Kuba Kecam Sanksi AS sebagai "Agresi Ekonomi", Peringatkan Risiko Invasi
-
Donald Trump dan bendera Kuba
Pars Today - Pemerintah Kuba dengan tegas mengecam sanksi baru Amerika Serikat, menyebut eskalasi blokade ekonomi terhadap negara pulau tersebut telah mencapai tingkat yang "ekstrem dan belum pernah terjadi sebelumnya" serta sebagai "tindakan agresi ekonomi yang kejam" .
Kementerian Luar Negeri Kuba, Kamis (7/5) waktu setempat, menolak perintah eksekutif yang ditandatangani Gedung Putih pada 1 Mei yang memperketat pembatasan ekonomi, finansial, dan komersial terhadap Kuba. Langkah ini juga mengikuti keputusan Departemen Keuangan AS yang menambahkan perusahaan Kuba GAESA (konglomerat yang dikelola militer) dan MoaNickel SA (perusahaan patungan pertambangan) ke dalam daftar sanksi Specially Designated Nationals (SDN).
Dilansir IRNA, 8 Mei 2026, menurut pernyataan resmi Kuba, langkah ini merupakan "tindakan paksaan pertama" yang dihasilkan dari perintah eksekutif terbaru dan memperkuat efek ekstrateritorial blokade, termasuk potensi penerapan sanksi sekunder terhadap perusahaan dan bank asing yang berbisnis dengan Kuba.
Kuba menegaskan bahwa negaranya saat ini menghadapi krisis bahan bakar parah akibat embargo minyak yang diberlakukan AS pada 30 Januari, yang menyebabkan pemadaman listrik meluas. Kementerian Luar Negeri Kuba menyebut sanksi ini sebagai "genosida terhadap rakyat Kuba" yang dirancang untuk menciptakan kelaparan, keputusasaan, dan bencana sosial-ekonomi.
Havana juga memperingatkan bahwa Washington kemungkinan akan menggunakan krisis kemanusiaan yang diciptakan sebagai dalih untuk tindakan yang lebih berbahaya, termasuk agresi militer terhadap Kuba. Peringatan ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan bahwa Kuba adalah target "berikutnya" setelah operasi militer terhadap Iran.
Para ahli PBB juga mengkritik langkah AS, menyebut blokade bahan bakar tersebut sebagai "kelaparan energi" dengan konsekuensi serius bagi hak asasi manusia dan pembangunan Kuba.
Havana menolak mentah-mentah sanksi ekonomi ala Trump. Dengan tuduhan "agresi ekonomi" dan "genosida", pemerintah Kuba memperingatkan bahwa meskipun terjepit krisis bahan bakar dan pemadaman listrik, mereka tidak akan menyerah. Tuduhan utama Kuba sangat serius: Washington sedang berusaha menciptakan neraka kemanusiaan sebagai pembenaran untuk invasi. Ini adalah pertarungan saraf antara negara adidaya dan negara pulau yang keras kepala, dan Trump tampaknya tidak main-main.(Sail)