AS Putus Asa: Dari Kegagalan Agresi Militer hingga Ekonomi terhadap Iran
Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat, kembali melontarkan pernyataan bernada intimidatif dengan mengancam negara-negara di dunia terkait kerja sama mereka dengan Iran dan mengatakan bahwa tidak seorang pun boleh mendukung Teheran.
Scott Bessent dalam wawancara dengan Fox News pada 2 September mengenai sanksi terhadap Iran mengatakan bahwa pesannya kepada semua pihak adalah agar menjauh dari Iran dan tidak seorang pun boleh mendukung negara tersebut. Ia mengklaim bahwa target potensial sanksi dapat mencakup “perusahaan penerbangan, perusahaan pelayaran, dan aset digital”. Bessent juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “berdialog dengan siapa pun yang membantu Iran”.
Langkah terbaru pemerintah Amerika Serikat dalam memperketat perang ekonomi terhadap Iran, yang disertai retorika intimidatif Menteri Keuangan Scott Bessent berupa ancaman terhadap segala bentuk kerja sama dengan Teheran, tidak hanya menunjukkan kedalaman keputusasaan strategis Washington, tetapi juga secara jelas berakar pada kegagalan besar negara tersebut dalam konfrontasi militer dengan Republik Islam Iran. Apa yang diluncurkan dengan nama “Operation Economic Outcast” dan slogan “mencekik ekonomi” Iran pada kenyataannya merupakan upaya untuk menutupi kegagalan di medan perang dan mencapai tujuan yang tidak mampu diwujudkan melalui intimidasi militer.
Ketidakpedulian kekuatan-kekuatan yang menjadi rival Barat, yakni China dan Rusia, terhadap ancaman tersebut serta penolakan mereka untuk mengikuti skenario sanksi baru Amerika Serikat berakar pada kalkulasi geopolitik dan ekonomi yang mendalam, yang melampaui kehendak Washington. Pernyataan terbaru para pejabat Iran juga menegaskan bahwa China dan Rusia tidak hanya menolak langkah-langkah tersebut, tetapi negara-negara lain diperkirakan juga akan menentang intimidasi ekonomi tersebut. Sikap ini menghadapkan peta strategis Washington untuk mengisolasi Iran secara ekonomi sepenuhnya pada tantangan serius.
Faktor pertama dan terpenting yang membuat China mampu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat adalah kepentingan ekonomi vitalnya. Beijing telah menunjukkan dengan jelas bahwa ketika kepentingan ekonomi nasionalnya bertentangan dengan sanksi sepihak Amerika Serikat, China akan secara serius mempertahankan kepentingannya. Data menunjukkan bahwa pada 2025, China membeli lebih dari 80 persen minyak yang diekspor Iran. Pada tahun ini, China juga rata-rata menerima sekitar 1,2 juta barel minyak per hari dari Iran, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Saling ketergantungan ekonomi ini merupakan garis merah yang tidak akan dibiarkan Beijing dilampaui Washington.
Selain itu, struktur kilang “Teapot Refinery” di China, yang sebagian besar merupakan kilang independen dan swasta dengan ketergantungan yang rendah terhadap sistem keuangan Amerika Serikat, telah menyediakan sarana efektif untuk menghindari sanksi dan membuat Washington kesulitan memberikan tekanan yang efektif terhadap fasilitas-fasilitas tersebut. Kilang teapot China merupakan pembeli terbesar minyak Iran yang terkena sanksi, dan sebagian besar ekspor minyak Iran disalurkan ke kilang-kilang independen tersebut.
Di sisi lain, Rusia juga, karena alasan strategis dan struktural, tidak merasa berkewajiban untuk mengikuti perintah Amerika Serikat. Moskwa, yang selama bertahun-tahun telah menjadi sasaran sanksi luas Washington, pada praktiknya beroperasi di luar sistem ekonomi yang dipimpin Amerika Serikat. Kondisi ini telah membuat instrumen tekanan Washington terhadap Rusia tidak efektif. Perjanjian strategis 20 tahun yang ditandatangani Rusia dan Iran pada 2025 serta kerja sama luas di bidang militer dan ekonomi menunjukkan tekad serius Kremlin untuk memperkuat poros perlawanan terhadap hegemoni Amerika Serikat. Moskwa secara tegas menyebut langkah-langkah tersebut sebagai “tekanan ilegal” dan menolak penggunaan sanksi sebagai alat untuk menekan negara-negara lain.
Memahami sikap tidak peduli tersebut tanpa memperhatikan konteks kemunculannya, yakni kegagalan strategis Amerika Serikat dalam perang militer melawan Iran, akan menjadi analisis yang tidak lengkap. Setelah berbulan-bulan konflik serta menanggung biaya finansial dan kemanusiaan yang besar, Washington sampai pada kesimpulan bahwa opsi militer tidak hanya gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, tetapi juga membebankan biaya besar terhadap perekonomian dan kredibilitas internasional Amerika Serikat. Beralih ke perang ekonomi habis-habisan pada hakikatnya merupakan pengakuan terselubung atas ketidakmampuan di bidang militer dan upaya untuk mencapai melalui tekanan ekonomi apa yang gagal diperoleh di medan perang. Retorika Bessent mengenai “mencekik ekonomi” dan “isolasi total” Iran, alih-alih menunjukkan kekuatan, justru lebih mencerminkan ketidakberdayaan dan keputusasaan terhadap efektivitas instrumen militer.
Pada saat yang sama, perang ekonomi baru Amerika Serikat juga menghadapi hambatan struktural yang sangat besar sehingga pencapaian tujuannya menjadi sangat diragukan. Amerika Serikat tidak lagi memiliki hegemoni ekonomi monopolistik seperti sebelumnya, dan upaya menerapkan sanksi sepihak serta sanksi sekunder dalam kondisi saat ini menghadapi banyak risiko. Setiap sanksi baru terhadap entitas-entitas China meningkatkan risiko munculnya konflik ekonomi yang lebih luas antara Amerika Serikat dan China, sebuah risiko yang tidak ingin diambil Washington. Demikian pula, upaya menekan China dan Rusia, mengingat posisi khusus kedua negara tersebut, akan “sangat sulit” dilakukan dan menempatkan Washington dalam kebuntuan strategis, karena tidak memiliki kemampuan untuk mundur maupun peluang untuk bergerak maju secara efektif.
Tampaknya, apa yang terlihat dalam langkah-langkah reaktif terbaru Amerika Serikat terhadap Iran bukanlah unjuk kekuatan, melainkan cerminan kemunduran hegemoni dan kegagalan strategis negara tersebut dalam menghadapi Iran. Ketidakpedulian negara-negara seperti China dan Rusia terhadap ancaman intimidatif para pejabat Washington menunjukkan perubahan dalam konstelasi kekuatan sistem internasional dan berakhirnya era unilateralisme. Dengan mengandalkan realitas geopolitik tersebut serta memanfaatkan perpecahan yang ada dalam konsensus internasional terhadap Iran, Iran dapat melewati perang ekonomi ini dengan penuh keyakinan dan sekali lagi membuktikan bahwa tuntutan berlebihan dan intimidasi tidak akan pernah membawa Amerika Serikat mencapai tujuannya.