Tehran Menentukan, Washington Menunggu
https://parstoday.ir/id/news/world-i194714-tehran_menentukan_washington_menunggu
Pars Today - Sebuah media Inggris menggambarkan kebijakan luar negeri pemerintahan AS terhadap Iran sebagai "pertunjukan dan gertakan" yang lahir dari "khayalan", dan menulis, "Barack Obama menghabiskan 20 bulan untuk mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, sementara Donald Trump yang berharap dapat mendiktekan syarat-syaratnya kepada Tehran melalui perang singkat, kini bahkan tidak mendekati pengulangan kesepakatan itu."
(last modified 2026-08-11T04:28:49+00:00 )
Aug 11, 2026 11:27 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Sebuah media Inggris menggambarkan kebijakan luar negeri pemerintahan AS terhadap Iran sebagai "pertunjukan dan gertakan" yang lahir dari "khayalan", dan menulis, "Barack Obama menghabiskan 20 bulan untuk mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, sementara Donald Trump yang berharap dapat mendiktekan syarat-syaratnya kepada Tehran melalui perang singkat, kini bahkan tidak mendekati pengulangan kesepakatan itu."

Melaporkan dari IRNA, Senin, 10 Agustus 2026, surat kabar London The Observer dalam laporannya menulis, "Perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari (9 Esfand 1404) terhadap Iran memang menimbulkan kematian dan kehancuran, tetapi tidak berhasil mengubah sistem politik yang berkuasa di Iran.

Tehran kini tampak lebih bertekad dari sebelumnya untuk mempertahankan kekuasaannya. Selat Hormuz telah diblokade; harga minyak dan pangan melonjak di seluruh dunia. Persediaan rudal pencegat AS terkuras, sehingga tidak banyak lagi yang tersisa untuk Ukraina, Moldova, Taiwan, atau wilayah lain yang ingin membelinya.

Washington salah menilai lawannya, menghancurkan kredibilitas internasionalnya (jika memang pernah memilikinya), dan Tehran yang menguasai Selat Hormuz kini memiliki senjata strategis yang lebih kuat dari apa pun yang bisa ia letakkan di atas rudal.

Menurut penghitungan CNN, Donald Trump, Presiden AS, telah 38 kali mengklaim bahwa ia hampir mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi setiap kali ia keliru. Ia juga tujuh kali, menurut pengakuannya sendiri, membatalkan serangan besar-besaran yang telah direncanakan terhadap Iran pada menit-menit terakhir, dengan harapan akhirnya sebuah kesepakatan akan ditandatangani. Para pembantu dan pejabat tinggi pemerintahannya pun telah mempermalukan diri mereka sendiri.

Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, Selasa pekan lalu mengklaim bahwa Washington sedang bernegosiasi dengan Iran dan kesepakatan mungkin akan tercapai dalam hitungan jam. Iran menanggapi dengan menegaskan bahwa satu-satunya negosiasi yang sedang berlangsung adalah dengan Oman. Trump mengatakan tentang Iran, "Mereka hanya membuat saya marah". Namun kenyataannya, ia justru memperkuat tekad dan semangat mereka.

Mengevaluasi kebijakan luar negeri Trump hampir mustahil. Kebijakan ini terus berubah, lebih merupakan pertunjukan dan gertakan daripada kebijakan nyata, dan lebih lahir dari kegagalan, keputusasaan, dan khayalan daripada berpijak pada kenyataan.

Trump bersama Tel Aviv berupaya mencapai tujuannya dengan memanfaatkan protes domestik yang dipicu oleh latar belakang masalah ekonomi di Iran pada Januari tahun ini [dan jelas mereka gagal dalam upaya ini.] Metode pilihannya, pemboman udara, juga gagal, persis seperti yang telah diperingatkan kepadanya.

Serangan ini mengakibatkan tewasnya ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, tetapi apa yang disebut sebagai ancaman rudal Iran tetap tidak tersentuh. Kekacauan yang ditimbulkan oleh serangan ini merugikan negara-negara tetangga Iran, meskipun Iran juga terkena dampaknya.

Namun demikian, Trump-lah yang lebih dari siapa pun dan dengan segera memerlukan kajian realistis atas situasi. Ia berharap perang singkat akan menjadikannya presiden AS pertama sejak 1979 yang mampu mendiktekan syarat-syaratnya kepada Iran. Namun justru sebaliknya, kini Iran-lah yang menentukan dan mendiktekan kondisi kepada Washington. Mengingat pemilihan paruh waktu Kongres AS semakin dekat, harapan terbaik Washington hanyalah dibukanya kembali Selat Hormuz dan kembalinya keadaan seperti 27 Februari [dalam hal perdagangan dan tentu saja harga minyak].

Di akhir tulisan ini disebutkan, Barack Obama menunjukkan apa yang berhasil. Ia menghabiskan 20 bulan untuk mencapai kesepakatan nuklir Iran pada 2015 (JCPOA). Selama masa itu, tidak ada seorang pun yang kehilangan nyawa, tidak ada rudal yang ditembakkan, tidak ada jalur perdagangan yang ditutup, dan tidak ada biaya lintas yang dikenakan untuk kapal-kapal. Inilah tepatnya kesepakatan yang dihina Trump, dihancurkannya, dan kini ia bahkan tidak bisa mendekati pengulangannya.(Sail)