Gedung Putih Dukung RUU Sanksi Baru Menarget Ekspor Energi Rusia
-
Richard Blumenthal, senator senior Amerika
Pars Today - Richard Blumenthal, senator senior Amerika, dalam pernyataannya menyatakan bahwa sanksi-sanksi baru terhadap Rusia akan segera diberlakukan dan Gedung Putih telah mendukung RUU penerapan sanksi tersebut. Ia menyatakan optimis bahwa RUU ini dapat disahkan oleh para legislator Amerika hingga bulan Agustus.
Sebagaimana dilaporkan IRNA mengutip RIA Novosti, 15 Juli 2026, Blumenthal dalam konferensi peluncuran RUU sanksi baru terhadap Rusia mengumumkan bahwa RUU sanksi Rusia yang bersifat bipartisan telah disusun oleh sekelompok senator dari Partai Republik dan Demokrat, yang menargetkan ekspor energi Rusia dan pembeli asingnya.
Ia menambahkan bahwa Gedung Putih mendukung RUU penerapan sanksi-sanksi baru terhadap Rusia, dan ia meyakini bahwa RUU ini dapat disahkan hingga bulan Agustus.
Berdasarkan RUU ini, lembaga-lembaga keuangan Rusia dan proyek-proyek energi terbesar di negara itu akan dikenai sanksi, dan lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia akan menghadapi tarif hingga 100 persen.
Empat senator AS sebelumnya telah mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Donald Trump untuk memajukan undang-undang sanksi Rusia yang telah diperbarui.
Para senator, Richard Blumenthal, Lindsey Graham, Jeanne Shaheen, dan Roger Wicker, dalam sebuah pernyataan menyatakan, "Kami dengan bangga mengumumkan bahwa kami telah mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump untuk memajukan undang-undang sanksi Rusia yang telah diperbarui. Kami sangat gembira dengan kemajuan signifikan ini dan berharap dapat segera memberlakukan undang-undang ini."
Pernyataan itu menambahkan, "Sementara Rusia mengintensifkan pembunuhan warga sipil, sangat penting bagi cabang legislatif dan eksekutif untuk bekerja sama menciptakan alat-alat untuk memberlakukan biaya besar bagi mereka yang membeli minyak dan gas alam Rusia serta memberi makan mesin perang Putin."
RUU ini, yang telah dikerjakan oleh Senator Graham selama berbulan-bulan bersama dengan para Republikan dan Demokrat lainnya, akan memberlakukan sanksi terhadap negara-negara yang berdagang dengan Rusia, termasuk pembeli ekspor energinya, karena kegagalan Moskow dalam merundingkan kesepakatan damai dengan Ukraina.
Trump, di sela-sela pertemuan puncak para pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Ankara, bertemu dengan Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina. Nada pertemuan ini sangat berbeda dengan kritik tajamnya sebelumnya terhadap Zelensky yang ia sebut "tidak tahu terima kasih".
Presiden Amerika mengatakan bahwa ia dan Zelensky telah menjalin hubungan "sangat baik", dan bahwa Moskow serta Kyiv sama-sama ingin mengakhiri perang yang dimulai dengan invasi Rusia pada Februari 2022.(Sail)