Merz Akui Telah Terjadi Gangguan Hubungan Bersejarah antara Eropa dan AS
-
Kanselir Jerman Friedrich Merz
Pars Today - Kanselir Jerman Friedrich Merz, dalam pernyataan terbarunya, menggambarkan gangguan hubungan antara Eropa dan Amerika Serikat sebagai peristiwa bersejarah yang terjadi sangat cepat.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi ZDF, Kanselir Jerman berbicara tentang pengalaman sejarah mengenai keretakan dan perbedaan pendapat antara Eropa dan AS. Ia mengatakan, "Kita menyaksikan perpecahan historis yang mendalam, jenis yang hanya dialami seseorang sekali seumur hidup. Kita yang lahir setelah Perang Dunia II hanya beruntung sampai sekarang."
Menurut laporan Pars Today, 7 Mei 2026, pernyataan Friedrich Merz ini mendapat tanggapan luas di kalangan politik dan media. Kanselir Jerman, yang baru saja memperingati satu tahun pemerintahannya, berbicara tentang perpecahan bersejarah dengan AS.
Merz, dengan nada peringatan dan kontemplatif, menyatakan bahwa 80 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, perpecahan historis itu kini telah tiba, sebuah perpecahan yang menurutnya terjadi sangat cepat dan terkadang dengan cara yang "sangat tidak bersahabat".
Apa yang Menyebabkan "Perpecahan" Ini?
Ketegangan antara Washington dan Berlin dalam beberapa pekan terakhir meningkat ke level yang belum pernah terjadi sejak Perang Dingin. Donald Trump, dalam sebuah langkah yang oleh banyak analis digambarkan sebagai "hukuman strategis" terhadap Jerman, memerintahkan penarikan 5.000 tentara AS dari wilayah Jerman dan pembatalan penempatan rudal jelajah di negara tersebut. Keputusan ini bukan sekadar tindakan taktis, tetapi sebuah pesan jelas kepada Eropa, "Anda tidak bisa lagi mengandalkan payung keamanan gratis Amerika."
Para pendiri Uni Eropa, setelah dua perang dunia, merancang arsitektur baru untuk benua Eropa. Dalam arsitektur ini, Jerman tidak diperbolehkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Keterbatasan ini mendorong Jerman menjadi raksasa ekspor, lokomotif ekonomi, dan bankir Eropa, sambil tetap menikmati payung keamanan NATO. Ketergantungan pada perisai pertahanan AS, ditambah dengan energi murah dari Rusia, menciptakan "segitiga kenyamanan dan kemakmuran" yang kini runtuh. Perang Ukraina menghentikan aliran energi, dan perpecahan Trump-Merz mengguncang fondasi keamanan Jerman.
Dunia dari "Tanpa Hukum" Menuju "Kekacauan Absoluty"
Menurut Mark Leonard, Direktur Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa (ECFR), dunia telah berubah dari "tanpa hukum" menuju "kekacauan absolut". Artinya, bukan hanya tidak ada hukum yang menjadi masalah, tetapi konsepsi ketertiban itu sendiri mulai menghilang. Di dunia yang kacau seperti ini, negara seperti Jerman, yang filosofi eksistensinya dibangun di atas perdagangan dan kekuatan lunak, akan menjadi rentan dan tak berdaya.
Think tank terkemuka di dunia telah menerbitkan berbagai analisis mengenai perpecahan ini dalam beberapa pekan terakhir. Institut Hubungan Internasional Berlin (SWP), dalam sebuah laporan berjudul "Eropa di Antara Dua Raksasa", memperingatkan bahwa kegagalan mengambil keputusan segera akan mengubah Eropa menjadi wilayah pasif yang kepentingannya ditentukan oleh Washington dan Beijing.
Yayasan Körber, dalam survei terbarunya, menunjukkan bahwa 67 persen warga Jerman percaya bahwa Eropa harus menempuh jalur pertahanan dan kebijakan luar negeri yang independen dari AS, angka yang meningkat 23 persen dibandingkan dua tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa Merz tidak hanya menyuarakan analisis pribadi, tetapi juga keinginan kolektif sebagian besar masyarakat Jerman.
