Perang Iran Menguras Cadangan Minyak Dunia; Pasar Lebih Rentan dari Sebelumnya
https://parstoday.ir/id/news/world-i193254-perang_iran_menguras_cadangan_minyak_dunia_pasar_lebih_rentan_dari_sebelumnya
Pars Today - Dana Moneter Internasional (IMF), dengan merujuk pada meningkatnya ketegangan di Asia Barat, memperingatkan bahwa berkurangnya cadangan minyak membuat perekonomian dunia rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar yang tajam.
(last modified 2026-07-16T04:23:49+00:00 )
Jul 16, 2026 11:22 Asia/Jakarta
  • Harga minyak dunia
    Harga minyak dunia

Pars Today - Dana Moneter Internasional (IMF), dengan merujuk pada meningkatnya ketegangan di Asia Barat, memperingatkan bahwa berkurangnya cadangan minyak membuat perekonomian dunia rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar yang tajam.

Sebagaimana dilaporkan IRNA dari The Wall Street Journal, 16 Juli 2026, sebelum dimulainya perang (agresif) AS terhadap Iran, pasokan minyak global sekitar 2 juta barel per hari lebih tinggi dari permintaan. IMF meyakini bahwa hal ini melindungi ekonomi global dari lonjakan harga yang lebih parah dalam menghadapi guncangan pasokan minyak terbesar dalam lebih dari lima dekade terakhir.

Dalam catatan lembaga internasional ini disebutkan, "Namun, keberhasilan ini ada harganya. Kini, ketika cadangan-cadangan yang berperan sebagai perisai ini telah banyak terkuras, pasar akan jauh lebih rentan jika gangguan berlanjut atau meningkat kembali. Selain itu, bahkan dengan pemulihan pasokan secara bertahap, membangun kembali cadangan akan tetap membuat pasar menghadapi kelangkaan pasokan."

Menurut beberapa pakar, dampak penutupan Selat Hormuz dapat tercermin sepenuhnya di pasar minyak dengan jeda waktu sekitar dua bulan. Perkembangan terbaru yang sekali lagi menyebabkan penutupan Selat Hormuz telah menaikkan harga minyak lebih dari 10 persen.

Bagaimana Guncangan Minyak Diserap?

Sebelum dimulainya perang pada akhir Februari, sekitar 20 persen minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Menurut IMF, tiga faktor mencegah penutupan salah satu jalur perairan tersibuk di dunia ini menyebabkan kerusakan yang jauh lebih parah pada ekonomi global.

Faktor pertama adalah melambatnya pertumbuhan permintaan, terutama di Asia, di mana konsumsi minyak menurun sebagai akibat dari kenaikan harga dan peralihan ke sumber-sumber alternatif seperti batu bara dan energi terbarukan.

IMF juga menambahkan bahwa produksi minyak di luar kawasan Teluk Persia meningkat sekitar 2 juta barel per hari dibandingkan tahun 2025, yang menurut lembaga ini berasal dari peningkatan produksi di Amerika, Venezuela, Guyana, dan Rusia.

Namun, menurut lembaga internasional ini, sebagian besar guncangan pasokan dinetralkan melalui penarikan dari cadangan minyak.

Lembaga ini dalam bagian lain dari catatannya menyebutkan, "Defisit harian pasar sekitar 4 juta barel antara bulan Maret dan Mei hampir sepenuhnya ditutup melalui penarikan dari cadangan minyak global."

Cadangan Minyak "Telah Dihabiskan"

Menurut IMF, "penutupan Selat Hormuz tidak menyebabkan 'guncangan harga yang sesungguhnya', karena cadangan minyak menyerap dan mengkompensasi apa yang tidak mampu dibendung oleh pasar."

Menurut perkiraan lembaga ini, "hingga akhir Mei, volume cadangan minyak dunia mencapai sekitar 1,2 miliar barel, angka yang setara dengan setengah dari tingkat cadangan sebelum perang dimulai."

IMF menambahkan, "Namun kini bantalan ini telah terkuras. Jika gangguan pasokan berlanjut dengan intensitas yang sama, cadangan ini akan mencapai tingkat terendah pada awal tahun 2027. Sebelum mencapai titik itu pun, harga kemungkinan akan melonjak tajam, karena pasar pada dasarnya akan beroperasi tanpa katup pengaman apa pun."

Kemungkinan Lonjakan Harga Minyak hingga 150 Dolar

Menurut sejumlah analis, termasuk Vivek Dhar, ekonom dari bank Australia Commonwealth Bank, dibutuhkan sekitar 10 minggu agar dampak penurunan produksi minyak di kawasan Teluk Persia tercermin sepenuhnya di pasar global.

Ia memperingatkan bahwa "jika Selat Hormuz tetap tertutup, harga minyak dapat mencapai 150 dolar per barel pada akhir periode ini; karena hanya pada tingkat harga seperti itulah permintaan di Asia akan turun cukup untuk menyelaraskan dengan penurunan pasokan."

Menurutnya, "kini pasar memiliki lebih banyak alasan untuk memperhitungkan skenario ini dalam harga. Jika situasi saat ini berlanjut, harga minyak mentah Brent mungkin mencapai sekitar 100 dolar per barel dalam 10 hari ke depan."

Namun, para analis Rabobank tidak mengubah proyeksi mereka dan masih memperkirakan rata-rata harga minyak antara bulan Juli hingga September sekitar 80 dolar dan pada akhir tahun sekitar 78 dolar per barel.

Bank ini dalam pembaruan proyeksinya mengklaim, "Respons awal pasar minyak yang relatif terbatas terhadap dimulainya kembali konflik di Teluk Persia menunjukkan bahwa guncangan pasokan, setidaknya dalam jangka pendek, masih dapat dikendalikan. Faktor-faktor seperti cadangan minyak, penurunan impor minyak Tiongkok, dan penggunaan jalur pasokan alternatif telah membantu pasar."

Namun, bank ini memperingatkan bahwa "kondisi ini telah menciptakan semacam optimisme geopolitik. Namun, kami tidak menganggap situasi ini berkelanjutan dalam jangka panjang."

Investor Lebih Cemas dari Sebelumnya

Kieran Tompkins, ekonom pasar komoditas senior di lembaga Capital Economics, mengatakan bahwa investor sejak awal memperkirakan harga minyak akan naik sampai batas tertentu.

Lembaga ini telah meninjau persepsi investor terhadap tren harga minyak dalam tiga bulan ke depan, dan menurut Tompkins, "kesimpulan utamanya adalah bahwa investor dengan cepat memperhitungkan kemungkinan gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak global. Investor kini jauh lebih tidak pasti tentang skenario harga minyak yang paling mungkin terjadi."

Ia menambahkan, "Karena tingkat cadangan minyak global kini jauh lebih dekat ke 'titik kritis' dibandingkan beberapa bulan lalu, pasar tidak memiliki ruang—atau lebih tepatnya, kemampuan, untuk mengendalikan gangguan pasokan jangka panjang, dan dalam kondisi seperti itu, kemungkinan lonjakan harga yang tajam akan jauh lebih besar."(Sail)