Teori 'Rebound Lemak' pada Anak Hanya Mitos? Ilmuwan Buka Suara
-
Obesitas masa kanak-kanak
Pars Today - Penelitian baru ilmuwan Eropa menantang gagasan lama bahwa anak-anak mengalami "rebound obesitas" ketika indeks massa tubuh (BMI) mereka mulai meningkat sekitar usia 6 tahun.
Sebagaimana dilaporkan ISNA, Minggu, 2 Agustus 2026, teori berusia 42 tahun tentang mengapa BMI anak-anak menurun setelah masa bayi dan kemudian mulai meningkat secara stabil dari sekitar usia 6 tahun, telah lama digambarkan sebagai fenomena "rebound lemak". Berdasarkan gagasan ini, lemak tubuh pertama-tama menurun dan kemudian kembali lagi.
Mengutip Science Daily, sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh Profesor Andrew Agbaje, dokter dan dosen epidemiologi klinis dan kesehatan anak di Universitas Finlandia Timur, menunjukkan bahwa peningkatan BMI selanjutnya tidak disebabkan oleh peningkatan kembali lemak. Sebaliknya, hal itu mungkin sebagian besar mencerminkan pertumbuhan otot normal dan jaringan tanpa lemak lainnya.
Mempertanyakan keberadaan fenomena "rebound lemak" dapat memiliki implikasi penting bagi perawatan kesehatan anak. Sejak teori ini diperkenalkan, beberapa dokter, termasuk dokter spesialis anak, menganggapnya sebagai tanda peringatan yang bermakna yang dapat dicegah atau diperbaiki melalui diet dan perubahan gaya hidup.
Jika peningkatan BMI sebenarnya adalah hasil alami dari pertumbuhan otot, maka upaya untuk menghentikannya mungkin hanya membahas masalah yang tidak ada.
Konsep ini berawal pada tahun 1984, ketika Marie Françoise Rolland-Cachera, peneliti Prancis, dan rekan-rekannya, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition, mendeskripsikan rebound lemak.
Para peneliti melaporkan adanya hubungan antara usia saat BMI anak mulai meningkat kembali dan obesitas anak pada usia 16 tahun. Peningkatan dini (sebelum 5,5 tahun) dikaitkan dengan obesitas yang lebih besar di akhir masa remaja dibandingkan dengan peningkatan setelah usia tujuh tahun. Beberapa penelitian selanjutnya juga melaporkan hubungan serupa.
BMI masa kanak-kanak biasanya mengikuti pola yang dapat dikenali. BMI meningkat pesat selama masa bayi, mencapai puncaknya sekitar usia satu tahun. Kemudian, secara bertahap menurun, mencapai titik terendah sekitar usia empat tahun, dan kemudian mulai meningkat lagi.
Seorang anak pada usia 6 tahun biasanya kembali ke BMI yang tercatat pada usia 2 tahun. Pola ini terjadi pada populasi anak secara keseluruhan dan dikenal sebagai rebound.
Para peneliti sering berfokus pada waktu penurunan dan peningkatan BMI selanjutnya. Mereka menyatakan bahwa anak-anak yang BMI-nya mulai meningkat pada usia lebih muda mungkin mencapai BMI yang lebih tinggi di usia yang lebih tua dan menghadapi risiko obesitas yang lebih tinggi berdasarkan BMI.
Teori ini sebagian didasarkan pada model statistik yang menunjukkan bahwa ketika BMI mencapai titik terendah lebih awal, ia juga mulai meningkat lebih awal, dan kemungkinan menyebabkan BMI yang lebih tinggi di masa kanak-kanak akhir atau remaja.
Argumen Agbaje adalah bahwa pola BMI tidak boleh dibandingkan dengan transisi biologis besar seperti pubertas.
Pubertas terjadi pada hampir setiap anak yang mencapai usia dewasa, tetapi pubertas dini yang tidak biasa dikaitkan dengan risiko kesehatan yang didukung oleh mekanisme biologis yang diketahui. Menurut Agbaje, tidak ada penjelasan biologis yang sebanding yang mendukung gagasan bahwa rebound lemak dini menyebabkan obesitas di kemudian hari.
Pubertas adalah momen yang menentukan dalam biologi manusia yang mengubah seluruh tubuh, tetapi rebound obesitas tidak seperti itu. Rebound obesitas adalah proses pertumbuhan normal yang tidak bergantung pada masalah apa pun, baik rebound dini maupun lambat. Oleh karena itu, hubungan sebelumnya antara rebound lemak dini berdasarkan BMI dengan obesitas di kemudian hari adalah analisis yang menyesatkan. Korelasi statistik positif tidak selalu sama dengan kemungkinan biologis.
Para peneliti selama beberapa dekade terakhir juga telah melakukan uji klinis dengan tujuan mempengaruhi waktu rebound yang mungkin terjadi. Agbaje percaya bahwa hasil penelitian mereka memberikan lebih banyak bukti bahwa pola ini adalah bagian tetap dari pertumbuhan normal, bukan proses penyakit.
Ia menambahkan, "Analisis baru kami menunjukkan bahwa fenomena rebound lemak bukanlah masalah obesitas, melainkan peningkatan massa otot, dan itu adalah hal yang baik untuk pertumbuhan yang sehat dan normal. Tidak perlu intervensi klinis untuk mengatasi masalah yang tidak nyata pada anak-anak. Mari kita biarkan anak-anak tumbuh dengan tenang."(Sail)