Sementara itu, Dewan Atlantik (Atlantic Council) menulis dengan nada peringatan bahwa perpecahan saat ini juga berbahaya bagi AS, karena jika Eropa keluar dari lingkup pengaruh Washington, Amerika Serikat akan kehilangan sekutu strategis yang kuat dalam persaingannya dengan Tiongkok.
Posisi Merz yang Rentan di Dalam Negeri
Pernyataan tegas Merz datang di saat posisi domestiknya berada dalam kondisi paling rapuh. Hanya 16 persen warga Jerman yang puas dengan kinerjanya, angka terendah untuk seorang kanselir yang masih menjabat di negara itu.
Koalisi tiga partai yang menguasai Jerman (CDU/CSU, SPD, dan Hijau) semakin rapuh dari hari ke hari. Perselisihan mengenai anggaran pertahanan, imigrasi, dan transisi energi telah mencapai jalan buntu. Kritikus internal menuduh Merz memiliki "kebodohan dalam bertindak" dan "kekasaran dalam berbicara".
Majalah Der Spiegel dalam laporan analitisnya menulis bahwa meskipun Merz dengan tepat mendiagnosis krisis, ia tidak memiliki strategi untuk keluar dari krisis tersebut.
Dalam kondisi domestik yang rentan ini, dengan hanya 16% tingkat kepuasan publik, kata-kata Merz tentang "perpecahan bersejarah" bukan sekadar pernyataan kebijakan luar negeri, tetapi juga upaya untuk memulihkan kepercayaan di dalam negeri.
Industri otomotif Jerman, tulang punggung ekonomi negara itu, terjepit di antara tarif Trump dan persaingan ketat dari produsen Tiongkok. Ribuan pekerjaan terancam.
Thomas Kleine-Brockhoff, pakar senior di German Marshall Fund (GMF), meyakini bahwa momen ini adalah "saat runtuhnya Tembok Berlin bagi Eropa", bukan dalam arti simbolis, tetapi dalam arti historis. "Tembok ketergantungan Eropa pada AS kini sedang runtuh".
Di tingkat Eropa, diskusi untuk membentuk "tentara Eropa" yang independen dari NATO semakin intensif, sebuah gagasan yang dulu hanya muncul di pinggiran, kini menjadi inti perdebatan.
Komisioner Pertahanan Uni Eropa Andrius Kubilius telah mengusulkan pembentukan aliansi pertahanan baru dengan kekuatan permanen hingga 100.000 personel, markas militer terpisah, dan dewan keamanan dengan anggota tetap. Namun, jalan menuju pakta keamanan kolektif yang independen dari AS masih panjang dan rumit. Tantangan terbesar adalah tidak adanya kebijakan luar negeri dan keamanan bersama.
Negara-negara Eropa mungkin telah berhasil bersatu di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi mereka masih memiliki perbedaan mendalam dalam memahami konsep keamanan dan ancaman. Padahal, prasyarat untuk setiap pakta keamanan adalah kebijakan luar negeri dan keamanan bersama.
Pernyataan Friedrich Merz tentang "perpecahan bersejarah" tidak bisa dianggap sekadar reaksi spontan terhadap kebijakan Trump. Ini adalah pengakuan akan realitas yang lebih dalam: dunia bipolar era Perang Dingin dan dunia unipolar era 1990-an telah lenyap selamanya, digantikan oleh dunia di mana tidak ada negara yang bisa mengandalkan aliansi yang sudah ditentukan sebelumnya.
Eropa kini berada di persimpangan jalan. Sementara AS di bawah Trump bergerak menuju isolasionisme dan konfrontasi dagang, Eropa harus memutuskan apakah akan terus menjadi "pelengkap" dalam tatanan Atlantik atau mulai membangun tatanan keamanannya sendiri. Keputusan ini akan menentukan wajah Eropa untuk generasi mendatang dan juga nasib hubungan transatlantik yang selama 80 tahun menjadi pilar perdamaian Barat.(Sail)