Kepemilikan Dolar Semakin Menurun di Bank-Bank Sentral Dunia
https://parstoday.ir/id/news/world-i192322-kepemilikan_dolar_semakin_menurun_di_bank_bank_sentral_dunia
Pars Today - Sebuah survei dari lembaga think tank independen OMFIF yang dirilis pada hari Selasa (30/6) menunjukkan bahwa mayoritas bank sentral di dunia berencana untuk mengurangi alokasi dolar AS dalam satu dekade ke depan, seiring dengan meningkatnya risiko politik yang terkait dengan mata uang tersebut. Survei ini menandai pertama kalinya OMFIF mencatat adanya pergeseran menjauhi dolar.
(last modified 2026-06-30T08:56:38+00:00 )
Jun 30, 2026 15:51 Asia/Jakarta
  • Dolar
    Dolar

Pars Today - Sebuah survei dari lembaga think tank independen OMFIF yang dirilis pada hari Selasa (30/6) menunjukkan bahwa mayoritas bank sentral di dunia berencana untuk mengurangi alokasi dolar AS dalam satu dekade ke depan, seiring dengan meningkatnya risiko politik yang terkait dengan mata uang tersebut. Survei ini menandai pertama kalinya OMFIF mencatat adanya pergeseran menjauhi dolar.

Melansir ISNA, 30 Juni 2026, data ini memperkuat perdebatan global mengenai peran dolar sebagai mata uang cadangan utama, yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan AS dan meningkatnya risiko geopolitik, termasuk perang baru-baru ini. Survei yang melibatkan 90 bank sentral, dana pensiun publik, dan dana kekayaan negara dengan total aset sekitar 10 triliun dolar ini juga mengungkapkan hasrat kuat untuk meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Para partisipan semakin memandang volatilitas sebagai fitur permanen dan mulai menguji pendekatan baru, termasuk AI. Yara Aziz, ekonom senior OMFIF, menulis bahwa asumsi lama bahwa investor publik dapat menunggu situasi kembali normal menjadi semakin tidak realistis .

Dolar dan Emas

Meskipun saat ini belum ada pengganti dolar yang jelas dan nilainya bahkan menguat 3% tahun ini akibat suku bunga tinggi AS dan perang dengan Iran, sebanyak 79% bank sentral dan 60% dana publik meyakini bahwa sistem moneter global sedang bertransisi menuju dunia yang "multipolar".

Alternatif seperti yuan Tiongkok dan euro menarik, tetapi masih menghadapi tantangan struktural. Sebaliknya, emas kini "bergerak ke pusat strategi manajemen cadangan", dengan 82% bank sentral memegangnya dan 30% berencana meningkatkan alokasinya dalam satu-dua tahun ke depan.

Penggunaan AI

Penggunaan AI juga meningkat; lebih dari 66% bank sentral berencana mengintegrasikannya lebih dalam, terutama untuk analisis data dan fungsi administrasi. Namun, ada kesenjangan adopsi antara negara maju (89%) dan negara berkembang (44%). Di kalangan dana publik, aset fisik seperti infrastruktur dan real estate menjadi incaran, dengan pasar AS dan China dianggap paling menarik, sebagian karena peran mereka dalam AI.

Survei ini menegaskan bahwa "de-dolarisasi" bukan lagi wacana, tetapi sebuah tren nyata yang mulai terekam dalam data global. Pergeseran ini menjadi salah satu pukulan terbesar terhadap hegemoni finansial AS pasca-Perang Dingin.

Untuk pertama kalinya, bank sentral global secara kolektif menyatakan niat mengurangi ketergantungan pada dolar. Ini adalah kepercayaan diri yang tergerus oleh ketidakpastian kebijakan AS dan meningkatnya risiko geopolitik, yang sekaligus membuka peluang emas dan mata uang alternatif.

Rekor harga emas yang terus berlanjut, dan minat besar bank sentral untuk menambah kepemilikan, menunjukkan bahwa logam mulia ini dianggap sebagai "benteng" teraman di tengah perubahan. Ini adalah sinyal yang sangat kuat bagi pasar keuangan.

Antusiasme terhadap AI untuk analisis data sangat besar. Namun, jurang adopsi antara negara maju dan berkembang menunjukkan bahwa manfaat AI mungkin tidak akan merata, setidaknya dalam jangka pendek.(Sail)