spanyol, Eduardo Meneses, merujuk pada perkembangan perang AS dan Israel melawan Iran, menegaskan bahwa Amerika Serikat menderita kerugian politik, ekonomi, dan geopolitik terbesar dalam perang ini. Biaya militer yang besar tanpa pencapaian nyata, kenaikan harga minyak, dan menjauhnya sekutu Eropa telah menjadikan Washington sebagai pihak yang paling merugi.

Melaporkan dari Telesur, IRNA, Minggu, 19 April 2026, Meneses dalam laporannya mengkaji berbagai aspek perkembangan terbaru dalam konfrontasi AS dengan Iran dan Tiongkok. Ia menyatakan bahwa Washington menghadapi kegagalan nyata di bidang militer, ekonomi, dan geopolitik, dan meyakini bahwa "untuk mempertahankan kekuatan hegemoniknya, tidak ada yang tersisa bagi AS selain perang".

Gencatan Senjata: Kesempatan AS Mengatur Ulang Strategi

Merujuk pada perkembangan Asia Barat, Meneses menambahkan bahwa strategi militer AS di kawasan ini didefinisikan dalam kerangka upaya mempertahankan hegemoni global melawan kekuatan-kekuatan seperti Tiongkok. Gencatan senjata 10 hari terbaru, menurutnya, merupakan kesempatan bagi AS untuk memperbaiki kerugian dan mengatur ulang strategi konfrontasinya.

Analis politik ini menegaskan bahwa AS menderita kerugian signifikan di berbagai bidang, militer, ekonomi, politik, dan geopolitik. Hal ini memaksa Washington untuk mengambil jeda sementara guna mereorganisasi strateginya.

AS Tidak Menginginkan Perdamaian

Meneses menekankan bahwa AS tidak menginginkan perdamaian. Gencatan senjata saat ini memberi mereka kesempatan untuk, dengan mundur sementara, melakukan reorganisasi, memenuhi logistik, dan merumuskan strategi baru, melanjutkan jalur melemahkan Iran yang tetap menjadi fokus utama Washington.

Merujuk pada kegagalan militer AS, ia mengatakan bahwa tujuan-tujuan yang dideklarasikan Washington dalam konfrontasi ini tidak tercapai dan pada dasarnya tidak dapat dicapai. Ancaman Donald Trump untuk menghancurkan seluruh peradaban tidak terwujud, dan skenario perubahan rezim di Iran pun gagal.

Dukungan Rakyat Iran Terhadap Pemerintah Kuat

Analis ini menambahkan bahwa, berbeda dengan narasi media tertentu, pemerintah Iran memiliki dukungan rakyat yang luas. Masyarakat Iran menunjukkan respons unik dalam membela kedaulatan nasional mereka terhadap intervensi AS.

AS Paling Merugi secara Ekonomi

Dalam bagian lain pernyataannya, Meneses menekankan konsekuensi ekonomi dari konfrontasi ini. AS adalah pihak yang paling merugi di bidang ekonomi: biaya militer besar tanpa pencapaian nyata, ditambah konsekuensi penutupan Selat Hormuz, menyebabkan kenaikan signifikan harga minyak di pasar global. Selain itu, perang ini juga menyebabkan menjauhnya sekutu Eropa, yang awalnya mendukung tindakan AS.

Gencatan Senjata: Kemenangan bagi Poros Perlawanan

Di akhir pernyataannya, Meneses mencatat bahwa gencatan senjata 10 hari terbaru dapat dinilai sebagai sebuah pencapaian bagi Iran, Yaman, Lebanon, perlawanan Palestina, dan seluruh Poros Perlawanan.

Perang 40 hari gabungan AS dan Israel melawan Iran yang dimulai 28 Februari 2026, akhirnya dihentikan dengan gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan pada 7 April 2026. Sekretariat Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, dalam pernyataan dini hari tadi, menegaskan bahwa hampir seluruh tujuan perang melawan AS telah tercapai. Negosiasi di Islamabad akan dilakukan untuk memfinalisasi detail, guna mengkonsolidasikan kemenangan Iran di medan perang ke dalam ranah politik dalam waktu maksimal 15 hari.

Tentu saja bahwa analis Spanyol ini menyimpulkan apa yang sudah mulai disadari banyak pihak: AS bukan pemenang dalam perang ini. Biaya membengkak, tujuan tak tercapai, sekutu menjauh, dan minyak melambung, semua menjadi bumerang bagi Washington.

Sementara itu, Poros Perlawanan justru keluar dengan kepala tegak. Gencatan senjata bukan kekalahan, tetapi konsolidasi menuju kemenangan politik.

Trump ingin menghancurkan Iran. Yang terjadi, ia hanya berhasil menghancurkan reputasinya sendiri di mata sekutu dan rakyatnya. Iran tetap berdiri. Dan dunia mulai bertanya: sampai kapan Amerika akan terus belajar dengan cara yang mahal?(sl)